Upacara Nyadran Sewu Ingkung di Blarangan Sidorejo

Gunungkidul74 Dilihat

Gunungkidul – Upacara adat tradisi nyadran di padukuhan Blarangan kalurahan Sidorejo kapanewon Ponjong dihadiri oleh H. Sunaryanta bupati Gunungkidul beserta jajaran instansi terkait kegiatan tersebut yang terpusat di makam raden mas Djoyo Dikromo Secuco Ludiro, Senin (26/02/2024).

Bupati Gunungkidul Sunaryanta dalam mengikuti tradisi nyadran tersebut dengan di sedekahkan ingkung ayam oleh masyarakat Padukuhan Blarangan, Sidorejo Ponjong.

“Tradisi yang berumur ratusan tahun namun masih dilestarikan dapat menumbuhkan kerukunan dan rasa kebersamaan,” kata Sunaryanta dalam sambutanya.

Orang nomor satu di Gunungkidul ini mengatakan, banyak tradisi dan budaya di Gunungkidul yang masih dilestarikan. Salah satunya yang digelar di makam Raden Mas Djoyo Dikromo Secucu Ludiro.

“Saya kagum dengan semangat masyarakat dikalurahan ini. Keariffan lokal yang masih dijaga didalamnya menanamkan nilai kebersamaan dan gotong royong,” paparnya.

Lurah Sidorejo, Ponjong, Sidiq Nur Safii mengatakan, nyadran merupakan bentuk rasa syukur kepada yang Maha pencipta. Yang digelar setiap tahun sekali dalam tanggalan Jawa 15 Ruwah.

“Dalam nyadran ini masyarakat membawa ayam ingkung, nasi uduk dan uborampe lainya,” paparnya.

Menurut cerita yang dibacakan oleh panitia, nyadran ini untuk mengingat cikal bakal munculnya Padukuhan Blarangan. Konon dahulu ada punggowo Majapahit lari dari kerajaan. Keduanya yakni Tumenggung Wayang dan Tumenggung Sesuco Ludiro.

Mereka dikejar oleh para prajurit kerajaan, kemudian dipaksa untuk kembali. Karena menolak, akhirnya terjadi pertempuran hingga keduanya dikepung atau dikalang.

Berawal dari sana, jadilah nama Padukuhan Kalangan di Kecamatan Karangmojo. Ki Wayang saat itu sulit untuk ditaklukan. Tiga bagian tubuhnya dipisah dan membuatnya tersungkur tak berdaya lagi.

Akhirnya, Tumenggung Wayang wafat. Dengan peperangan tersebut, maka pertumpahan darah pun tejadi. Daerah itu kemudian disebut Blarangan, dari kata Mblarah Getih Blarah.

Setelah Ki Wayang wafat, Ki Sesuco Ludiro yang masih bertahan hidup kemudian mengajarkan cocok tanam dan menjadikan daerah subur makmur. Setelah sekian lama, Ki Seco akhirnya wafat dan dikebumikan di Blarangan.

“Kegiatan ini di gelar dengan pembiayaan dana desa Tahun 2024 dan swadaya gotong royong semua warga dengan maksud dan tujuan menyatukan presepsi budaya menjaga kerukunan antar warga dan melestarikannya sebagai warisan budaya. ” kata Suprapti, Ketua Panitia. (Mungkas M)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *