Belantara Pengetahuan Rahasia Bali Kuno

Tak Berkategori28 Dilihat

Purwosari Pasuruan, 12 Desember 2023. Sesudah Kita bersama sama kawan kawan senasib seperjuangan dalam menempuh 12 tahun penelurusan hakekat pengetahuan ilmu, yang sumbernya adalah spiritnya spirit Tuhan Yang Maha ESA dan ilmu pengetahuan, yang sumber bidang garapnya adalah alam raya dalam setiap lapisannya, dengan segala isinya, dengan jelas menjelaskan bahwa ada Tuhan di setiap yang ada dan semua yang ada, ada dalam liputan Tuhan Yang Maha ESA, itu Kita peroleh dan dapatkan yang ada di KITAB HIDUP KEHIDUPAN Candi Borobudur, ” dengan tujuan mengejawantahkan tugas amanah martabat tanggung jawab universal, berupa deklarasi Kita bersama sama lintas agama, lintas budaya, lintas negara, lintas displin ilmu pengetahuan dalam deklarasi DUR, Dignity Universal Responsibility, 21 Juni 2012 di Candi Borobudur.

Kini sampailah Kita ke definisi Warisan Budaya Tak Benda dari UNESNO, yang itu terkait dengan ilmu pengetahuan di bidang apapun terkait batik, keris, silat, jamu, dll.

Tulisan di bawah ini terutama untuk menjadi bahan referensi yang sangat mendalam perihal apa hakekatnya warisan budaya ilmu pengetahuan keterampilan tak benda di bidang jamu dalam Penetapan Jamu UNESCO 6/12/2023.

Sehingga sampailah Kita ke judul tulisan ini yang bakal di paparkan dalam bentuk tulisan di bawah ini :

Catatan untuk generasi muda Bali (8)

Etik dan Kosmos Hidup Manusia Bali

I Wayan Westa

Dengan cara apa para tetua di Bali kuasa “meramal” datangnya gerhana bulan dan matahari sebelum sains modern memetakan ‘tarian’ semesta itu dengan ketepatan lebih jitu? Dari mana sumber-sumber pengetahuan tentang langit dan bumi bisa dituliskan sebagaimana terekam dalam teks-teks astronomi dan astrologi khas Bali?

Mencoba membaca teks-teks semisal Sundari Gading, Sundari Bang, Sundari Putih, Sundari Cemeng, Sundari Siksa, atau Tutur Bhagawan Garga dan teks-teks wariga lainnya, disitu terbentang belantara pengetahuan rahasia perihal bumi, langit, manusia, dengan segala isinya. Terekam pula sistem kewaktuan dan ideologi pengetahuan yang tak hanya bersifat emperik, namun untuh menyeluruh menjadi satu etik kosmos yang kelak menjadi dasar dari seluruh etik hidup manusia Bali –mulai dari tata bahasa, tata masyarakat, tata dunia, tata negara hingga tata langit disebut kandaning dewata.

Pertanyaannya kemudian, darimana pengetahuan itu didapat, di “universitas” alam mana hal itu bisa dipelajari? Sekali lagi kita tak mendapatkan jawaban final perihal “sains” masa silam itu. Kecuali pada satu dalih, nun manusia Bali tak cuma mengandalkan kemampuan rasio, namun mengasah satu meta-rasio yang dikenal dengan dunia waskita atau siddhi tentang apa kemudian kita sebut kediatmikan dalam pengertian luas, menyangkut pandangan ulu-ilir kosmos manusia Bali. Dari sini kemudian diturunkan pengetahuan lebih pragmatis untuk bertahan hidup, sebutlah misalnya “teori” membuat sumur.

Para tetua yang memiliki waskita semacam itu bisa mengenal suara air di kedalaman tanah dengan menempelkan kuping ke tanah. Dengan cara ini suara air terekam kalbu, makin dekat suara itu terekam, kian dekat air itu dengan permukaan tanah. Bahkan seseorang bisa “mendengar” gemuruh sungai bawah tanah—dimana tempat itu bisa menimbulkan bahaya bila dibor. Artinya mereka yang membadankan sabda bisa mendengar sabda, yang memahami hakikat suara bisa menangkap suara. Gelombang magnetik maha halus ini bisa ditangkap bila seseorang berada dalam kwanta yang sama—sama-dhi. Karena beratnya kompetensi menuju itu, para pejalan lalu menyebutnya sebagai parama guhya, goa maha rahasia. Namun sang pejalan yang telah terlatih akan disibakkan pintu untuk itu. Teks Aji Brata misalnya seperti memberi tiket sang pejalan memetik pihala itu : nguniwéh jnana wisésa, wruh kramanira soang-soang. Dengan alasan bahwa seluruh hasil terbaik dari pekerjaan terbaik didapat dari tindakan menjalankan esensi brata: “…matangian larisākna pagawé ayu mijil sakéng tatwa brata.”

