Abdi Dalem Gunungkidul Didorong Jadi Teladan Pelestari Budaya Jawa

GUNUNGKIDUL — Pembinaan abdi dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang berdomisili di wilayah Gunungkidul digelar di Pendopo Joglo Kang Tedjo, Bandung, Playen, Sabtu (21/7/2025). Kegiatan ini diikuti sekitar 60 abdi dalem dengan menghadirkan narasumber KRT Wijoyo Pamungkas.

Dalam keterangannya kepada awak media, KRT Wijoyo Pamungkas menegaskan pentingnya membangkitkan semangat pelestarian budaya Jawa, khususnya di wilayah Gunungkidul. Ia menyoroti masih minimnya gerakan budaya yang mengakar di masyarakat sehingga pembinaan menjadi langkah strategis untuk memperkuat peran abdi dalem.

“Abdi dalem memiliki tanggung jawab sosial dan budaya. Mereka harus menjadi contoh bagi masyarakat dalam hal budi pekerti, sopan santun, dan pelestarian nilai-nilai Jawa,” ujar Wijoyo Pamungkas.

Pada kesempatan itu, ia juga menyampaikan empat sifat utama watak Satrio, yaitu ngawiji, greget, senguh, dan tan keno mingkuh. Ngawiji berarti mampu membaur dan menjadi teladan di masyarakat, sedangkan greget menggambarkan semangat dan daya juang dalam mendukung program pemerintahan.

“Dengan memiliki keempat sifat ini, abdi dalem diharapkan tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menginspirasi generasi muda agar tetap mencintai budaya Jawa,” tambahnya.

Kepala Dinas Kebudayaan Gunungkidul, Agus Mantara, dalam kegiatan ini turut membacakan sambutan Bupati Gunungkidul. Dalam sambutan tersebut, Bupati menekankan pentingnya budaya sebagai fondasi membangun masyarakat yang beradab.

“Paguyuban abdi dalem diharapkan menjadi garda terdepan dalam menjaga dan menghidupkan budaya Jawa,” demikian isi sambutan bupati.

Bupati juga menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak bisa dilepaskan dari pendidikan dan keteladanan. Oleh karenanya, para sesepuh dan pemimpin adat diminta tampil sebagai panutan dalam kehidupan sosial.

Visi Bupati Gunungkidul, yaitu “Gunungkidul Raya yang Adil, Sejahtera, Berkelanjutan, dan Beradab” juga ditegaskan kembali dalam kegiatan ini. Melalui pembinaan budaya, masyarakat diharapkan semakin kuat, bersatu, dan tidak tercerai-berai dalam menjaga warisan leluhur.

Kegiatan ditutup dengan ajakan untuk memanjatkan doa agar seluruh upaya pelestarian budaya ini senantiasa mendapat ridho dari Tuhan Yang Maha Esa.


Mungkas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *