BANDAR LAMPUNG – Kodam XXI/Radin Inten mengonsolidasikan 56 komponen pendukung dari berbagai organisasi kemasyarakatan, kepemudaan, profesi, dan elemen masyarakat dalam Pertemuan Koordinasi Seruan Nasional Angkatan Bersenjata di Aula Sudirman, markas Kodam XXI/Radin Inten, Jumat (16/10/2026).
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari persiapan Apel Kebangsaan yang dijadwalkan berlangsung pada 26 Oktober 2026. Konsolidasi dilakukan untuk memperkuat koordinasi antara TNI dan elemen masyarakat dalam menumbuhkan kesadaran bela negara serta menjaga persatuan dan kesatuan di wilayah Lampung dan Bengkulu.
Sejumlah organisasi yang terlibat di antaranya Asosiasi Wartawan Profesional Indonesia (AWPI), Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Lampung, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Pemuda Panca Marga (PPM), Himpunan Putra Putri Keluarga Angkatan Darat (HIPAKAD), Gerakan Pemuda Ansor, Pemuda Muhammadiyah, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Lampung, serta Masyarakat Transparansi Merdeka (MTM).
Keterlibatan berbagai organisasi tersebut diharapkan memperkuat komunikasi lintas elemen sekaligus menyatukan persepsi mengenai peran masyarakat dalam menjaga kondusivitas wilayah.
Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Panca Marga (PPM) Provinsi Lampung, Slamet Riadi, S.Sos., M.M., menyambut positif langkah Kodam XXI/Radin Inten yang melibatkan berbagai organisasi dalam agenda konsolidasi tersebut.
Menurut Slamet, koordinasi lintas organisasi menjadi penting untuk membangun kesamaan pandangan dan memperkuat kemitraan antara TNI, organisasi kemasyarakatan, serta organisasi kepemudaan.
“Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempererat kemitraan antara TNI dan ormas dalam menjaga kondusivitas wilayah Lampung. Sebagai tindak lanjutnya, kami merencanakan gelaran Apel Kebangsaan yang akan dilaksanakan pada 26 Oktober mendatang,” ujar Slamet.
Ia menambahkan, organisasi kemasyarakatan dan elemen pemuda siap berkolaborasi dengan pemerintah daerah serta Kodam XXI/Radin Inten untuk menjaga persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pandangan serupa disampaikan Ketua LSM Masyarakat Transparansi Merdeka (MTM) Provinsi Lampung, Ashari Hermansyah. Ia menilai konsolidasi tersebut relevan dengan tantangan kebangsaan di tengah perkembangan teknologi informasi dan meningkatnya arus komunikasi digital.
Ashari menekankan bahwa upaya bela negara saat ini tidak hanya berkaitan dengan pertahanan fisik, tetapi juga kemampuan masyarakat menyikapi informasi secara kritis dan bertanggung jawab.
“Acara yang digagas Kodam XXI/Radin Inten ini sangat baik dan strategis untuk menyatukan persepsi seluruh komponen masyarakat terkait aksi nyata bela negara. Di era digital saat ini, pola ancaman terhadap kedaulatan bangsa telah bergeser. Masyarakat harus ekstra waspada terhadap serbuan informasi provokatif, ujaran kebencian, maupun isu-isu hoaks yang berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan di daerah,” tegas Ashari.
Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan literasi media agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi maupun narasi provokatif di media sosial.
Menurutnya, sinergi antara TNI, pemerintah, organisasi kemasyarakatan, dan elemen sipil perlu dibangun secara berkelanjutan agar upaya menjaga persatuan tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
“Arus informasi digital yang begitu cepat menuntut masyarakat untuk semakin bijak dan berhati-hati terhadap provokasi siber yang dapat mengancam integrasi bangsa. Penguatan kesadaran bela negara menjadi benteng moral utama agar publik tidak mudah terpengaruh oleh narasi-narasi destruktif di dunia maya. Sinergi berkelanjutan antara TNI, pemerintah, dan elemen sipil seperti inilah yang sangat dibutuhkan untuk membentengi publik sekaligus menjaga kondusivitas wilayah,” jelasnya.
Pertemuan koordinasi ini menempatkan keterlibatan masyarakat sebagai salah satu unsur penting dalam Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata), yang menekankan keterpaduan peran komponen utama, komponen cadangan, dan komponen pendukung sesuai ketentuan yang berlaku.
Melalui konsolidasi tersebut, persiapan Apel Kebangsaan pada 26 Oktober mendatang diharapkan semakin matang. Selain memperkuat wawasan kebangsaan, kegiatan itu diharapkan menjadi ruang kolaborasi bagi berbagai organisasi untuk berkontribusi dalam menjaga persatuan, meningkatkan kepedulian sosial, dan mendukung kondusivitas wilayah Lampung dan Bengkulu.
Meski demikian, bentuk kegiatan, susunan acara, dan agenda lanjutan Apel Kebangsaan masih perlu dipastikan melalui keterangan resmi penyelenggara. (Red)