Tapi ketika kemampuan ini kian tumpul, ada satu cara praktis dipergunakan orang Bali bila hendak membuat sumur, yakni dengan cara menaruh lembaran daun pisang muda di tanah. Biasanya daun-daun itu diletakkan sore hari, bila keesokan hari bagian dalam daun itu penuh titik-titik air atau semacam embun, itu menandakan air begiu dekat dekat permukaan tanah. Hal yang sama juga dilakukan sejumlah sulinggih bila muput upacara khusus di suatu tempat. Sebelum dewasa ayu ditentukan, sulinggih datang untuk melakukan sejenis “perjanjian” pada pengghuni tak terlihat di tempat akan digelarnya upacara, suatu percakapan rahasia terjadi, dan sesaji akan dihaturkan sesuai perjanjian rahasia itu. Konon plalutuk banten ditulis lewat perjanjian sejenis ini, dan menjadi ketetapan kemudian saat mana percakapan rahasia tak lagi dilakukan—atau karena alasan lemahnya kemampuan intuitif. Karena betapa percakapan rahasia itu hanya bisa dilakukan oleh beliau yang memiliki kemampuan siddhi, kuasa menyetel gelombang kwanta.

Paparan ini tak cuma menunjukkan suatu kebajikan lokal, atau satu native yang oleh para antropolog ditenggarai dipelajari dari pengalaman coba-coba. Namun bila boleh menduga-duga ini adalah satu meta-sains yang kompetensinya melekat di tubuh, sebelum bumi ini dirusak tehnologi buatan dan eksploitasi besar-besaran dilakukan tanpa kontrol. Kian waskita itu hilang, kemampuan dura darsana, betel tingal itu lenyap, manusia semakin mematerialkan pencahariannya demi bertahan hidup. Belum pula didorong motif-motif menguasai lebih banyak, memiliki lebih banyak. Bila kemampuan manusiawi melorot, otak reftil kita tetap bekerja, dan kita menjadi manusia purba kembali, kehilangan rasa belas kasih, manusia lalu berada dalam posisi tak lebih dari reftil, cuma bisa bertahan hidup dan berbiak.

Sampai disini kita mesti bersetuju pada pandangan Robin Sharma, penulis buku The 5 AM Club (2019) yang sangat dihormati. Dalam buku itu, sang motivator berkelas dunia ini menandaskan, “Tolaklah khayalan umum bahwa mereka yang menumpuk paling banyak adalah pemenangnya.

Sementara Erich Fromm, penulis buku To Have or To Be (1997) sedari awal telah mengingatkan, bahwa dalam semangat memiliki kebertumbuhan kreatif cenderung mandeg, lalu padam. Dan karenanya; semangat menjadi itulah penyelamat manusia dari kemandengan-kemandengan pikir, ide, kreasi serta solusi hidup. Memang senantiasa ada kebaruan dalam semangat menjadi, selalu ada refresh, kesegaran bagi setiap makhluk yang mau bertumbuh.

Waskita itulah yang kini kian hilang pada manusia lemah ini. Pada hal inilah sains puncak yang wajib dibadankan bagi setiap cerdik pandai yang belajar peradaban teks. Ini ajakan amat jumawa tentu, berkesan sombong, mengada-ada. Tapi cobalah resapkan lebih dalam! Bukankah setiap teks yang kita baca seakan memanggil sang pembaca untuk membadankan faedahnya guna didermakan dalam hidup bersama. Tuhan yang kita yakini dalam dunia Bali bukan hanya dalam koneksitas untuk dipuja dan dimulikan, namun juga dibandankan. Contoh paling kongkrit, kenapa di sejumlah pura di Bali dibangun “gedong betel”, apakah palinggih ini hanya untuk memuliakan beliau Yang Maha Pelihat? Atau kita juga dianjurkan memuliakan Tuhan didalam diri untuk menjadi betel tingal? Memahami, menguasai, melihat semua. Atau setidaknya untuk menyadari, bahwa diluar yang kita lihat pada dunia ada rahasia tak terlihat. Karenanya ia dicari dalam pengertian-pengertian tindakan aporisme makusu, seperti menggosok-gosok kayu hingga keluar api. Begitu juga pengetahuan rahasia dicari, penuh tirakat brata dan tapa. Mpu Kanwa, penulis Kakawin Arjuna Wiwaha, karya yang dipersembahkan pada Raja Airlangga, menuliskan aporisme menarik untuk ketekunan tiada banding dalam tindakan brata. Begini sang mpu menuliskan, “sang lwir agni sakéng tahén kadi miñak sakéng dadhi kita, sang sākşat métu yan hana wwang amutér tutur pinahayu—engkau bagaikan api yang keluar dari kayu, ibarat minyak yang keluar dari santan. Pada mereka yang tekun amuter tutur Engkau menampakkan diri.

