Tamiang Layang – Bagian 1, Rabu, 29 Oktober 2025
A. Basis-Basis Islam Di Kabupaten Barito Timur
1. Magantis
Magantis adalah salah satu desa di Kecamatan Dusun Timur Kabupaten Barito Timur. Berbeda dengan desa lainnya di Kabupaten Barito Timur yang berpenduduk etnik Dayak Maanyan, penduduk Desa Magantis berpenduduk etnik Bakumpai dan seratus persen beragama Islam.
Desa Magantis berbatasan dengan beberapa desa lain. Disebelah utara berbatasan dengan Desa Serapat, disebelah timur berbatasan dengan Desa Mangkarap dan Desa Dorong, disebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Benua Lima dan disebelah barat berbatasan dengan Desa Pulau Patai.
a. Masuknya Islam Di Magantis
Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa narasumber dan studi dokumen, bahwa tidak dapat dipastikan kapan Islam masuk ke Magantis atau tahun masuknya Islam di Magantis tidak diketahui secara pasti, namun ada bukti-bukti peninggalan-peninggalan seperti makam dan bangunan Masjid yang akan diperlihatkan dalam kajian ini.
Masuknya Islam di Magantis dilalui melalui beberapa proses alami mengiringi perjalanan masyarakat waktu itu. Beberapa proses dimaksud dapat dilihat dalam uraian berikut ini.
1) Perjalanan Orang-Orang Dayak Bakumpai
Adanya Islam di Magantis dipastikan tidak terlepas dari keberadaan orang-orang dari Marabahan yang dikenal dengan Suku Dayak Bakumpai. Suku ini sejak Tahun 1250 M atau ada pendapat lain 1475 – 1500 M sudah mengenal Islam melalui Sunan Giri dan Sunang Bonang yang datang menyebarkan Islam ke Banjarmasin yang diawali dengan Suku Dayak Bakumpai di Marabahan.
Menurut catatan dokumen yang terhimpun, bahwa sekitar Tahun 1600 M telah terjadi peperangan antara Suku Dayak Bakumpai dengan Belanda. Namun karena kalah kuat dan kalah senjata, akhirnya orang-orang Suku Dayak Bakumpai pun tidak dapat mempertahankan diri. Belandapun semakin gencar melakukan penyerangan bahkan menangkap orang-orang Suku Dayak Bakumpai dengan berbagai tujuan seperti yang terjadi selama masa penjajahan.
Berawal dari kekalahan dengan Belanda ini, akhirnya orang-orang Suku Dayak Bakumpai pun menghindar dari kejaran Belanda dan berupaya untuk mengamankan diri beserta keluarga. Mereka secara berkelompok menyusuri Sungai Barito jauh kepedalaman-pedalaman menghindari kejaran Belanda.
Dalam perjalanan ini, ada sekelompok kecil dari Suku Dayak Bakumpai Marabahan yang berjumlah kurang lebih 10 keluarga menyusuri Sungai Barito. Kemudian mereka masuk ke Sungai di Desa Kelanis sampai Sungai Simpang Tiga yang disebut juga Sungai Muara Patai. Jika dari Sungai Muara Patai ini ke arah kiri maka masuk ke Sungai Napu, tetapi jika tetap lurus dari Muara Patai berarti posisinya tetap berada di Sungai Muara Patai tersebut.
Sepuluh keluarga tersebut tetap lurus menyusuri Sungai Muara Patai hingga tiba disuatu tempat yang sungainya lebih dalam dari lainnya. Merekapun berhenti disini dan kemudian tempat ini disebut Lubuk Balai dan tempat ini berada dikawasan di kawasan Desa Pula Patai saat ini. Berdasarkan informasi yang diterima, nama Desa Pulau Patai saat ini belum ada (Bersambung…)
Pewarta : Yandi
Tulisan ini disadur sepenuhnya dari Buku “Jejak Islam Di Barito Timur”, yang diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta, ISBN Nomor 978-623-236-478-3. Buku ini di Prakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Barito Timur Tahun 2024 dan melibatkan cendikiawan muslim dari UIN Palangkaraya sebagai peneliti ahli. Tidak salah kiranya media turut berperan menyebarluaskan materi buku ini agar cepat tersampaikan, baik untuk masyarakat Barito Timur khususnya maupun masyarakat Indonesia umumnya. Keseluruhan buku ini sebanyak 238 halaman, sementara tulisan ini hanya memuat Bab IV, hal. 78 – 217, oleh karena itu disarankan untuk membaca buku ini seutuhnya.










