Komisi IX DPR RI dan BKKBN Lampung Sosialisasikan Penurunan Stunting di Lampung

Lampung91 Dilihat

Lampung – Komisi IX DPR RI dan Perwakilan BKKBN Provinsi Lampung menggelar Promosi dan KIE Program Percepatan Penurunan Stunting di Wilayah Khusus Tingkat Provinsi Lampung di Desa Wates, Kec. Bumi Ratu Nuban, Kab. Lampung Tengah, Senin (05/02/2024).

Narasumber yang hadir diantaranya oleh Anggota Komisi IX DPR RI Itet Tridjajati Sumarijanto, diwakili Tenaga Ahli Tricia Lelonowati Sumarijanto, dan Ketua tim kerja hubungan antar lembaga, Advokasi, KIE dan Humas Perwakilan BKKBN Provinsi Lampung Intan Anisa Fitri, S.Sos serta Materi Oleh Dinas P3AP2KB Kab. Lampung Tengah, dan Tokoh Masyarakat Desa Wates.
Itet Tridjajati Sumarijanto menjelaskan pentingnya mencerdaskan anak sejak masih dalam kandungan hingga usia dua tahun. Pemberian gizi harus dioptimalkan agar anak cerdas optimal dan terhindar dari stunting. Kualitas Sumber Daya Manusia yang bagus, ditentukan dari asupan gizi sejak kecil.
“Asupan ASI eksklusif hingga usia bayi 6 bulan. Kemudian sempurnakan hingga umur 24 bulan. Utamanya 80 % adalah sebelum 2 tahun. Setelah umur dua tahun, asupan tetap harus diberikan. Namun pertumbuhan akan lebih baik jika asupan gizi dan ASI dioptimalkan sebelum usia dua tahun,” ujar Itet

Cara lain mencegah stunting yakni menghindarkan bayi dari asap rokok. Bayi masih dalam masa pertumbuhan, sehingga sangat perlu terhindar dari rokok sejak masih dalam kandungan.

“Toleransi, yang merokok ya toleran dengan yang hamil, punya anak kecil. Yang ibu ibu toleran juga, minta agar yang merokok menjauh dulu,” tuturnya.

Selain itu Intan Anisa Fitri menyampaikan Saat ini, BKKBN tidak lagi berjuang mengendalikan jumlah penduduk, namun lebih pada meningkatan kualitas penduduk.
Pencegahan stunting menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas penduduk. Sehingga pada tahun 2045 mendatang, Indonesia memiliki generasi yang berkualitas.

Stunting bukanlah suatu penyakit, melainkan akibat dari kekurangan gizi kronis dan infeksi berkepanjangan. Seperti kanker, stunting juga memiliki stadium atau tahapan.

“Stadium satu itu ketika berat badan tidak naik. Datang ke faskes terdekat, nanti dicek, kalau tidak ada penyakit akan diintervensi dengan pemberian makanan tambahan (PMT) selama 2-6 minggu, nanti dicek lagi,” ungkapnya.

“Stadium dua itu ketika berat badan justru turun. Stadium tiga itu ketika perkembangan di bawah standar. Untuk stadium I, II, III itu intervensinya sama. Stadium IV itu bukan beratnya lagi tapi gizinya. Kalau kurang gizi, intervensinya 4-8 minggu. Nah untuk stadium V itu masuk gizi buruk, dan harus mendapat perwatan,” tutur beliau.

Jika sudah terlanjur stunting, maka tidak bisa tertolong. Untuk itu, upaya pencegahan stunting memang sangat diperlukan. Mulai dari menjaga kesehatan para remaja, hingga memastikan 1000 hari kehidupan berjalan baik. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *