RS Handayani Klarifikasi Dugaan Malpraktik Dokter Jan Markus

Lampung Utara — Rumah Sakit (RS) Handayani Kotabumi menyatakan siap memberikan klarifikasi terkait dugaan malpraktik yang melibatkan oknum dokter berinisial dr Jan Markus. Pihak manajemen menyebut proses penelusuran internal masih berjalan dan klarifikasi akan disampaikan melalui Humas setelah seluruh data diverifikasi.

“Manajemen masih menindaklanjuti kronologis secara menyeluruh untuk memastikan informasi tersebut lebih akurat dan berimbang,” ujar Direktur RS Handayani, dr Ratna Sari Ritonga, saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Rabu (10/12/2025).

Ia menambahkan, “Kami akan mengupayakan koordinasi lebih lanjut terkait waktu dan teknis klarifikasi melalui bagian Humas. Terima kasih atas pengertian dan kerja samanya.”

Hingga berita ini diterbitkan, pihak Humas RS Handayani belum berhasil dikonfirmasi baik secara langsung maupun melalui sambungan telepon.

Sementara itu, seorang pasien bernama Rizky melaporkan dugaan malpraktik usai menjalani operasi hemoroid di RS Handayani. Ia mengaku harus melalui serangkaian operasi lanjutan akibat dugaan kesalahan tindakan medis pada operasi pertama. Rizky menuturkan bahwa pada 7 Juni 2025 ia datang ke RS Handayani karena sakit ambeien dan divonis dokter Jan Markus harus segera menjalani operasi stadium akhir. “Karena ingin cepat sembuh, saya ikuti ketentuan dokter dan menjalani operasi hemoroid menggunakan BPJS,” kata Rizky.

Namun pascaoperasi ia justru merasakan sakit lebih parah, terutama saat mencoba buang air besar. Jahitan pada anus disebut hampir menutupi keseluruhan lubang, membuatnya tidak bisa BAB selama lima hari. Saat istrinya meminta obat pereda sakit kepada dokter jaga, ia diberi resep Orinox 90 mg yang harus dibeli di apotek seharga Rp76.085 meski pasien menggunakan BPJS.

Pada kontrol pertama, dokter hanya melihat luka operasi dan menyarankan konsumsi pepaya. “Selama hampir sebulan saya makan pepaya setiap hari, tapi tetap tidak bisa BAB,” ungkap Rizky. Saat kontrol kedua, dokter penyakit dalam dr Dodi Handoro menemukan banyak gas tertahan di perut dan menyarankan rujukan ke RS Urip Sumoharjo Bandar Lampung.

Di rumah sakit rujukan itu, dokter menemukan kerusakan serius pada bekas operasi sebelumnya. “Lubang anus saya rusak sekitar 80 persen karena terlalu banyak jahitan. Akhirnya saya harus dibedah kembali supaya lubang tidak menyempit,” tuturnya. Meski sudah menjalani operasi kedua, Rizky masih belum bisa BAB hingga akhirnya disarankan menjalani tindakan kolostomi.

Rizky berharap RS Handayani bertanggung jawab. “Saya menduga dokter yang menangani bukan spesialis hemoroid. Akibat operasi itu saya hampir cacat permanen bahkan bisa kehilangan nyawa. Saya berharap rumah sakit tidak lepas tangan,” ujarnya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *