Tamiang Layang – Bagian 7, Selasa, 4 Nopember 2025
Sampai di sini dapat disimpulkan bahwa Islam di Magantis dimulai sejak tahun 1.600 M lalu yaitu adanya kelompok orang-orang Dayak Bakumpai dari Marabahan menyusuri Sungai Barito hingga sampai dan bermukim di Lubuk Balai (Maribeng).
Kemudian mereka pindah kepemukiman Kiri dan Lubuk Tapah.
Setelah itu mereka pindah ke sebelah Barat atau seberang sungai Desa Magantis saat ini. Beberapa waktu kemudian, mereka pindah lagi ke sebelah timur sungai Serai yang posisinya adalah Desa Magantis sekarang. Disinilah mereka membangun masjid yakni pada tahun 1715 M.
Dengan demikian secara embrio atau de jure, Islam masuk Magantis dimulai sejak tahun 1.600 M dengan proses seperti yang sudah dijelaskan dan secara de facto pada tahun 1715 M masjid didirikan yang menunjukan bahwa Islam sudah ada di Magantis sebelum tahun tersebut. Hal ini sangat masuk akal karena orang-orang Dayak Bakumpai yang mulai menetap di Lubuk Balai (Maribeng) berketurunan terus menerus sampai akhirnya semakin berkembang di Magantis. Ketika mereka meninggalkan kampung halaman mereka di Marabahan, status mereka sudah beragama Islam.
b. Tokoh-Tokoh Dan Pendakwa Islam Di Magantis
1) Orang-Orang Dayak Bakumpai
Tokoh-tokoh yang menyebarkan Islam di Desa Magantis pertama kalinya dilakukan oleh orang-orang Dayak Bakumpai itu sendiri. Mereka adalah sepuluh (10) keluarga sebagaimana disebutkan sebelumnya beserta keturunan-keturunan mereka.
Awalnya mereka bermukim di Lubuk Balai (Maribeng), kemudian pindah lagi ke pemukiman Kiri dan Lubuk Tapah. Peran Dakwah yang dilakukan dapat dilihat dan dipahami kembali melalui bahasan sebelumnya.
Salah satu bukti peran dakwah Islam tersebut terlihat ketika di antara mereka ada yang menikahi perempuan Dayak Maanyan yang kemuadian mengislamkannya. Hal ini seperti yang sudah diuraikan sebelumnya bahwa ada seorang pemuda Bakumpai berlidah hitam menikahi sekaligus mengislamkan seorang perempuan Dayak Maanyan dari Sarapat. Perempuan ini di kemudian hari dikenal dengan panggilan Labai Lamiah.
Mereka berketurunan dan akhirnya kawasan tempat tinggal mereka dikenal sebagai Pulau Hakei atau tempat orang Islam (Bersambung……)
Pewarta : Yandi
Tulisan ini disadur sepenuhnya dari Buku “Jejak Islam Di Barito Timur”, yang diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta, ISBN Nomor 978-623-236-478-3. Buku ini di Prakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Barito Timur Tahun 2024 dan melibatkan cendikiawan muslim dari UIN Palangkaraya sebagai peneliti ahli. Tidak salah kiranya media turut berperan menyebarluaskan materi buku ini agar cepat tersampaikan, baik untuk masyarakat Barito Timur khususnya maupun masyarakat Indonesia umumnya. Keseluruhan buku ini sebanyak 238 halaman, sementara tulisan dimedia hanya memuat Bab IV, hal. 78 – 217, oleh karena itu tetap disarankan membaca buku ini seutuhnya










