banner 325x300
banner 325x300
Kota MetroOpini

Ketika Layar Mencuri Kehidupan: Krisis Screen Time, Generasi Digital, dan Hilangnya Ketenangan Jiwa

57
×

Ketika Layar Mencuri Kehidupan: Krisis Screen Time, Generasi Digital, dan Hilangnya Ketenangan Jiwa

Sebarkan artikel ini

Oleh : Nurhidayah ( Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Jurai Siwo Lampung)

‎Menjelang akhir tahun 2025, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menyampaikan sebuah peringatan yang semestinya menggugah kesadaran publik. Rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari 7,5 jam setiap hari di depan layar, jauh melampaui batas aman yang direkomendasikan berbagai lembaga kesehatan dunia.¹ Angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan cerminan tentang bagaimana manusia modern mengalokasikan waktunya—dan, pada akhirnya, bagaimana ia menjalani kehidupannya.


Yang lebih mengkhawatirkan, fenomena ini tidak lagi didominasi oleh kelompok usia dewasa. Survei Asosiasi
‎Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025 menunjukkan bahwa 23,19% pengguna internet di Indonesia berasal dari Generasi Alpha, yaitu anak-anak yang lahir sejak tahun 2013.² Fakta tersebut menunjukkan bahwa interaksi dengan teknologi digital kini dimulai sejak usia yang sangat dini. Bahkan, tidak sedikit balita yang telah akrab dengan layar gawai sebelum mampu membaca ataupun menulis.


Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui Teori Kultivasi (Cultivation Theory) yang dikemukakan George Gerbner. Menurut teori ini, paparan media yang berlangsung secara terus-menerus akan membentuk cara individu memahami realitas sosiaal.³ Ketika anak menghabiskan sebagian besar waktunya bersama layar, maka dunia digital perlahan menjadi “realitas pertama” yang dikenalnya, bahkan sebelum ia memahami dunia nyata secara utuh.


Indonesia sendiri berada pada posisi yang paradoks. Di satu sisi, negara ini merupakan salah satu pasar digital terbesar di dunia dengan jumlah pengguna smartphone terbanyak keempat secara global. Namun, di sisi lain, Indonesia juga pernah menjadi negara dengan durasi penggunaan telepon pintar terlama di dunia. Prestasi semacam ini sesungguhnya bukan sesuatu yang layak dirayakan, melainkan alarm mengenai semakin tingginya ketergantungan masyarakat terhadap teknologi digital.

‎Ketika Layar Berubah Menjadi Tempat Pelarian

‎Salah satu manifestasi dari ketergantungan digital tersebut adalah fenomena doomscrolling, yakni perilaku menggulir media sosial secara kompulsif untuk terus mengonsumsi informasi, terutama konten yang bernuansa negatif. Perilaku ini muncul karena adanya negativity bias, yaitu kecenderungan alami otak manusia untuk lebih cepat menangkap dan mengingat informasi yang bersifat mengancam dibandingkan informasi positif.⁴

‎Ironisnya, mekanisme biologis yang pada masa lampau berfungsi sebagai sistem pertahanan diri kini justru dimanfaatkan oleh algoritma media sosial. Semakin lama seseorang bertahan membaca berita buruk, konflik, atau kontroversi, semakin besar pula peluang platform digital memperoleh perhatian (attention economy) yang pada akhirnya dikonversi menjadi keuntungan ekonomi.

‎Fenomena tersebut selaras dengan Uses and Gratifications Theory yang dikembangkan Elihu Katz dan Jay Blumler. Berbeda dengan pandangan bahwa audiens bersifat pasif, teori ini menjelaskan bahwa individu secara aktif memilih media untuk memenuhi berbagai kebutuhan, mulai dari memperoleh informasi, hiburan, hingga pelarian dari tekanan psikologis.⁵


Persoalannya, ketika media sosial menjadi ruang pelarian utama dari kecemasan, kebosanan, maupun kesepian, maka ia perlahan berubah menjadi sumber kecemasan baru.
‎Akibatnya, muncul fenomena yang semakin lazim dialami generasi muda, yakni Fear of Missing Out (FoMO).

