banner 325x300
banner 325x300
Gunungkidul

Sosialisasi Produk Obat dan Makanan oleh BPOM Bersama Sukamto SH Anggota DPR RI

329
×

Sosialisasi Produk Obat dan Makanan oleh BPOM Bersama Sukamto SH Anggota DPR RI

Sebarkan artikel ini

Gunungkidul – Sosialisasi yang berisi komunikasi dan informasi dan edukasi obat dan makanan dengan tokoh masyarakat bersama anggota DPR RI komisi IX H. Sukamto, SH bekerjasama dengan Badan POM dilaksanakan di balai kalurahan Oro-oro kapanewon Patuk pada 20/7/2024.

Saat diwawancarai oleh awak media H. Sukamto, SH menjelaskan acara KIE bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap keamanan, manfaat dan mutu produk obat dan makanan. Salah satu bentuk edukasi langsung kepada masyarakat, bekerjasama dengan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (POM) Yogyakarta memberikan penjelasan mengenai seluk beluk obat-obatan, makanan maupun kosmetik.

“Orang hebat apapun kalau salah makan, minum obat maka akan menjadi masalah besar, sosialisasi ini di tujukan pada masyarakat desa yang kurang menguasai pengetahuan tentang aturan kesehatan terkadang mereka tergiur dengan promo melalui media radio, tv dan hp” Kata Sukamto

Kemudian Dra. Diah Tjahjonowati, Apt M.Si sebagai narasumber acara tersebut menjelaskan contoh-contoh makanan berbahaya bagi kesehatan, obat-obatan maupun kosmetik yang mengandung bahan-bahan kimia berbahaya seperti mengandung formalin, boraks dan rhodamin. Tujuannya supaya masyarakat sosialisasi bisa mengenalinya dan tidak mengkonsumsinya. Keamanan obat dan makanan sangat penting sebagai upaya untuk melindungi masyarakat.

Mengenali jenis-jenis obat bisa diawali dari kemasannya. Disebutkan, ada obat bebas dengan simbol lingkaran hijau yang bisa dibeli di mana saja.

Kemudian, obat bebas terbatas dengan simbol biru. Selanjutnya, obat keras dengan simbol lingkaran merah dengan huruf K adalah obat keras yang hanya bisa diperoleh dengan resep dokter.

menyarankan masyarakat sebaiknya membeli obat di tempat-tempat resmi, di antaranya di apotek karena ada apoteker yang akan memberikan penjelasan. Ini penting supaya terhindar dari obat palsu.

Selain obat, juga menjelaskan mengenai obat tradisional atau jamu. Menurut dia, jamu pun ada penggolongannya. Pertama, yang jamu yang sudah dipercaya secara turun temurun mengobati penyakit seperti beras kencur. Kedua, obat herbal berstandar (fitofarmaka) yang sudah melewati uji klinis.

Diah menambahkan, masyarakat juga perlu mengenali jenis-jenis jamu supaya terhindar dari jamu tradisional berbahaya yang dibuat dengan tambahan obat kimia.

Dari hasil temuan Badan POM terdapat jamu dan obat tradisional kemasan yang ditambahkan dengan bahan-bahan seperti parasetamol, asam mefenamat atau ibuprofen.Obat jenis itu merusak ginjal karena dosisnya tidak ditakar, ditambah lagi cara membuatnya seperti bikin adonan kemudian bahan-bahan itu ditambahkan begitu saja tanpa melalui uji klinis. (Mungkas Mulyono)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 325x300