banner 728x250

Upacara Adat Nyandran Sewu Lingkung di Blarangan

Avatar
banner 120x600

Gunungkidul – Upacara adat nyadran sewu ingkung di plataran makam raden tumenggung Djoyo Dikromo Suseco Ludiro padukuhan Blarangan kalurahan Sidorejo kapanewon Ponjong di ikuti oleh ratusan orang warga kalurahan Sidorejo di hadiri oleh Sekretaris Dinas Kebudayaan Gunungkidul mewakili bupati Gunungkidul beserta jajarannya, forkom pimpinan kapanewon Ponjong dan jajaran pemerintah kalurahan Sidorejo kapanewon Ponjong pada  Rabu (08/03/23).

Sambutan pertama bupati Gunungkidul yang dibacakan oleh Sekertaris Dinas Kabudayan Kabupaten Gunungkidul Agus Budi Sulistyo, S.IP, MM menjelaskan jika budaya Nyadran adalah bentuk wujud rasa syukur.

“Tradisi ini menyimpan banyak makna yang bukan hanya sekedar ritual menyambut datangnya Ramadhan namun juga mengandung makna sosial, salah satunya adalah relasi sosial yang terbangun,” katanya.

Dalam bacaanya Agus Budi juga menjelaskan bahwasanya Nyadran adalah bentuk kearifan lokal dalam melawan budaya individualis yang berkembang di masyarakat mengikuti perkembangan moderanitas.

Setelah usai acara Suprapti Dukuh Blarangan menceritakan kepada awak media bahwa tumenggung Suseco Ludiro adalah punggawa Majapahit yang melarikan diri bersama tumenggung Wayang menetap di daerah kalurahan Sidorejo kapanewon Ponjong. Beliau mengajarkan ilmu tentang pertanian diwilayah sekitarnya menjadi makmur dan juga setiap panen mewujudkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan cara Sesajen. (Mungkas M)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *