Kepri

Ironi Program MBG, Siswa SMP Tanjungpinang Disajikan Roti dan Snack Berbahan Pengawet

279
×

Ironi Program MBG, Siswa SMP Tanjungpinang Disajikan Roti dan Snack Berbahan Pengawet

Sebarkan artikel ini

TANJUNGPINANG — Sejumlah orang tua siswa SMP Negeri 7 dan SMP Negeri 16 Tanjungpinang menyampaikan kekecewaan terhadap menu Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima anak-anak mereka. Menu yang disajikan dinilai tidak memenuhi prinsip gizi seimbang sebagaimana pedoman Badan Gizi Nasional (BGN).

Berdasarkan informasi yang dihimpun redaksi, menu MBG yang diterima siswa selama empat hari berturut-turut, sejak Senin hingga Kamis (8–11/12/2025), didominasi makanan kering dan minim variasi makanan basah.

Salah seorang orang tua siswa SMPN 16 Tanjungpinang menyebut menu yang diberikan jauh dari ekspektasi awal program.

“Tujuan program ini untuk memberikan gizi seimbang. Tapi kalau anak kami hanya dikasih roti, pisang, bubur, telur, ditambah snack pabrikan, ya sama saja seperti bekal seadanya. Tidak sesuai harapan,” ujarnya, Kamis (11/12/2025).

Keluhan serupa juga disampaikan wali murid SMPN 7 Tanjungpinang. Ia mengungkapkan bahwa anaknya dalam beberapa hari terakhir hanya menerima menu kering tanpa makanan utama yang lengkap.

“Benar, beberapa hari anak kami diberikan telur, pisang, roti, bubur, dan makanan ringan seperti kacang koro,” katanya.

Menurutnya, menu MBG seharusnya mencakup makanan basah berupa nasi, lauk pauk, sayuran, serta tambahan susu sesuai ketentuan gizi dari BGN.

Menanggapi hal tersebut, pihak dapur MBG Mekar Sari di Kelurahan Pinang Kencana membenarkan bahwa dalam beberapa hari terakhir mereka menyajikan menu kering kepada siswa.

Akuntan MBG Mekar Sari, Nina, menjelaskan bahwa menu tersebut merupakan permintaan pihak sekolah karena siswa sedang menjalani ujian dan jam pulang lebih cepat.

“Menu kering itu atas permintaan sekolah. Karena anak-anak ujian dan pulang lebih awal, pihak sekolah meminta makanan yang praktis,” jelas Nina, Kamis (11/12/25).

Ia menambahkan bahwa selama minggu tersebut penyajian menu memang lebih banyak berupa makanan kering, berbeda dengan dapur Posyandu yang tetap menyajikan makanan basah.

Terkait penyajian snack kacang koro olahan pabrikan yang diduga mengandung bahan pengawet dan dinilai tidak direkomendasikan dalam program BGN, Nina yang didampingi ahli gizi Erike menyebut hal tersebut dilakukan karena keterbatasan waktu.

“Menu itu tidak diberikan setiap hari. Karena keterbatasan waktu, kami memilih makanan kemasan. Untuk perubahan menu biasanya ada komunikasi terlebih dahulu dengan kepala SPPG. Kami hanya merealisasikan,” pungkasnya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 325x300