KUBAR – Sejumlah wilayah di Kecamatan Bentian Besar, Kabupaten Kutai Barat, dilanda banjir pada Selasa (7/4/2026). Ketinggian air di beberapa titik permukiman warga dilaporkan mencapai hingga satu meter, mengakibatkan aktivitas masyarakat lumpuh.
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, sedikitnya empat kampung terdampak, yakni Dilang Puti, Swakong, Jelmu Sibak, dan Penarung. Genangan air merendam rumah warga, sementara kendaraan roda dua banyak yang terendam. Aktivitas pendidikan pun terpaksa dihentikan sementara akibat kondisi tersebut.
Hingga Selasa malam sekitar pukul 19.00 WITA, air dilaporkan belum surut, bahkan terus mengalami peningkatan meski hujan tidak lagi turun. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran warga akan potensi banjir yang lebih besar.
Salah seorang warga Dilang Puti, Darwin, mengungkapkan bahwa ketinggian air telah mencapai pinggang orang dewasa. Ia menyebut, puluhan rumah kini terendam dan situasi semakin mengkhawatirkan.
“Genangan air mencapai pinggang orang dewasa. Meski hujan tidak turun hari ini, banjir terus naik. Ketinggian air sudah hampir satu meter,” ujarnya.
Darwin menduga, banjir yang melanda kawasan tersebut tidak lepas dari maraknya aktivitas penebangan kayu di wilayah Bentian Besar sejak awal tahun 2026. Menurutnya, kerusakan hutan membuat daya serap air berkurang drastis, sehingga air hujan dengan cepat meluap ke permukiman warga.
Ia juga menyoroti lemahnya pengawasan terhadap aktivitas tersebut. Warga, kata dia, menjadi pihak yang paling dirugikan akibat dampak lingkungan yang ditimbulkan.
“Inilah dampak maraknya penebangan kayu liar. Warga yang jadi korban. Hutan di Bentian Besar ini sudah hampir habis dan tidak lagi mampu menahan air,” tegasnya.
Lebih lanjut, Darwin menjelaskan bahwa aktivitas penebangan kayu terjadi secara besar-besaran, mulai dari Kampung Tukuq hingga sejumlah kampung lainnya. Kayu hasil logging bahkan diangkut setiap hari menggunakan truk besar dan diduga dibawa keluar daerah menuju Kalimantan Tengah.
“Besar-besaran penebangan kayu di sini, sangat leluasa. Hutan hampir gundul. Sekarang tinggal menunggu waktu kapan banjir besar datang,” pungkasnya.
Warga berharap pemerintah daerah dan aparat penegak hukum segera turun tangan menangani persoalan ini, baik dalam penanganan banjir maupun penertiban aktivitas penebangan hutan yang diduga ilegal.












