Paket Melukat Isoterik Ala Desa Wisata Aan Klungkung Bali

Tak Berkategori45 Dilihat

Bali (Haluan Indonesia) – Senen, 31 Juli 2023. Beji Petirtan Bukit Batu Kembar, Lokasi Melukat di Desa Aan Kecamatan Banjarangkan Kabupaten Klungkung Bali.

Diawali dari perjalanan seminggu yang lalu.

Pada Minggu, 23 Juli 2023 saya berdiskusi dengan Kepala Desa Aan, Bapak Wira Adnyana beserta para ‘pendekar’ utama Pokdarwis desanya. Diskusi panjang tentang konsep wisata spiritual yang akan dijadikan unggulan.

Selang tiga harinya, saya dikirimi foto-foto masyarakat Desa Aan yang tengah bersemangat bersama-sama bergotong royong di Beji. Wah… ini baru benar-benar sebuah bentuk Community Bases Tourism atau pariwisata berbasis masyarakat.

Beji (lokasi sumber air di desa-desa di Bali yang disucikan) di Desa Aan yang diberi nama Petirtan Bukit Batu Kembar, sedang mereka persiapkan menjadi tempat ‘melukat’ atau ritual penyucian diri dengan menggunakan sarana air salah satunya – semacam ritual ruwatan kalau di Jawa – bagi warga desa dan para wisatawan.

Menuju Momentum Spirit Hari Mata Air Sedunia, 29 Juli 2023.

Seperti sebuah kebetulan, pada saat yang hampir bersamaan, saya mendapatkan telepon pemberitahuan dari seorang teman di Jawa Timur, seorang tokoh Budaya Leluhur Jawa Kapitayan, bahwa tanggal 29 Juli besok merupakan Hari Mata Air Sedunia.

Dua berita tentang mata air yang datangnya bersamaan itu, tiba-tiba membuat saya teringat pengalaman saya di tahun 2018 melakukan penelitian secara tandem dengan anak saya.

Penelitian tentang esensi melukat dikaitkan dengan pariwisata. Lokasinya di Penglukatan Pura Dalem Pingit / Pura Kusti Desa Pekraman Sebatu Kecamatan Tegallalang Gianyar Bali, yang hasilnya kami presentasikan bersama dalam sebuah Seminar Nasional di Kampus Institut Hindu Dharma Denpasar (sekarang Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa).
Saat itu anak saya sedang menempuh pendidikan tahap akhir di Sekolah Tinggi Pariwisata Bali (Sekarang bernama Politeknik Pariwisata Bali) dan sedang terjadi fenomena yang menarik yaitu ramainya wisatawan asing yang tertarik untuk melakukan ritual melukat di penglukatan tersebut.

Sebagai gambaran, kunjungan Wisatawan Asing yang melukat saat itu tiap bulan dari bulan Maret sampai dengan Mei 2018 masing-masing 1.360, 1.490 dan 1.600 orang. Ribuan wisatawan asing melukat setiap bulannya. Sebuah angka kunjungan yang lumayan bukan ? Belum lagi masyarakat lokal, yang jumlahnya bisa mencapai puluhan kali lipat.

Alam rupanya sedang memberi tugas lanjutan kepada saya untuk mengimplementasikan hasil penelitian lima tahun yang lalu itu ke dalam bentuk program di sebuah Desa Wisata. Desa Wisata yang benar-benar digerakkan oleh masyarakatnya untuk kesejahteraan warganya (Community Bases Tourism). Yang terpilih oleh alam rupanya Desa Wisata Aan, Kecamatan Banjarangkan Kabupaten Klungkung Bali.

Bukan kebetulan, saya mendapat tugas menjadi Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Bali organisasi baru Indonesia Homestay Association (IHSA) yang bertujuan menggerakkan homestay-homestay di pedesaan, khususnya di Desa-desa Wisata. Tugas ini akhirnya yang membuat saya hadir dan berdiskusi panjang dengan Kelompok Sadar Wisata Desa Aan bersama Sang Kepala Desa. Dan klik, ada yang nyantol, sebuah gagasan mendasar saya persembahkan.

Desa Aan ternyata memiliki sejarah bahkan petilasan-petilasan termasuk pura dan pusaka yang erat kaitannya dengan Petapaan atau Pertapaan. Dibuktikan juga dengan satu tempat yang dinamai dengan Petapan. Tokoh sentralnya adalah Leluhur awal (Istilah di Bali : Betara Lelangit) desa ini yaitu Pasek Gelgel.

Yang dimaksud dengan istilah tapa atau bertapa pada jaman dulu, adalah aktifitas bersemedi atau bermeditasi. Pola hidup para pertapa mengikuti laku spiritual yang penuh disiplin yang disebut dengan yoga. Sehingga seorang pertapa disebut sebagai seorang yogi. Kalau sekarang bermunculan bentuk–bentuk yoga yang praktisinya belum melakukan meditasi bahkan masih merokok, minum-minum dan masih terbawa hawa nafsu, itu karena Yoga sudah disalahpahami dan hanya dijadikan branding untuk tujuan materi.

Intuisi saya meyakini bahwa para pengikut Pasek Gegel dan keturunannya, dalam beberapa generasi masih menjalankan tapa dan pola hidup yogi dalam kehidupannya. Sampai akhirnya waktu dan perubahan-perubahan jaman mengubahnya menjadi bentuk kehidupan seperti sekarang yang mengedepankan ritual.

Dalam kajian penelitian tersebut, saya menjelaskan bahwa pola hidup yogi itu menghasilkan tipologi beragama yang Isoterik atau berorientasi ke dalam diri. Seorang meditator selalu berusaha mengembangkan kesadaran diri, untuk menemukan jati diri dan menyelaraskan diri dengan alam dan hakekat kehidupan.

Seorang penganut Isoterik akan menghargai dirinya, percaya diri, memiliki sikap tenang dan tidak mudah gelisah. Mereka tidak mudah tergoyahkan oleh kondisi di luar diri dan tidak mudah terjebak dengan keterikatan materi dan hal-hal yang bersifat duniawi.

Tipologi lawannya adalah Eksoterik, yang memiliki orientasi keluar. Banyak faktor yang mempengaruhi terbentuknya tipologi ini. Penguasa dalam berbagai bidang termasuk otoritas keagamaan, di setiap jaman, selalu berusaha melanggengkan kekuasaan dengan membuat sistem yang menghambat pemberdayaan diri masyarakat. Menciptakan ketergantungan pada hal-hal di luar diri. Lain kali bisa kita bahas hal ini panjang lebar.

Tipe eksoterik mendominasi masyarakat dunia saat ini, dan semakin menjadi-jadi dengan adanya kemajuan teknologi internet yang menghasilkan sistem viralitas. Hidup terasa kejar-kejaran. Idola-idola palsu bermunculan dengan cepat dan dengan cepat pula lenyap. Atau kehadirannya tidak memberikan manfaat apapun kepada penggemarnya selain eksploitasi. Akhirnya banyak orang yang tidak sempat mengenali dirinya dan hidupnya dipenuhi kegelisahan.

Desa Aan memiliki potensi untuk menggerakkan ‘Melukat Isoterik’. Bukan hanya bertujuan untuk memenangkan persaingan dalam riuhnya wisata melukat di Bali saat ini. Itu mah tujuan eksoterik lagi.. he he he. Ada tujuan yang lebih mendasar dan mulia daripada sekedar menghasilkan cuan dari pariwisata.

Melukat Isoterik yaitu melukat yang didahului dengan proses mengangkat dan mengasah sisi-sisi isoterik manusia. Caranya adalah dengan kembali menghidupkan tradisi meditasi untuk masuk ke dalam diri, menjadi pengamat terhadap diri sendiri. Tradisi tapa khas Desa Aan dihidupkan.

Bagi wisatawan, proses ini membutuhkan waktu beberapa hari tinggal di Desa. Karenanya, rumah-rumah penduduk bisa difungsikan sebagai homestay-homestay dan perekonomian masyarakat akan bergulir. Paket – paket melukat yang ada saat ini paling hanya menghasilkan pendapatan parkir dan tiket masuk bagi desa.
Dan hanya segelintir pedagang dan pemilik warung di sekitar lokasi yang mendapat manfaat.

Saya sendiri pernah melakukan beberapa kali melukat sebelum mengenal latihan meditasi. Karena masih berpaham eksoterik, saya memiliki pemahaman bahwa ritual itu sepenuhnya yang akan menyelesaikan masalah – masalah saya dan membersihkan semua kekotoran bathin saya. Selama proses melukat, saya hanya sibuk mencari-cari sensasi. Menunggu-nunggu mujizat sebagai pembuktian manfaat yang akan saya terima. Itu membuat proses melukat tidak khusuk.

Sangat berbeda dengan melukat setelah saya mengenal dunia meditasi. Saya menjadi lebih khusuk. Niat dari awal sudah terkoreksi. Saya melukat dengan memasrahkan diri. Membiarkan energi murni semesta melalui air murni yang bersumber dari Ibu Bumi mengguyuri badan, pikiran dan batin saya. Saya niatkan dengan sadar untuk meluruhkan segala kekotoran fisik, ego yang merupakan sampah pikiran saya, segala energy negative dan ketidakberdayaan saya.

Seperti battery yang di-charge, biarlah kekuatan semesta menyucikan segala lapisan diri saya dan mengisi kesadaran saya dengan energy Kasih Ilahi. Kelegaannya akan terasa sangat berbeda. Melukat isoterik membuat kita bersentuhan dengan spirit dan ritual itu. Spirit dari ritual, spiritual.

Pola latihan meditasi ini sebaiknya dijalankan terlebih dahulu oleh masyarakat Desa Aan. Ada semacam persiapan berupa pemberdayaan diri sebelum melakukan ritual melukat. Jadilah ini semacam gerakan pemberdayaan diri yang sangat penting dan mendasar bagi masyarakat. Gerakan merekontruksi kembali kearifan tapa Sang Leluhur Masyarakat Aan untuk menemukan pola hidup yang berkesadaran diri. Kemudian disempurnakan prosesnya dengan rutinitas ritual melukat.

Sudah pasti proses ini tidak bisa langsung melibatkan seluruh masyarakat. Pasti akan berjalan bertahap. Cukup dimulai dengan membentuk dan mengaktifkan komunitas meditasi dan Yoga. Komunitas ini juga yang akan melayani retret meditasi bagi para tamu selama beberapa hari sebelum penglukatan. Pemberdayaan dirinya dapat, cuannya dapat.

Wisata model begini akan diminati wisatawan dari negara maju yang pencapaian materinya sudah tinggi tetapi merasa ada yang hampa di dalam dirinya. Juga memungkinkan mereka akan datang lagi dan lagi. Sangat berbeda dengan paket wisata eksoteris, dimana sekali tamu datang sudah merasa cukup, perjalanan ke dalam diri seperti ini memang akan dirindukan. Desa Aan akan dirindukan…

Terimakasih kepada masyarakat Desa Aan yang telah memperlakukan mata air dengan penuh rasa hormat.

Selamat Hari Mata Air Sedunia, 29 Juli 2023.

Penulis : Nyoman Adikara Mahardikajaya, Penggerak Heritage Tourism, Ketua DPD IHSA (Indonesia Homestay Association) Bali.

Editor : Guntur Bisowarno

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *