banner 325x300
banner 325x300
Kutai Barat

Lahan Warga Sakaq Lotoq Bersengketa Dengan PT DML, 4 Kali Dipanggil PDA Kubar tak Hadir

×

Lahan Warga Sakaq Lotoq Bersengketa Dengan PT DML, 4 Kali Dipanggil PDA Kubar tak Hadir

Sebarkan artikel ini

KUBAR – PT Daya Maju Lestari (DML) empat kali tidak memenuhi panggilan Presidium Dewan Adat (PDA) Kutai Barat terkait persoalan sengketa lahan Kelompok Tani Sinar Makmur, Kampung Sakaq Lotoq, Kecamatan Mok Manaar Bulatn, Rabu (23/9/2026).

Sekretaris II Presidium Dewan Adat (PDA) Kubar, L Markos K, mengatakan ketidakhadiran PT DML membuat mediasi dengan warga belum terlaksana.

Padahal, PDA telah empat kali menyampaikan surat panggilan kepada manajemen PT DML untuk membahas persoalan lahan tersebut.

“Kami sangat mengharapkan pihak DML atau manajemen PT DML kooperatif. Kami tetap menangani persoalan ini agar masyarakat bisa bertemu dengan pihak PT DML,” ujarnya.

Dijelaskan Markos, PDA tetap membuka ruang bagi PT DML untuk hadir dan bertemu dengan masyarakat. Pertemuan itu diharapkan dapat memperjelas persoalan lahan yang dilaporkan Kelompok Tani Sinar Makmur.

PDA Kubar belum mengarah pada pemberian sanksi kepada PT DML. Menurutnya, mediasi masih menjadi pendekatan utama dalam penyelesaian persoalan tersebut.

“Kita belum mengarah ke masalah sanksi. Karena memang demikianlah adat ini kami mengutamakan mediasi,” imbuhnya.

Anggota Kelompok Tani Sinar Makmur, Kornelius, mengatakan, kelompok tani mereka terbentuk sejak 2007. Warga kemudian menggarap lahan tersebut selama sekitar empat tahun sebelum PT DML masuk ke lokasi.

Menurutnya, aktivitas PT DML sempat berhenti setelah warga melakukan penolakan. Namun, pada 2025, perusahaan kembali masuk dengan pimpinan baru dan menggarap lahan tanpa sepengetahuan kelompok tani.

“Jadi tahun 2025, pihak PT DML datang menyerobot tanpa sepengetahuan kami. Artinya lewat belakang, bukan dari jalan posisi depan,” urainya.

Kata Kornelius, warga mengetahui aktivitas itu setelah mendapat informasi dari orang yang melihat penggarapan di lokasi. Mereka kemudian mendatangi lokasi dan meminta pekerja menghentikannya.

Namun, pekerja kembali melanjutkan penggarapan setelah warga meninggalkan lokasi. Teguran diakuinya telah beberapa kali disampaikan.

“Sudah beberapa kali kami sampaikan, tapi mereka tetap tidak merespons. Saat kami sampaikan pagi atau siang, mereka memang istirahat dulu. Tapi setelah kami pulang, mereka bekerja lagi,” ungkapnya.

Kornelius menyebutkan, di lokasi terdapat tanaman karet, buah-buahan dan pondok. Sebagian tanaman karet sempat terbakar, tetapi masih tersisa dan diharapkan bisa dimanfaatkan warga.

“Setelah mereka masuk lagi, lahan itu langsung dibersihkan dan didorong habis,” terangnya.

Ketua Kelompok Tani Sinar Makmur, Nyorim menyampaikan, bahwa warga sebelumnya telah berupaya menyelesaikan persoalan tersebut melalui pemerintah kampung dan Kepala Adat.

Warga kemudian mendatangi RT setelah mengetahui aktivitas di lokasi tetap berlangsung. Dari RT, mereka diarahkan menemui Kepala Adat Kampung.

Namun, upaya itu belum menghasilkan penyelesaian. Warga akhirnya membawa persoalan tersebut ke PDA Kubar.

“Jadi kami sampai tembus ke Presidium Dewan Adat,” paparnya.

Nyorim mengatakan warga memilih jalur adat untuk mencari penyelesaian. Mereka juga masih mengedepankan cara persuasif dan belum menempuh aksi demonstrasi.

“Kami ini adalah masyarakat adat yang tunduk kepada aturan adat,” tuturnya.

(RICARD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 325x300