Tamiang Layang – Bagian 5, Minggu, 2 Nopember 2025
Alasannya lokasi tersebut bagus untuk perkampungan, baik dari posisinya yang lebih tinggi juga struktur tanahnya lebih bagus. Rupanya saran tersebut diikuti masyarakat Dayak Bakumpai pada waktu itu, merekapun mulai membuka perkampungan tersebut.
Pembangunan rumah pun dari lokasi yang sudah ditentukan ke arah hulu (arah Tamiang Layang) sementara itu arah hilirnya adalah pemukiman masyarakat Dayak Maanyan yang beragama Kaharingan. Ternyata pada waktu itu sudah ada masyarakat Dayak Maanyan yang menempati perkampungan tersebut, hanya saja posisinya ke arah hilir. Oleh karena itu dimasa-masa jauh sesudah masa ini, bahkan ketika masyarakat Magantis sudah berkembang, diantara masyarakat Magantis itu ada menemukan guci atau barang-barang kuno lainnya yang merupakan peninggalan masyarakat Kaharingan tersebut.
Kembali pada pembukaan kampung baru ini, masyarakat Bakumpai saat itu mulai membangun rumah lebih permanen jika dibandingkan dengan rumah di 2 lokasi sebelumnya. Bahan rumah terdiri dari kayu ulin dan kayu-kayu keras lainnya, namun rumah yang dibangun saat itu masih berbentuk rumah panggung dan untuk naik kerumah tersebut dibutuhkan tangga. Perkampungan yang ditempati inipun pada waktu selanjutnya dikenal dengan sebutan Magantis. Terdapat beberapa versi yang menjadi latar belakang nama Magantis ini yang akan dibahas pada kajian yang lain. Jelasnya nama Magantis ini tetap ada sampai hari ini.
6) Pembangunan Masjid
Setelah beberapa waktu bermukim di perkampungan yang baru (Magantis saat itu), masyarakat Dayak Bakumpai itupun berencana membangun Masjid.
Dalam waktu yang tidak lama akhirnya keinginan ini terwujud, tepatnya Tahun 1715 M berdirilah sebuah Masjid yang berukuran 8 X 8 = 64 M2 yang muat untuk menampung 40 orang Shalat berjamaah.
Pembangunan Masjid ini ternyata tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Dayak Bakumpai, tetapi juga dibantu oleh masyarakat Dayak Maanyan yang beragama Kaharingan yang waktu itu pemukiman mereka tidak jauh dari pemukiman masyarakat Dayak Bakumpai.
Masjid ini didirikan diatas Tanah Wakaf yang berada dipinggir Sungai Sirau yang posisinya berada ditengah-tengah penduduk kala itu. Awalnya nama Masjid ini bernama Masjid Jami, tetapi setelah perkampungan ini secara resmi diberi nama Magantis, maka nama Masjid ini bertambah menjadi Masjid Jami Magantis (Bersambung…..)
Pewarta : Yandi
Tulisan ini disadur sepenuhnya dari Buku “Jejak Islam Di Barito Timur”, yang diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta, ISBN Nomor 978-623-236-478-3. Buku ini di Prakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Barito Timur Tahun 2024 dan melibatkan cendikiawan muslim dari UIN Palangkaraya sebagai peneliti ahli. Tidak salah kiranya media turut berperan menyebarluaskan materi buku ini agar cepat tersampaikan, baik untuk masyarakat Barito Timur khususnya maupun masyarakat Indonesia umumnya. Keseluruhan buku ini sebanyak 238 halaman, sementara tulisan di media hanya memuat Bab IV, hal. 78 – 217, oleh karena itu tetap disarankan membaca buku ini seutuhnya










