banner 325x300
banner 325x300
DaerahKutai Barat

Kilas Balik 25 Tahun Presidium Dewan Adat Kabupaten Kutai Barat

35
×

Kilas Balik 25 Tahun Presidium Dewan Adat Kabupaten Kutai Barat

Sebarkan artikel ini

KUBAR – Presidium Dewan Adat (PDA) Kabupaten Kutai Barat (Kubar) menandai Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 dengan mengenang perjalanan panjang organisasi adat tersebut sejak berdiri hingga kembali aktif pada 2025.

Riwayat singkat perjalanan PDA Kubar dibacakan Kepala Bidang Hubungan Antar Forkopimda, Paguyuban Suku dan Etnis, Selvina, dalam peringatan HUT ke-25 di Art Shop Kompleks Taman Budaya Sendawar (TBS), Kecamatan Barong Tongkok, Selasa (21/7/2026).

Dalam pemaparannya, Selvina menyampaikan bahwa cikal bakal Presidium Dewan Adat Kubar mulai dibentuk pada 1999, seiring lahirnya Kabupaten Kutai Barat sebagai daerah otonom. Pembentukan lembaga adat itu merupakan hasil kesepakatan para tokoh adat, tokoh masyarakat, dan pemerintah daerah untuk menghadirkan wadah yang mampu menjaga serta melestarikan adat, budaya, dan nilai-nilai kearifan lokal.

“Presidium Dewan Adat dibentuk sebagai pemersatu masyarakat sekaligus mitra pemerintah dalam menjaga dan mengembangkan adat istiadat, seni, budaya, serta nilai-nilai kearifan lokal,” ujar Selvina.

Pada masa awal pembentukan, Yustinus Dullah dipercaya menjadi Ketua Presidium Dewan Adat sementara untuk mempersiapkan organisasi hingga terlaksananya kongres pertama.

Tonggak sejarah berdirinya PDA Kubar terjadi pada 21 Juli 2001 melalui Kongres Presidium Dewan Adat yang digelar di Aula Paroki Kristus Raja Barong Tongkok. Dalam kongres tersebut, almarhum FV Munthi terpilih sebagai ketua definitif pertama untuk masa bakti 2001-2006.

Di bawah kepemimpinannya, Presidium Dewan Adat mulai membangun fondasi organisasi, memperkuat kelembagaan adat, serta menjalin sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Kutai Barat.

Kepemimpinan kemudian dilanjutkan Yustinus Dullah yang memimpin selama dua periode, yakni 2006-2011 dan 2011-2016. Pada masa itu, Presidium semakin aktif dalam pembinaan masyarakat adat, pelestarian seni budaya, penyelesaian sengketa melalui hukum adat, hingga memperkuat kemitraan dengan pemerintah daerah.

Selvina juga mengungkapkan bahwa pada masa Bupati Ismail Thomas, Presidium Dewan Adat memperoleh dukungan besar dari pemerintah daerah melalui pembinaan kelembagaan, fasilitasi kegiatan adat dan budaya, serta dukungan anggaran.

“Atas perhatian dan komitmen tersebut, Presidium Dewan Adat menyampaikan penghargaan dan rasa hormat yang setinggi-tingginya kepada Bapak Ismail Thomas atas kontribusinya terhadap penguatan kelembagaan adat di Kabupaten Kutai Barat,” katanya.

Namun setelah berakhirnya masa kepengurusan pada 2016, organisasi tersebut mengalami masa vakum sehingga aktivitas kelembagaan tidak lagi berjalan.

Harapan baru muncul pada 2025 saat Bupati Kutai Barat Frederick Edwin mengaktifkan kembali Presidium Dewan Adat sebagai mitra pemerintah dalam menjaga keharmonisan masyarakat dan pelestarian budaya.

Melalui musyawarah para tokoh adat, Yurang dipercaya memimpin Presidium Dewan Adat Kutai Barat masa bakti 2025-2026. Di bawah kepemimpinannya, organisasi kembali menjalankan berbagai program, mulai dari pembinaan kelembagaan adat, mediasi dan sidang adat, pelestarian seni budaya, hingga memperkuat kemitraan dengan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

Menutup riwayat singkat tersebut, Presidium Dewan Adat menyampaikan penghormatan kepada para pendahulu, khususnya almarhum FV Munthi dan Yustinus Dullah atas dedikasi mereka membangun organisasi.

Presidium Dewan Adat juga menyampaikan apresiasi kepada Bupati Frederick Edwin atas dukungan yang dinilai menjadi tonggak kebangkitan kembali lembaga adat di Kutai Barat.

Peringatan HUT ke-25 tahun ini mengusung semangat “Warisan Leluhur, Penjaga Masa Depan” serta tema “Melestarikan Adat, Mempererat Persatuan, Membangun Kutai Barat Beradat.”

RICARD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 325x300