KUBAR – Badan Musyawarah Antar Gereja Nasional (Bamagnas) bersama Presidium Dewan Adat (PDA) Kabupaten Kutai Barat (Kubar) mendorong upaya persepsi antara gereja dan adat.
Upaya itu dilakukan guna memperkuat sinergi dan menjaga harmoni masyarakat di Tanaa Purai Ngeriman.
Penyamaan persepsi itu dibahas dalam sosialisasi dan dialog sinergi gereja dengan pimpinan adat yang digelar di Ballroom Hotel Nici, Kecamatan Barong Tongkok, Senin (28/09/2026).
Ketua BAMAGNAS Kubar, Hempry Sangian, mengatakan gereja dan lembaga adat memiliki peran penting di tengah masyarakat. Keduanya perlu membangun komunikasi dan kerja sama.
“Gereja tidak bisa berjalan sendiri. Gereja membutuhkan support dari PDA. Kita masih hidup di tengah masyarakat, sehingga sinergi itu perlu dan penting,” ujarnya.
Katanya, dialog tersebut menjadi ruang untuk mengurangi perbedaan persepsi yang selama ini berkembang antara gereja dan adat.
“Lewat kegiatan hari ini, kita ingin meminimalisir hal-hal yang selama ini dipandang berbeda. Sebenarnya tidak berbeda,” ungkapnya.
Hempry menjelaskan, hasil dialog tersebut akan ditindaklanjuti dengan menyosialisasikan kesepakatan kepada pemimpin lembaga gereja di Kubar. Sosialisasi juga akan disampaikan kepada aras gereja.
“Khusus kami di gereja, hasil kesepakatan hari ini akan kami sosialisasikan kepada pemimpin-pemimpin lembaga gereja dan aras-aras gereja,” paparnya.
Sementara itu, Ketua PDA Kubar, Yurang, mengatakan dialog tersebut penting untuk menyamakan persepsi antara masyarakat adat dan gereja.
Menurutnya, masih ada anggapan di kalangan agama bahwa adat bertentangan dengan gereja. Untuk itu, dialog digelar untuk memberikan pemahaman kepada gereja maupun lembaga adat.
“Selama ini ada persepsi dari pihak agama bahwa adat bertentangan dengan gereja,” urainya.
Yurang menuturkan, perbedaan pemahaman mengenai adat dan gereja sudah berlangsung cukup lama. Menurutnya, dialog diperlukan agar kedua pihak memahami peran dan posisi masing-masing.
“Dalam adat ada beberapa hal yang mungkin dianggap tidak sesuai oleh gereja karena mereka belum tahu dan belum memahami,” tuturnya.
Lanjut Yurang, forum tersebut juga membuka ruang bagi kalangan gereja untuk mengenal adat lebih jauh. Bahkan, katanya, ada pendeta yang meminta untuk mempelajari tutus adat.
“Banyak para pendeta yang cenderung ingin tahu tentang adat, bahkan ada yang meminta untuk tutus adat,” terangnya.
Yurang berharap sinergi gereja dan masyarakat adat terus diperkuat melalui kolaborasi dan penyamaan persepsi. pemerintah daerah juga diminta terus mendukung pelaksanaan upacara adat yang digelar masyarakat.
“Harapan kita pemerintah dapat mengakomodir upacara-upacara adat, sehingga hal-hal yang dapat dilaksanakan melalui bantuan pemerintah bisa berjalan,” tutupnya.
(RICARD)














