Gunungsitoli- Upaya pemerintah pusat dalam memperbaiki poros jalan Nasional di Kota Gunungsitoli wajar diapresiasi. Namun sangat disayangkan proyek perbaikan sistem tambal sulam ini mengancam keselamatan pengguna jalan diduga akibat kelalain pihak ketiga dalam hal ini kontraktor.
Dalam buku panduan Teknis Keselamatan di Lokasi Pekerjaan Jalan yang dikeluarkan Dirjen Bina Marga Kementerian PUPR dikatakan, Risiko kecelakaan berat atau fatal di suatu bagian jalan tiga kali lebih tinggi saat ada pekerjaan jalan. Untuk itu, perlu diperhatikan keselamatan dalam pekerjaan jalan tersebut, salah satunya dengan memasang rambu-rambu peringatan.
Namun dalam praktiknya, Proyek Perbaikan badan jalan Nasional di Kota Gunungsitoli, dari Jln. Nasional Desa Miga menuju Perumnas Fodo Sumatera Utara (Sumut), dikabarkan rawan kecelakaan, karena minimnya rambu peringatan.
Sejumlah pengendara khususnya sepeda motor merasa resah. Karena perbaikan jalan nasional itu tidak semuanya dipasang rambu-rambu sebagai peringatan. Selain itu bekas galian dan pembongkaran untuk proses penambalan ( patching) dibiarkan lama menganga, tidak ditutup segera dengan aspal.
Akibatnya, petakan bekas pemotongan dan pembongkaran aspal dengan menggunakan asphalt cutter, walau ditimbun namun karena belum dipadatkan, kemudian sebagian berlubang dan bergelombang sehingga rawan menimbulkan kecelakaan khususnya pengendara sepeda motor.
Salah seorang pengndara roda dua, Pak Raysa (32) mengatakan bahwa jika hal seperti ini dibiarkan maka merasa khawatir akan membahayakan karena lubang yang menganga akibat pengerukan cukup dalam.
“Faktanya di lapangan justru terjadi lain, di mana jalan yang retak dan lubang justru digali dan dibiarkan berhari-hari tanpa segera diaspal, “Ujarnya. Rabu (19/06/2024).
Menurutnya, ketika jalan retak atau lubang yang sudah digali harus segera ditutupi lagi atau diaspal sehingga tidak mengancam keselamatan pengguna jalan seperti yang ada di jalan Nasional Kota Gunungsitoli tepatnya di Desa Miga, Kecamatan Gunungsitoli.
Ia meminta aparat kepolisian harus segera menyikapi hal ini jangan nanti sudah memakan korban jiwa akibat kecelakaan lalu lintas baru melakukan tindakan.
“Proyek tambal sulam ini dinilai tidak jelas karena tidak memiliki pemberitahuan berupa papan proyek, “Imbuhnya.
Dilokasi yang sama, pengendara lainnya Ama Iren Laoli mengaku menyesalkan pekerjaan proyek tambal sulam tidak cepat menyelesaikan dan seharusnya proyek tambal sulam itu langsung dilakukan pengaspalan bukan pembiaran yang merugikan masyarakat.
“Secara pribadi sangat menyayangkan pekerjaan itu tidak segera dilakukan penambalan sehingga terkesan pembiaran yang berdampak pada keselamatan pengendara khususnya kendaraan roda dua, “Kesalnya.
Ia menerangkan, dampak pengusapan jalan itu termasuk jalan perlintasan utama yang menjadi akses mobilitas masyarakat sehari hari dan jika memasuki musim penghujan mengakibatkan lubang bekas pengupasan aspal tergenang air sehingga sering dihantam pengendara motor.
“Jika tidak sigap maka pengendara motor tersebut bisa jatuh dan menyebabkan kecelakaan, kalau pun belum bisa dilakukan pengaspalan kembali beri rambu rambu ada perbaikan sehingga tidak ada korban kecelakaan, “terangnya.
Proyek tambal sulam yang seringkali dilakukan untuk memperbaiki kerusakan jalan nasional di Kota Gunungsitoli dinilai tidak serta merta dapat menyelesaikan masalah hanya akan menambah jalan raya menjadi bergelombang sehingga mengganggu kenyamanan pengendara.
“Kegiatan tambal sulam tersebut bukan satu-satunya solusi untuk meningkatkan kualitas jalan, karena justru membuat pengendara tidak nyaman lantaran memicu ketidakstabilan kendaraan saat melintas di jalan yang bergelombang, “sebutnya.
Dari pantauan di lokasi proyek tambal sulam itu tidak ditemukan papan informasi maupun pihak perusahaan yang mengerjakan.
Saat ini, sejumlah lubang bekas galian atau pengorekan aspal masih terlihat menganga dan dikhawatirkan apabila tidak segera diperbaiki akan memakan korban. Selain itu, tidak ditemukan rambu-rambu peringatan bahaya di bekas korekan aspal. (B4142160 H14)












