Kutai Barat

Puncak Kuangkay di Kampung Karangan, PDA Kutai Barat Minta Generasi Muda Jaga Tradisi

735
×

Puncak Kuangkay di Kampung Karangan, PDA Kutai Barat Minta Generasi Muda Jaga Tradisi

Sebarkan artikel ini

KUBAR – Puncak upacara adat Kuangkay ditandai dengan pemotongan kerbau di Kampung Karangan, Kecamatan Mook Manaar Bulatn (MMB), Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Senin (1/6/2026). Ritual tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus upaya melestarikan warisan budaya masyarakat Dayak Benuaq dan Tonyoi.

Kegiatan itu dihadiri Sekretaris II Presidium Dewan Adat (PDA) Kutai Barat L. Markos K., Kabid Rayukng Manaq Tunas, Kepala Adat Kecamatan Mook Manaar Bulatn, Kepala Adat Kampung Karangan, Petinggi Kampung Karangan, serta tokoh adat setempat.

Sekretaris II PDA Kubar, Markos mengatakan upacara adat Kuangkai dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur. Melalui ritual tersebut, keluarga mengenang serta menghargai jasa-jasa orang tua dan leluhur yang telah meninggal dunia.

“Ini merupakan wujud bakti dan rasa terima kasih kepada orang tua serta leluhur yang telah mendahului kita,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Kuangkai tidak hanya memiliki makna penghormatan kepada leluhur, tetapi juga merupakan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun oleh para pendahulu.
.
Menurutnya, tradisi tersebut menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat adat yang harus terus dijaga, dikembangkan, dan dilestarikan agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

“Karena itu, kami berharap generasi muda tidak hanya hadir sebagai penonton atau sekadar menikmati hiburan yang ada, tetapi juga memiliki kepedulian dan rasa tanggung jawab untuk meneruskan tradisi ini,” katanya.

Markos menambahkan, keberlanjutan upacara adat Kuangkai sangat bergantung pada peran generasi muda. Mereka diharapkan memahami makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut, serta kelak mampu menjadi pelaksana maupun pemangku adat yang meneruskan warisan budaya kepada generasi berikutnya.

Dalam tradisi masyarakat Dayak Benuaq dan Tonyoi, Kuangkai merupakan puncak rangkaian ritual kematian. Dalam kepercayaan adat setempat, kematian dipandang sebagai perpindahan manusia dari kehidupan ragawi menuju alam roh.

Melalui rangkaian ritual tersebut, roh orang yang telah meninggal diyakini diantar menuju alam keabadian dengan didampingi roh para leluhur. Karena itu, Kuangkai menjadi bentuk penghormatan terakhir keluarga kepada kerabat yang telah meninggal dunia.

Rangkaian upacara biasanya berlangsung selama 14 hingga 21 hari dan dilaksanakan setelah jasad yang meninggal hanya menyisakan tulang belulang. Pada puncak ritual, dilakukan pengorbanan hewan kurban berupa kerbau atau sapi sebagai bagian dari prosesi adat.

Markos juga mengimbau masyarakat untuk menjaga keamanan dan ketertiban selama pelaksanaan upacara adat. Ia meminta setiap penyelenggaraan kegiatan adat tetap memenuhi ketentuan dan aturan yang berlaku agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 325x300