KUBAR – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Barat (Kubar) bersama Presidium Dewan Adat (PDA) menggelar ritual Melas di UPT Museum Etnografi Sendawar, Kompleks Perkantoran Bupati Kubar, Sabtu (12/09/2026).
Kegiatan itu merupakan ritual rutin yang digelar setiap tahun untuk membersihkan dan merawat benda-benda peninggalan leluhur yang tersimpan di museum.
Kepala Disdikbud Kubar, Kamius Junaidi mengatakan kegiatan ini menjadi salah satu upaya menjaga warisan budaya agar tetap dikenal oleh generasi penerus.
Koleksi yang tersimpan di museum terdiri dari berbagai artefak budaya Tunjung-Benuaq. Di antaranya tikar, anjat, pakaian adat, guci, tempelaq, alat behempas, serta alat tradisional untuk menumbuk padi.
“Ini sebagai warisan leluhur yang kita lakukan agar eksistensi budaya kita tidak hilang. Kita ingin budaya itu tetap terlihat sampai ke anak cucu,” ujarnya.
Disdikbud Kubar juga berencana mengusulkan pembangunan museum khusus untuk menampung berbagai benda peninggalan tersebut. Saat ini, Museum Etnografi Sendawar masih menggunakan bangunan yang sebelumnya merupakan gedung kantor.
Kamius menjelaskan, museum ke depan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan koleksi. Disdikbud akan mendorong kunjungan pelajar agar mereka dapat mengenal adat dan budaya Tunjung-Benuaq secara langsung.
Pemkab Kubar juga berencana berkolaborasi dengan PDA untuk membenahi sejumlah situs budaya yang masih perlu dilestarikan. Situs-situs itu diharapkan dapat kembali dikenal masyarakat, sekaligus memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai objek wisata budaya.
“Ini bagian dari upaya kita meningkatkan budaya, sekaligus mendukung objek yang dari sisi pariwisatanya bisa dikunjungi publik,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua PDA Kubar, Yurang mengatakan, pihaknya membantu pelaksanaan ritual karena memiliki orang-orang yang memahami teknis Melas.
Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki nilai edukasi bagi masyarakat, terutama anak-anak, untuk mengenal berbagai benda peninggalan lama yang tersimpan di museum.
Selain membersihkan benda secara fisik, Melas dalam pemahaman adat juga memiliki makna spiritual. Ritual ini dipercaya sebagai bagian dari upaya membersihkan unsur mistis yang berkaitan dengan benda-benda peninggalan leluhur.
“Kegiatan ini bagus sekali untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya anak-anak kita, tentang barang-barang peninggalan lama yang ada di museum,” kata Yurang.
Yurang mengatakan keterlibatan PDA dalam ritual tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap Disdikbud dalam menjaga adat dan budaya lokal. Upaya itu diharapkan membuat budaya tetap lestari dan dikenal oleh generasi berikutnya. (RICARD)














