banner 325x300
banner 325x300
DaerahTulang Bawang Barat

Tubaba Luncurkan Inovasi Sampah Plastik Diubah Menjadi Bahan Bakar

×

Tubaba Luncurkan Inovasi Sampah Plastik Diubah Menjadi Bahan Bakar

Sebarkan artikel ini

TUBABA – Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) menemukan cara baru untuk mengatasi tumpukan sampah sekaligus menciptakan manfaat ekonomi: mengubah limbah plastik menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM). Proyek percontohan ini berpusat di TPS 3R Kelurahan Mulya Asri, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, di bawah arahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DLH Tubaba, Dwi Supriyanto, S.T., menjelaskan bahwa langkah ini masih dalam tahap pengujian dan penyempurnaan performa.

“Ini upaya kita memberi nilai tambah pada sampah plastik. Saat ini masih dievaluasi agar sistemnya benar-benar berjalan efektif dan bisa berlanjut ke depannya,” ujar Dwi pada Rabu (2/9/2026).

Untuk mewujudkannya, DLH menggunakan teknologi pirolisis generasi kelima buatan PT BSB/Bank Sampah Banjarnegara, yang dibeli lewat katalog elektronik APBD 2026 senilai Rp158,73 juta—sudah termasuk ongkos kirim dan pajak. Rangkaian alatnya meliputi tungku pembakaran, unit pengolahan, katalisator, hingga tangki sirkulasi, dengan proses pengadaan yang berjalan dari Juli hingga Agustus 2026.

Cara Kerja dan Hasil Produksi
Prinsip kerjanya sederhana namun canggih: plastik dipanaskan dalam sistem tertutup untuk dipecah menjadi bahan bakar. Kapasitas mesin mampu mengolah sekitar 50 kilogram limbah plastik setiap harinya dalam durasi 8–11 jam operasional. Dari jumlah itu, diharapkan bisa dihasilkan sekitar 40 hingga 45 liter bahan bakar yang kualitasnya menyerupai solar atau Pertamina Dex.

Selama seminggu percobaan dengan tiga kali putaran produksi, hasil BBM tersebut sudah dicoba dipakai pada kendaraan dinas, termasuk milik Bupati dan pimpinan DLH, dan berjalan lancar tanpa kendala. Keunggulan lain, mesin ini sudah teruji hak patennya dan mendapat verifikasi dari BRIN.

Bahan baku utamanya diambil dari kumpulan warga di sekitar lokasi, TPS setempat, serta Tempat Pembuangan Akhir. Jenis plastik yang dipilih harus bebas dari lapisan aluminium atau PVC agar tidak menurunkan kualitas hasil. DLH bahkan membeli plastik terpilih dari warga seharga Rp500 per kilogram untuk mendorong partisipasi masyarakat. Selain plastik, proses ini juga membutuhkan kayu bakar sebagai penunjang panas.

Dua tenaga ahli ditugaskan mengawasi jalannya produksi dan pemurnian bahan bakar.

Rencana Perluasan dan Harapan
Saat ini tim masih menghitung seluruh biaya operasional—mulai bahan baku, energi, hingga tenaga kerja—guna menetapkan harga jual yang masuk akal. Jika hasil evaluasi memuaskan, pemerintah berencana menambah unit serupa di berbagai kecamatan dengan pertimbangan pasokan bahan baku dan infrastruktur. Kolaborasi dengan pihak swasta melalui program CSR juga dibuka untuk memperkuat jangkauan.

Dwi berharap pola pikir masyarakat berubah: “Jangan lagi anggap sampah plastik sekadar beban lingkungan, tapi lihatlah sebagai sumber daya yang bernilai. Nantinya bisa dikembangkan lebih luas dan memberi keuntungan ekonomi bagi warga.”

Inisiatif ini diharapkan mampu menekan volume sampah yang menumpuk di tempat pembuangan akhir sekaligus membuka peluang penghasilan baru bagi warga sekitar. (An)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 325x300