Gunungkidul

Pembinaan Abdi Dalem Keprajan di Wilayah Kabupaten Gunungkidul

40
×

Pembinaan Abdi Dalem Keprajan di Wilayah Kabupaten Gunungkidul

Sebarkan artikel ini

Gunungkidul – Abdi Dalem Keprajan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang berada di wilayah kabupaten Gunungkidul pada hari sabtu 16 Mei 2026 di balai Budaya Karangrejek menerima pembinaan khusus dari Kanjeng Raden Tumenggung Candra Prawiro Yudho yang membahas dua materi pokok tentang tata busana Jawa sesuai tata krama kraton dan sejarah berdirinya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman abdi dalem terhadap nilai-nilai budaya dan jati diri lembaga kraton agar pengabdian yang dilakukan selaras dengan adat istiadat yang berlaku.

Dalam sesi pertama, KRT Candra Prawiro Yudho menjelaskan secara rinci tentang jenis-jenis busana Jawa yang digunakan di lingkungan kraton, mulai dari peranakan, surjan, kain jarik batik, hingga tata cara pemakaian jarik batik, blangkon dan aksesorisnya. Ia menekankan bahwa setiap unsur busana memiliki makna filosofis dan tingkatan yang berbeda sesuai dengan pangkat serta peran abdi dalem. “Busana bukan sekadar pakaian, tetapi identitas dan cerminan tata krama. Ketidaksesuaian dalam berbusana dapat mengurangi wibawa lembaga,” tuturnya di hadapan para peserta pembinaan.

Materi kedua menyoroti sejarah berdirinya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada tahun 1755 pasca Perjanjian Giyanti. KRT Candra Prawiro Yudho menguraikan perjalanan Sultan Hamengku Buwono I dalam mendirikan pusat pemerintahan baru sebagai kelanjutan Mataram Islam, serta nilai-nilai filosofi _hamemayu hayuning bawana_ yang menjadi dasar pembangunan kraton. Pemahaman sejarah ini dianggap penting agar abdi dalem tidak hanya menjalankan tugas secara administratif, tetapi juga memahami tanggung jawab kultural dan spiritual yang diemban.

Kegiatan pembinaan ini merupakan bagian dari upaya pelestarian dan pewarisan nilai-nilai luhur kraton kepada generasi abdi dalem saat ini. Para peserta menyambut positif materi yang disampaikan karena dinilai memperkaya wawasan sekaligus memperkuat rasa memiliki terhadap lembaga. Diharapkan, pembinaan serupa dapat terus dilakukan secara berkala agar tradisi dan tata krama kraton tetap hidup dan diwariskan dengan benar. (Mungkas M)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *