Purwosari Pasuruan, Sabtu 21 Juni 2025.
21 Juni 2012. Kita deklarasi di Kawasan Candi Borobudur, Piagam DUR : DIGNITY UNIVERSAL RESPONSIBLITY : Martabat Tanggung Jawab Universal (Baca: 13 Tahun yang lalu. red.) Berbasis Hukum Hidup “HUREP” Cinta Kasih Sayang Universal Global Kekal.
Pagelaran Wayang Kulit & Campur Sari dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan. Dusun Babat, Desa Randupitu Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan. Rabu Kamis, 18-19 Juni 2025.
Penyerahan Gunungan oleh Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan, H. Samsul Hidayat S.Ag. M.Pdi. dan Kepala Desa Randupitu, Mochammad Fuad kepada Ki Dalang Sudarto, Dalang Wayang Ringgit Purwo Klasik Jawa Timuran, asal Purwosari Pasuruan, dalam rangka RUWAT DESA RANDUPITU, dengan Lakon “WAHYU KETENTRAMAN”.
Sharing Peetama
Kita sharing bersama Carik Randupitu, Sidak, Kasun: Afif dan BPD yaitu Suhardi (Dusun Gesing), Ilham (Randupitu), Suwito Dusun Babat) perihal para pepunden Desa Randupitu, yang membabat dan membangun desa dusunnya, yaitu Mbah Panji Aryo Kusumo (Randupitu), Mbah Putri Aryo Geni ( Dusun Gesing), Mbah Sri Putih Dewi (Dusun Babat), Mbah Rekso (Dusun Babat) dan Mbah Dipo Suratmojo (Dusun Babat).
Sharing Kedua
Ki Tohari Pimpinan Sanggar Panuwunan Kasampurnane Hurep Budi Luhur, Desa Cendono, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, sebagai Tokoh Sesepuh dengan Rasa Semangat Guyub Rukun untuk semua wujud Seni dan Budaya Warisan Leluhur Nusantara Indonesia, bertiga bersama Purwanto (KIM Komunitas Informasi Media) Randupitu yang mempunyai Tim Unit Kerja 13 Personil, dengan Branding Nama KIM GEMPAR ( Baca : Gerakan Pemuda Peduli Randupitu. red.)
Sharing Ketiga :
Ki Tohari, Sugeng Martopuro Purwosari Pasuruan, bertiga dengan Kita; membahas perihal ada sesuatu dalam diri manusia yang tidak pernah tua yaitu rasa roso sejati Kita, hidupnya rasa sejati tidak pernah tua, sudah ada dari Kita mulai memiliki rasa hingga akhir hayat Kita. Seperti Wayang setiap orang mengalami peperangan di dalam diri Kita antara rasa sejati hidup Kita, dengan rasa angan angan, pikiran, napsu, perasaan, emosi, jiwa, sukma dan ruh Kita.
Ki Tohari menambahkan bahwa secara umum Pandawa 5 adalah Puntodewo, Bima Seno, Arjuno, Nakula Sadewa, padahal aslinya mereka sesungguhnya adalah Putro Pendowo, jadi Pendowo sejatinya adalah Bapak mereka berlima yaitu Pandu Dewanoto, sedang Bolonya para Putra Pendowo ini disebut Bolodewo_Bolodewe, artinya Bolodewo_Bolodewe adalah simbol dan nama dari semua bolo; kawan saudara; dan kerabat dari Putro Pendowo yang arti maksudnya berada di dalam Sosok Wayang Bolodewo saudaranya Kresna, juga serentak bermakna Majemuk; Banyak Beraneka sosok bolo; kawan; saudara; dan kerabat Putro Pendowo, seperti yang ada di Lambang Negara RI, Garuda Pancasila, yang berbunyi “Bhinneka Tunggal Ika:, meskipun banyak majemuk; berbeda beda namun tetap satu adaNya, seperti Sosok Wayang Bolodewo_Bolodewe
Sharing Keempat
Kita bersama Kepala Desa Randupitu Mochammad Fuad berbicara perihal nama sebutan ARAN Tradisi Jawa Kuno menyebut Daun Pohon Randu adalah Bolodewo_Bolodewe, Randu juga Lambang Simbol Kabupaten Pasuruan bersama Tebu (Baca: Tebu Mantepe Kalbu, Lambang Untung, Simbol Sosok Pahlawan Untung Suropati, Leluhur Kabupaten Pasuruan yang dipilih Pemerintah Kabupaten Pasuruan sebagai Ikonnya. red.) Kedua simbol ini adalah lambang kemakmuran dan kesejahteraan serta perekonomian Kabupaten Pasuruan.
Mochammad Fuad juga menambahkan Desa Randupitu punya produk unggulan berupa “BATIK SEKAR RANDU”, sebagai Produk Ibu PKK, yang sudah diakui Bupati Pasuruan Periode Tahun 2025 – 2029 dan sudah dikenal di Mancanegara, misalnya India dan Korea, sekarang sudah dalam Proses Pengurusan HAKI, makanya di Baju Batik Beliau ada Simbol Gambar Daun Randu 7 Helai di apit 2 Helai Padi Pari, Lambang Kesejahteraan, Kemakmuran dan Ketentraman.
Ki Sudarto Dalang Pagelaran Wayang Ringgit Purwo Klasik Jawa Timuran, menanggapi dan menyempurnakan memang di dalam Pagelaran Wayang; ada Lakon Pendowo 7 (Pitu) dan Pendowo 5 (Limo) dan Daun Pohon Randu, yang disebut Bolodewo_Bolodewe menang pada faktanya ada yang berhelai 5 dan 7.
Wayang adalah Sof Power Nusantara Indonesia.
Bagi Tohari (52 Tahun) Pimpinan Sanggar Panuwunan Kasampurnane Hurep Budhi Luhur Desa Cendono:
Pagelaran Wayang Kulit Ringgit Purwo Klasik Jawa Timuran oleh Ki Sudarto (62 Tahun) dengan Lakon “WAHYU KETENTRAMAN” tersebut (18-19/6/2025) di Dusun Babat Desa Randupitu Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan adalah BABAT BABAD BABAK BARU; Bangkitnya Peradaban Dunia Baru, yang sudah di”Wahyu”kan olehNya Sang Maha GESANG, Sang Maha Hidup kepada Para Leluhur Nusantara Indonesia berbasis Rindu Randu 5; Bolodewo_Bolodewe Pendowo 5 (Baca : Esensi dari 5 Mutiara Hidup Berkehidupan untuk Dunia Global Universal yaitu Pancasila, yang berbasis Hukum Hidup “HUREP” Cinta Kasih Sayang Universal Global Kekal serta Program Pancasilakrama oleh Maha Bajra Sandhi Denpasar Bali, Tahun 2011-2025; Bunda Biyung Tahun 2020-2025. red.) juga dalam Bolodewo_Bolodewe Randupitu Randu7; 7 adalah Babat Babad Pitulungan Pituduh dariNya kepada Para Leluhur Bangsa Manusia; Khususnya Nusantara Indonesia; secara TEBU Mantepe Kalbu, Mantapnya Massa Kesadaran Badan Batin dari Bukti Laku Lampah Jalan Perjalanan, yang Teguh Kukuh dari Kita Para “PUTRA WAYAH” mereka, Para Leluhur Suci Muliya tersebut.
Penulis : Guntur Bisowarno (Ketua Bamboo Spirit Nusantara)














