KUBAR – Ketua KONI Kutai Barat (Kubar), Alsiyus, meninjau langsung latihan atlet Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Kubar di kawasan Gunung Es, Kampung Lakan Bilem, Kecamatan Nyuatan, Minggu (19/7/2026). Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat kesiapan atlet yang tengah menjalani Training Center (TC) menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalimantan Timur 2026.
Ketua FASI Kubar, Suwanto, mengatakan FASI membina tiga disiplin olahraga dirgantara, yakni paralayang, paramotor, dan aeromodelling. Untuk Porprov 2026, Kubar menyiapkan sekitar 18 atlet yang akan tampil di sejumlah nomor pertandingan.
“Beberapa atlet bisa bermain di dua nomor, misalnya paramotor sekaligus paralayang. Ada juga yang tampil di aeromodelling,” kata Suwanto.
Ia menjelaskan seluruh nomor yang diikuti FASI Kubar berhasil lolos pada Babak Kualifikasi (BK) Porprov. Bahkan, Kubar mencatatkan prestasi dengan meraih enam medali emas, empat perak, dan lima perunggu.
Menghadapi Porprov, FASI menargetkan hasil yang lebih baik. Namun, Suwanto mengakui target tersebut sangat bergantung pada dukungan sarana dan prasarana.
“Harapan kami tentu bisa lebih baik dari BK. Tetapi kendala terbesar kami adalah peralatan. Untuk paralayang kami belum memiliki satu pun parasut sendiri, begitu juga paramotor kami belum memiliki mesin sendiri,” ujarnya.
Ia mengungkapkan dua medali emas cabang paramotor saat BK diraih menggunakan peralatan pinjaman. Kondisi itu dikhawatirkan tidak bisa kembali terjadi saat Porprov.
“Kemarin kami masih dipinjamkan alat. Tapi saat Porprov nanti belum tentu masih ada yang bisa meminjamkan,” katanya.
Selain peralatan, FASI juga menghadapi keterbatasan fasilitas latihan. Area lepas landas (take off) dan pendaratan (landing) di Gunung Es dinilai belum layak, ditambah akses jalan menuju titik pendaratan yang rusak sehingga menghambat efektivitas latihan.
“Kendala kami bukan hanya alat, tetapi juga lokasi take off dan landing yang belum layak, ditambah akses jalan menuju titik landing masih rusak,” ucapnya.
Suwanto mengapresiasi kunjungan Ketua KONI Kubar bersama jajaran ke lokasi latihan. Menurutnya, kehadiran KONI menjadi penyemangat bagi atlet karena pembinaan dilakukan dengan melihat langsung kondisi di lapangan.
“Kami berterima kasih karena KONI datang langsung melihat kondisi kami. Ini menjadi motivasi bagi atlet bahwa perjuangan mereka diperhatikan,” ujarnya.
Ia berharap KONI dapat membantu mengarahkan upaya memperoleh dukungan fasilitas melalui Dispora maupun instansi lain sehingga kebutuhan peralatan dan sarana latihan dapat terpenuhi.
Saat ini FASI Kubar telah menjalankan program TC selama sekitar tiga pekan. Latihan dilaksanakan setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu di kawasan Gunung Es, dengan intensitas yang akan ditingkatkan menjelang Porprov.
“Kalau mendekati keberangkatan kemungkinan latihan akan lebih intens, bahkan bisa setiap hari,” katanya.
Suwanto menambahkan disiplin atlet sejauh ini cukup baik. Ia berharap kepastian pemberian bonus prestasi dapat menjadi motivasi tambahan agar atlet semakin bersemangat meraih hasil terbaik.
Sementara itu, Pelatih FASI Kubar, Firda Anggraini, mengatakan setiap atlet paralayang wajib memiliki lisensi Pilot Layang 1 (PL-1). Untuk mendapatkannya, calon atlet harus memenuhi sejumlah persyaratan, termasuk sedikitnya 40 kali penerbangan di dua gunung berbeda.
Firda menyebut olahraga paralayang terbuka bagi masyarakat dengan usia minimal 15 tahun tanpa batas usia maksimal. Namun, ia mengakui olahraga dirgantara membutuhkan biaya besar sehingga proses mencetak atlet berprestasi tidak mudah.
“Belajar mungkin bisa, tetapi untuk menjadi atlet berprestasi membutuhkan proses panjang dan biaya yang tidak sedikit,” ujarnya.
FASI Kubar juga berencana membuka regenerasi atlet setelah Porprov 2026. Pendaftaran akan dilakukan melalui akun Instagram @Fasi__kubar sebagai persiapan menghadapi regulasi baru KONI yang diperkirakan membatasi usia atlet di bawah 30 tahun.
Firda memastikan kondisi atlet saat ini siap bersaing di Porprov. Menurutnya, aspek fisik, mental, dan program latihan telah dipersiapkan dengan baik. Kendala utama tetap berada pada minimnya fasilitas.
“Atlet kami sebenarnya sudah sangat siap. Yang masih menjadi hambatan adalah sarana dan prasarana, termasuk area take off dan landing yang kondisinya tidak layak,” katanya.
Meski berlatih dengan keterbatasan, Firda optimistis FASI Kubar mampu mempertahankan bahkan melampaui raihan enam medali emas yang diperoleh pada BK.
“Kalau saat BK saja kami bisa meraih enam emas dengan fasilitas seperti sekarang, tentu kami optimistis bisa meraih hasil yang lebih baik apabila mendapatkan dukungan sarana yang memadai,” pungkasnya.














