KUTAI BARAT — Warga Muara Pahu, Silwanus meminta perusahaan yang beroperasi di alur Sungai Mahakam, khususnya jasa pandu asis penarikan tongkang atau ponton, agar lebih peduli dan melibatkan masyarakat sekitar sebagai wujud kerja sama di lingkungan aktivitas tongkang.
Menurutnya, aktivitas penarikan tongkang bermuatan sawit dan batu bara telah berdampak pada terganggunya alur Sungai Mahakam yang selama ini dimanfaatkan masyarakat untuk mencari nafkah.
“Alur Sungai Mahakam ini digunakan masyarakat untuk berusaha dengan bubu, pukat dan lainnya, sekaligus sebagai jalur penghubung beberapa desa menuju Kabupaten Kutai Barat,” ujar Silwanus usai rapat koordinasi Jasa Pandu Asis Tongkang di Lamin Tunjung, Kecamatan Barong Tongkok, Kamis (05/02/2026).
Ia berharap perusahaan dapat memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat sekitar agar tercipta hubungan saling mendukung yang berdampak pada peningkatan ekonomi kerakyatan.
Sementara itu, Camat Muara Pahu, Mauliddin Said, menegaskan bahwa masyarakat Muara Pahu tidak menginginkan konflik dengan perusahaan. Sebaliknya, pihaknya ingin membangun kebersamaan agar masyarakat juga dapat merasakan manfaat dari keberadaan perusahaan.
“Kami tidak ingin konflik, justru ingin merangkul kebersamaan untuk sama-sama menikmati. Artinya, masyarakat juga bisa ikut terlibat dalam aktivitas perusahaan. Karena itu kami berupaya melakukan penertiban,” ujarnya.
Ia menambahkan, masyarakat Kecamatan Muara Pahu terbuka bagi siapa pun yang ingin berusaha, dengan harapan warga yang terdampak, seperti nelayan, dapat diakomodir untuk bergabung dalam jasa pandu asis.
Rapat koordinasi tersebut turut dihadiri Ketua Presidium Dewan Adat (PDA) Kutai Barat Yurang, Kabid Hukum Adat Kubar Wili Bous, Ketua DPP TGM Kubar Alsiyus, Pasi Intel Kodim 0912/KBR Lettu Nedi, perwakilan perusahaan tongkang, staf Rayung Manaq Tunas, serta anggota Polres Kutai Barat.