Teknologi atau sains itu tidak berada diluar manusia, ia melekat, membadan pada manusia. Teks-teks Panerangan atau Pangujanan menunjukkan satu bukti bahwa, sains masa silam itu membadan. Inilah kemudian yang kita sebut sebagai sastra paraga, sastra yang membadan, sastra dalam pengertian ilmu terutama, dalam apa yang disebut dalam frase wibuh ing aji. Nun oleh sebab ia melekat di badan, dan karenanya; ia yang telah sampai diberi kebebasan penuh melakukan sesuatu, apan manusa juga sakawenang, maka kewenangan-kewenangan itu perlu dijaga dengan etik. Etik itu menyangkut kesantunan-kesantunan hidup, termasuk darsana itu sendiri, mengenai cara atau sesuatu itu dipandang dalam tertib kosmos. Namun krisis multidimensi membuat tertib kosmos mengalami chaos, semua dimensi hidup dan kewenangannya tak berjalan sebagaimana mesti. Seluruh entitas hidup nyaris melanggar planet dirinya, baik itu berkaitan dengan etik diri (susila), etik sosial (tata krama), etik negara (tata negara), serta etik-etik yang lebih tinggi. Etik diri berkelindan dengan etik yang lain, karena itu ia bisa memengaruhi chaos pada tatanan kosmos.

Sesungguhnya tugas hidup manusia Bali tak cuma bertanggung jawab pada dirinya sendiri, tapi ia juga bertanggung jawab pada masa depannya. Apa yang kita lakukan hari ini menentukan wajah atau kondisi hari depan kita. Seluruh tindakkan itu dipertangungjawabkan pada dimensi ruang sekala – sekala niskala – niskala. Ke ruang-ruang hidup yang melampaui dunia nyata pertanggungjawaban itu juga “ditagih”. Jadi sekecil apapun tindakan kita, baik yang konstruktif dan destruktif ia terhubung dengan kosmos besar di mana teks-teks menyebutnya dengan jagat tiga atau tri bhuwana.

Inilah kenapa kumudian dalam jejaring hidup selalu ada benang penghubung pada fenomena alam, baik itu berupa bencana, pandemi, dan krisis sosial karena orang tidak patuh pada planet diri sendiri. Tertib sosial itu percis sama dengan tertib semesta, mesti ada penjaga adekuat layaknya hukum Rta menjaga tertib planet, supaya planet-planet itu tidak bertubrukan. Begitulah tertib sosial dijaga raja, sang pengendali hukum, pengatur tata negara, karenanya ia dijuluki darmaraja, raja penegak darma. Bila raja lemah, maka berantakanlah tata negara itu, berantakan pula rakyatnya. Kerajaan tangguh bila etik birokrasi itu dipegang kuat. Raja memegang raja sasana dengan teguh, mantri memeluk mentri sasana penuh keyakinan. Setiap pejabat teguh pada planetnya sendiri. Inilah jalan yoga para pemegang kuasa, sama halnya seorang pendeta memegang sasana kawikuan yang dengan teguh memegang janji dirinya, pandita susila subrata. Begitu juga profesi-profesi lain, seperti; pamangku, balian, undagi, dalang, sangging layak memegang etik dengan ketat. Memegang etik dengan ketat berarti memuliakan satu planet diri, dimana jiwa raga bertumbuh dalam panggilan hidup masing-masing. Dengan cara inilah jiwa dibebaskan, karena sang pejalan di marga bersangkutan berarti pula menjalankan tindakan brata.

Membaca teks-teksnya, menelusuri praktik hidup kesilaman orang Bali, betapa seluruh tindakan hidup itu sesungguhnya untuk menjaga tertib kosmos. Pesan kode ini bisa kita baca dari teks-teks caru – mulai dari ngaturang saiban usai memasak di dapur, saban Kajeng Kliwon, setiap lima belas hari, dari carun sasih hingga upacara Eka Dasa Rudra saban 100 tahun sekali— dimana tata dunia diperiksa, diperbaharui saban seratus tahun— rekognisi, refilosofi dianggendakan kembali dalam rangka menapak masa depan baru. Segala ajaran, segala teks dibahasakan ulang untuk disesuaikan dengan semangat zaman. Setiap kalpa memerlukan cara pandang baru, pijakan baru untuk merawat tunas-tunas pemikiran baru, solusi hidup yang baru tanpa memunggungi kebijakan lama yang kita sebut sebagai kramaning atuha-tuha—belajar dan berguru pada kebijakan lama.

