JAKARTA, – Ketua Dewan Pembina Gerakan Nasional Anti Narkotika (GRANAT), Komjen Pol. (Purn.) Togar M. Sianipar, melontarkan peringatan keras terhadap ancaman peredaran dan penyalahgunaan narkotika di Indonesia.
Ia secara tegas mempertanyakan klaim penurunan jumlah pengguna narkoba di tengah maraknya pengungkapan kasus dan penyitaan narkotika dalam jumlah puluhan ton.
Menurut Togar, besarnya narkotika yang berhasil masuk dan beredar di Indonesia menjadi persoalan serius yang tidak boleh dipandang sebelah mata.
Ia bahkan menilai anggapan bahwa jumlah pengguna narkoba mengalami penurunan tidak sesuai dengan kondisi yang harus diwaspadai saat ini.
“Siapa bilang pengguna narkoba turun? Mohon maaf, saya katakan tidak. Itu semua omong kosong, justru sekarang makin meningkat,” tegas Togar dalam sambutannya pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 GRANAT di Hotel The Tribrata, Jakarta Selatan, pada Jumat (30/10/2026) malam.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam peringatan HUT ke-27 GRANAT. Togar mengingatkan bahwa ancaman narkotika bukan sekadar persoalan penindakan hukum, melainkan ancaman serius terhadap masa depan generasi muda dan keberlangsungan bangsa.
Ia mempertanyakan ke mana perginya narkotika yang masuk ke Indonesia dalam jumlah berton-ton.
Menurutnya, besarnya barang bukti yang diungkap aparat harus menjadi bahan evaluasi terhadap kondisi penyalahgunaan narkotika di masyarakat.
“Ke mana larinya narkotika berton-ton masuk ke Indonesia? Pasti ada yang memakai. Kalau tidak, apakah hilang begitu saja?” ujarnya.
Togar juga menyoroti sulitnya pengawasan jalur masuk narkotika, khususnya melalui laut. Dengan garis pantai Indonesia yang sangat panjang serta banyaknya pelabuhan besar, kecil, dan tradisional, ia menilai pengawasan tidak mungkin sepenuhnya mengandalkan aparat keamanan.
“Kalau kita sekap seluruh kekuatan Angkatan Laut untuk menjaga pantai sepanjang ini, tidak akan bisa,” katanya.
Ia menceritakan pengalamannya saat mengunjungi wilayah Papua Nugini. Ketika melihat kawasan pantai yang tampak indah dan bersih, seorang tokoh setempat justru mengingatkan bahwa kawasan tersebut menjadi salah satu jalur masuk narkotika ke wilayah Maluku Tenggara.
Pengalaman itu menjadi gambaran bahwa jalur peredaran narkotika dapat memanfaatkan berbagai celah geografis yang sulit diawasi.
Togar juga menyinggung angka prevalensi penyalahgunaan narkotika yang disebut mencapai sekitar 2,5 juta orang.
Ia meminta angka tersebut dicermati secara serius karena hasil penelitian harus benar-benar mampu menggambarkan kondisi faktual di lapangan.
Togar mengapresiasi langkah Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Polri dalam mengungkap jaringan peredaran narkotika, termasuk operasi gabungan yang melibatkan Bareskrim Polri, Direktorat Narkoba, Baharkam, dan unsur terkait lainnya.
Namun, menurutnya, operasi penindakan saja tidak cukup. Pemberantasan narkotika membutuhkan gerakan bersama yang konsisten, terkoordinasi, dan melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Ia menegaskan, GRANAT harus mengambil peran strategis, bukan sekadar menjadi organisasi yang hadir dalam kegiatan seremonial atau memperingati hari ulang tahun setiap tahunnya.
Tidak hanya mengkritisi persoalan narkotika, Togar juga memberikan teguran kepada seluruh jajaran internal GRANAT. Mulai dari DPP, DPD hingga DPC, seluruh pengurus diminta tidak sekadar menyandang jabatan, tetapi harus membuktikan tanggung jawab melalui kerja nyata.
Menurutnya, jabatan dalam organisasi merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Eksistensi GRANAT tidak cukup dibangun melalui nama besar, atribut, maupun struktur kepengurusan, tetapi harus dibuktikan melalui program dan pengabdian yang dirasakan masyarakat.
“Kalau sudah diberi jabatan, bertanggung jawablah. Sebab kita bukan main-main,” tegasnya.
Togar mengingatkan bahwa organisasi yang tidak bergerak dan tidak menghasilkan karya nyata hanya akan kehilangan makna keberadaannya.
Ia mendorong seluruh jajaran GRANAT membangun organisasi yang profesional, solid, dan berkelanjutan. Untuk itu, diperlukan sumber daya manusia, dukungan material, serta pembiayaan yang memadai.
Ia juga meminta pengurus tidak ragu membangun komunikasi dan kerja sama dengan pemerintah, Presiden Republik Indonesia, BNN, Polri, serta berbagai lembaga terkait.
“Mana ada organisasi tanpa uang? Kita membutuhkan dukungan agar organisasi ini bisa bergerak dan menjalankan pengabdian untuk menyelamatkan generasi muda bangsa Indonesia,” ungkapnya.
Lebih jauh, Togar mengajak seluruh elemen bangsa menghidupkan semangat Nation in Arms, yakni gerakan bersama seluruh komponen bangsa dalam menghadapi ancaman narkotika.
Baginya, perang melawan narkotika tidak cukup hanya mengandalkan penangkapan bandar dan pengungkapan jaringan. Edukasi, penguatan mental, kecerdasan masyarakat, serta keterlibatan aktif seluruh lapisan masyarakat harus menjadi bagian dari perjuangan.
Ia menegaskan, GRANAT harus hadir di tengah masyarakat melalui edukasi, pencegahan, dan gerakan konkret. Jangan sampai organisasi memiliki struktur hingga ke daerah, tetapi tidak menunjukkan aktivitas nyata dalam menyelamatkan generasi muda.
Togar berharap HUT ke-27 GRANAT menjadi momentum evaluasi sekaligus kebangkitan organisasi untuk memperkuat barisan dan meningkatkan kontribusi dalam perang melawan narkotika.
“GRANAT jangan hanya indah dari kejauhan, tetapi harus terlihat indah melalui karya-karya besar dan tindakan nyata dalam menyelamatkan generasi muda bangsa,” pesannya.
Peringatan HUT ke-27 ini, lanjutnya, harus menjadi pengingat bahwa perjuangan melawan narkotika bukan pekerjaan sesaat. Dibutuhkan keberanian, konsistensi, dan kesungguhan seluruh jajaran organisasi agar GRANAT benar-benar menjadi kekuatan masyarakat dalam menghadapi ancaman narkotika di Indonesia. (Rahmat)
Togar Bongkar Ancaman Narkotika, Puluhan Ton Masuk Indonesia Jadi Alarm Bahaya













