banner 325x300
banner 325x300
Kutai Barat

Prosesi Ngompokng Warnai Pernikahan Adat Dayak Tunjung Benuaq ‘Denis dan Sonia’

17
×

Prosesi Ngompokng Warnai Pernikahan Adat Dayak Tunjung Benuaq ‘Denis dan Sonia’

Sebarkan artikel ini

KUBAR– Rangkaian Upacara Adat Pernikahan Dayak Tunjung Benuaq pasangan Denis dan Sonia memasuki hari kedua dengan melaksanakan prosesi Ngompokng di RT 4, Kampung Sendawar, Kecamatan Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat, Kamis (25/6/2026).

Prosesi yang sarat nilai budaya tersebut menarik perhatian masyarakat karena sudah sangat jarang dilaksanakan. Kegiatan ini menjadi bagian penting menuju puncak acara adat, yakni Pelulukng Peruku atau pengesahan pernikahan secara adat Dayak Benuaq Tunjung yang akan digelar pada Jumat 26 Juni 2026.

Perwakilan keluarga penyelenggara, Jon Albert, menjelaskan bahwa seluruh rangkaian adat yang dijalankan merupakan warisan leluhur yang harus terus dijaga dan dilestarikan.

“Rangkaian kegiatan dimulai dengan Puas Utas yang bermakna membuang atau membersihkan segala hal buruk. Selanjutnya dilaksanakan Buhont Tempalayant agar pelaksanaan acara terhindar dari gangguan serta mendapat restu dari para leluhur. Kemarin kami juga melaksanakan Tota Torou atau prosesi mandi kembang,” ujar Jon Albert.

Ia menjelaskan, prosesi Ngompokng yang dilaksanakan hari ini menjadi salah satu tahapan penting sebelum memasuki acara puncak Pelulukng Peruku.

Menurutnya, tujuan utama pelaksanaan adat tersebut tidak hanya sebagai bagian dari prosesi pernikahan, tetapi juga sebagai upaya menjaga kelestarian budaya Dayak Benuaq Tunjung.

“Kami ingin generasi muda, termasuk generasi milenial, dapat melihat dan mengenal langsung tradisi leluhur ini agar tidak punah. Tradisi ini merupakan identitas dan jati diri masyarakat Dayak Benuaq Tunjung di Kabupaten Kutai Barat,” katanya.

Jon Albert berharap masyarakat adat terus melestarikan tradisi tersebut, mengingat Sendawar memiliki nilai sejarah dan budaya yang kuat. Ia mengakui pelaksanaan upacara adat tingkat tinggi seperti yang dijalankan saat ini memang jarang dilakukan karena membutuhkan waktu panjang serta banyak tahapan yang harus dilalui.

“Dalam pernikahan adat Dayak Benuaq Tunjung terdapat beberapa tingkatan pelaksanaan adat, mulai dari tingkatan tertinggi, menengah hingga yang paling sederhana. Kami berharap tradisi ini tetap hidup di tengah masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, Tokoh Adat Herianto Ningir mengatakan prosesi Ngompokng sudah puluhan tahun tidak pernah lagi digelar di Kampung Sendawar. Menurutnya, beberapa waktu terakhir prosesi serupa hanya pernah dilaksanakan di wilayah Lingau, sedangkan di kawasan Bigung hingga Barong Tongkok sangat jarang ditemukan.

“Ngompokng ini sudah sangat lama tidak dilaksanakan di kampung ini. Saya kira sudah puluhan tahun tidak pernah digelar lagi,” ujarnya.

Herianto menjelaskan, selain menjadi bagian dari prosesi adat perkawinan, Ngompokng juga berfungsi sebagai sarana hiburan adat melalui Perentangin, yakni lantunan syair sakral yang dibawakan para tetua adat.

“Perentangin memiliki aturan dan batasan tertentu. Penyampaiannya tidak boleh sembarangan karena setiap syair memiliki makna dan tata cara tersendiri,” jelasnya.

Ia menambahkan, puncak rangkaian adat akan berlangsung besok melalui prosesi Pelulukng Peruku. Dalam prosesi tersebut juga akan disampaikan Ruratn, yaitu nasihat dan petuah kepada kedua mempelai sebagai bekal menjalani kehidupan rumah tangga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 325x300