Oleh: Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, S.H., M.H.
Pakar Hukum Internasional dan Pemerhati Masyarakat
Langkah Presiden Republik Indonesia, Jenderal (Purn.) H. Prabowo Subianto, dalam menyelesaikan persoalan kedaulatan empat pulau di wilayah Aceh patut dicatat sebagai tindakan kenegaraan yang luar biasa. Bukan hanya rakyat Aceh, bahkan dunia internasional memberikan apresiasi atas kebijakan berani dan tegas ini.
Pada tanggal 17 Juni 2025, keputusan Presiden Prabowo mengembalikan empat pulau yang selama ini dipersengketakan menunjukkan kepemimpinan seorang negarawan sejati. Ia bukan sekadar pelaksana kebijakan partai, tapi seorang pemimpin yang berpihak pada keadilan dan kedaulatan rakyat. Tidak heran jika banyak warga menyebut beliau sebagai “Presiden RI Tulen”.
Langkah ini secara signifikan meredam potensi konflik horizontal antara masyarakat Aceh dan Sumatera Utara, yang bisa saja berkembang menjadi konflik saudara. Di tengah situasi sosial yang rentan, tindakan cepat dan tepat dari Presiden RI menunjukkan kapasitas beliau sebagai juru damai nasional.
Namun demikian, keberhasilan ini tak boleh membuat kita lengah terhadap pekerjaan rumah yang lain: performa para pembantu presiden. Sebagai pengamat dan pendengar keluhan masyarakat bawah, saya merasa perlu mengingatkan agar Bapak Presiden mengevaluasi para menteri yang tidak menjalankan tugasnya dengan baik.
Ada indikasi beberapa suara dari anggota kabinet justru memperkeruh suasana, bahkan dikhawatirkan bisa menyulut perpecahan antardaerah. Untuk itu, menteri-menteri yang tidak mampu menjaga stabilitas dan tidak sejalan dengan semangat Merah Putih harus segera diganti. Kabinet adalah perpanjangan tangan Presiden, bukan beban dalam mewujudkan cita-cita bangsa.
Rakyat telah melihat ketulusan Presiden Prabowo. Tapi ketulusan itu harus dijaga dengan pengawasan ketat terhadap pembantunya. Indonesia butuh kerja, bukan kegaduhan baru.
Kini, empat pulau kembali ke pangkuan Aceh. Tapi pekerjaan membangun bangsa belum selesai. Mari kita kawal bersama agar Indonesia tetap satu dalam keberagaman, dan damai dalam keberanian mengambil keputusan.