‎Individu merasa harus terus terhubung dengan media sosial karena takut tertinggal informasi, tren, maupun aktivitas orang lain. Kondisi ini menciptakan siklus tanpa akhir: semakin sering membuka media sosial, semakin tinggi kecemasan yang dirasakan; semakin cemas, semakin besar pula dorongan untuk kembali membuka media sosial.

‎Krisis yang Tidak Hanya Bersifat Psikologis

‎Persoalan screen time sesungguhnya tidak berhenti pada aspek kesehatan mental. Dalam perspektif Islam, krisis ini juga menyentuh dimensi spiritual manusia.

‎Allah Swt. berfirman:
‎”Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
‎Ayat tersebut mengandung pesan mendasar bahwa ketenangan sejati tidak bersumber dari rangsangan eksternal, melainkan dari kedekatan spiritual dengan Sang Pencipta. Namun, realitas hari ini justru menunjukkan kecenderungan yang sebaliknya.


Berjam-jam waktu dihabiskan untuk mencari ketenangan melalui feeds, reels, notifikasi, dan komentar yang tidak pernah berhenti mengalir. Yang diperoleh bukanlah kedamaian, melainkan kelelahan mental (digital fatigue), kecemasan sosial, serta kekosongan emosional yang sering kali disembunyikan di balik aktivitas daring.
‎Islam tidak pernah menolak perkembangan teknologi.


Sebaliknya, Islam mendorong umatnya untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sarana kemaslahatan. Akan tetapi, Islam juga menempatkan mīzān (keseimbangan) sebagai prinsip fundamental kehidupan. Teknologi seharusnya menjadi alat yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya, bukan justru menjadi sesuatu yang menguasai manusia.

‎Ketika waktu yang semestinya digunakan untuk belajar, membaca, berdiskusi, berinteraksi dengan keluarga, ataupun berzikir tergantikan oleh aktivitas menggulir layar tanpa arah, sesungguhnya telah terjadi pergeseran orientasi hidup. Kita tidak lagi mengendalikan teknologi, melainkan perlahan dikendalikan olehnya.

‎Menemukan Kembali Kendali atas Waktu
‎Krisis screen time bukanlah persoalan tanpa solusi. Berbagai penelitian psikologi menyarankan langkah-langkah sederhana namun efektif, seperti mengenali pemicu kebiasaan membuka media sosial, menetapkan batas waktu penggunaan gawai melalui fitur screen time, mematikan notifikasi yang tidak penting, serta mengganti waktu layar dengan aktivitas nyata seperti membaca buku, berolahraga, atau membangun interaksi sosial secara langsung.⁶

‎Saya sendiri pernah berada dalam fase ketika telepon genggam menjadi benda pertama yang saya lihat setiap pagi dan yang terakhir saya pegang sebelum tidur. Alih-alih memperoleh ketenangan, yang saya rasakan justru penurunan produktivitas, berkurangnya konsentrasi, serta semakin sulit menikmati aktivitas di dunia nyata.

‎Perubahan ternyata tidak harus dimulai dari langkah besar. Saya mulai membatasi penggunaan ponsel pada jam-jam tertentu, lebih memilih berbincang dengan teman dan kakak tingkat dibanding terus menggulir media sosial, kembali membiasakan membaca buku, mengikuti majelis ilmu, mengaji, dan aktif berdiskusi dalam organisasi mahasiswa. Perlahan, kejernihan berpikir yang sempat hilang mulai kembali.
‎Pengalaman tersebut mengajarkan bahwa solusi atas krisis screen time bukan semata-mata mengurangi durasi penggunaan layar, tetapi mengembalikan makna pada waktu yang berhasil kita selamatkan.

‎Bagi mahasiswa, terutama mahasiswa Muslim, ruang-ruang itu sesungguhnya telah tersedia: majelis ilmu, diskusi akademik, silaturahmi, membaca Al-Qur’an, dan zikir. Mungkin perubahan dapat dimulai dari kebiasaan yang paling sederhana—meletakkan telepon genggam satu jam sebelum tidur, lalu menggantinya dengan membaca Al-Qur’an atau berzikir.

‎Sebab, pada akhirnya, ketenangan batin bukanlah sesuatu yang dapat diperoleh melalui algoritma ataupun diunduh dari toko aplikasi. Ia hanya hadir ketika manusia kembali menemukan keseimbangan antara teknologi, akal, dan jiwanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 325x300