Inilah bentuk-bentuk tindakan harmoni yang yang dijalani orang Bali. Menjaga tertib kosmos itu orang Bali lalu merawatnya dengan sejumlah pantangan dan pemali. Satu pengendali yang dibentangkan dalam wariga misalnya, disitu dibentangkan sederet ingkel, meliputi: wong, sato, mina, manuk, buku, taru.
Pada hari Radite misalnya, orang Bali pantang menebang mambu dan tebu, karena disitu ingkelnya buku, tumbuhan yang beruas. Pada hari-hari yang diliewati ingkel sato misalnya; orang berpantang mengambil babi, baik untuk dijual atau dipelihara. Inilah contoh-contoh pengendali yang alasannya belum bisa kita rasionalkan, kecuali kita pahami sebagai satu kurikulum hidup, bahwa manusia Bali, terutama pada hari-hari tertentu perlu berpantang. “Ngeret indria” demikin bahasa etiknya.

Begitu juga dengan pemali, kenapa misalnya saat istri hamil, suami atau istri tak diperbolehkan menutup lubang apapun, termasuk lubang semut. Bila dilanggar bisa menimbulkan halangan merepotkan, sang ibu diyakini susah melahirkan. Dalam setiap lobang di bumi diyakini ada benih hidup, menutupnya berarti menghalangi sang hidup sendiri. Ibu yang juga simbol bumi menunjukkan satu kode pemuliaan pada tanah. Pesannya: jangan menutup ruang bagi mereka yang bertumbuh. Segala yang tumbuh di tanah adalah anak-anak Ibu Bumi.
Teks Kanda Mpu Buta memberi penegasan gambelang perihal keberadaan dunia yang sesungguhnya tunggal adanya. “Sadukta wau mareka jadma, sadukta ri jero guwa garban i bunta, kaweruhakena tatwanta nyilih pawakan maring ibu pertiwi. Mapan tunggal buana agung muah buana alit angganta. Ketika awal berwujud manusia, saat mana dalam kandungan sang ibu, sadarilah hakikat dirimu, hanya pinjaman dari ibu bumi. Sebab tunggal adanya engkau dengan alam semesta.”

Inilah bentuk-bentuk pemali dan pantangan itu, dimana ideasinya demi menjaga tertib kosmos. Ini pula fungsi song sombah di tiap rumah orang Bali, disamping berfungsi sebagai saluran air saat hujan, membuang segala kekotoran, ia juga memiliki fungsi membuang aura kotor dalam setiap rumah. Menjadi agak jelas kemudian kenapa di tempat itu orang Bali juga menghaturkan sesajen.

Dalam upaya menjaga tertib semesta itulah norma-norma sosial disepakati. Bentuk-bentuk hormat dalam bahasa secara sosiolingusitik juga menunjukkan upaya bagaimana tertib sosial itu dijaga dengan kesopanan-kesopanan hirarkis. Sor singgih basa atau anggah ungguh basa dalam Bahasa Bali boleh jadi tak harus dirujuk sebagai alat feodalisme, namun menunjukkan suatu pandangan bagaimana bahasa ikut menata harmoni sosial. Bahasa menata hubungan-hubungan timbal balik antar penutur bahasa, baik untuk mereka yang dihormati, ataupun untuk menjaga hubungan-hubungan kesetaraan. Bacaan lebih filosofi perihal peran bahasa dalam hubungannya denga tata krama, tata masyarakat, dan tata negara bisa kita baca dalam teks Aji Purwwa Basitakrama. Bahwa disitu setiap peran dari profesi ditata juga lewat norma bahasa.

Inilah satu kosmos Bali dimana kita mendapatkan satu ediasi bahwa tertib hidup manusia, tertib hidup masyarakat, tertib hidup bernegara diediasikan dari tertib kosmos. Tindakan kita di bumi terhubung dengan tertib kosmos itu. Benang halus karma: pikiran, perkataan, dan tindakan menghubungkan semua, atom-atom bertemali membentuk satu kondisi bhuwana— dimana tanpa sadar kita ikut membentuknya. Hari depan itu kitalah yang menentukan.

Ong Ganapatya ya namah
Ong Saraswatya ya namah

Pakubuan Kusa Agra
Tilem Kapat,
Sukra Kliwon,
Wuku Pujut
16-10-2020

Nb:
Tulisan ini disampaikan di Ubud Royal Weekend pada acara rembug satra dengan tema: Membaca Kembali Tata Adab Bali 17 Oktober 2020.

Penulis : I Wayan Westa

Editor : Guntur Bisowarno S.Si., APT (Ketua ASJI : Apoteker Saintifikasi Jamu Indonesia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *