Kubar – Direktur Perguruan Tinggi Politeknik Sendawar Kabupaten Kutai Barat, Selvina SH. MSi, mengungkapkan kekecewaannya pada ribuan warga saat mengingat poltek sendawar yang terseok-seok karena Kekurangan dana.
“Saya mengeluhkan bahwa poltek Sendawar selalu kekurangan dana bahkan hampir ditutup, seyogianya pemerintah dapat mendorong dan membantu keadaan satu satunya Perguruan tinggi di kubar,” ucap Selvina pada ribuan warga saat pembagian bantuan sosial Frederick Edwin, di lapangan PKK, Kecamatan Sekolaq Darat, Sabtu (13/5/2023).
Selvina mengaku Poltek Sendawar kesulitan biaya operasional dalam beberapa tahun terakhir ini. Sehingga harus pontang panting mencari dana dari berbagai pihak guna menyambung nyawa, pada satu-satunya perguruan tinggi di Kubar ini.
Apalagi selama ini mereka hanya berharap iuran SPP dari mahasiswa. Sedangkan bantuan dari pemerintah masih terbatas.
“Untuk beberapa tahun ini tidak ada lagi bantuan dana hibah dari pemerintah Kutai Barat. Walaupun sudah sering silaturrahmi untuk mengupayakan program bantuan dari pemerintah tapi ngga ada jawaban dilempar kesana sini,” ucapnya.
“Sangat bersyukur kemarin ada bantuan dana perpanjangan Akreditasi Politeknik Sendawar sebesar 175 juta dari Anggota DPR RI Ismail Thomas, SH. MSi, yang menyelamatkan nasib mahasiswa Poltek sendawar,” tambah selvi.
Selvi menjelaskan kondisi kampus politeknik Sendawar sejak tahun 2019 dalam keadaan tidak sehat dan sudah mengalami kesulitan biaya operasional dan persoalan yang cukup serius dalam menjalankan kegiatan tri dharma perguruan tingginya.
Pasalnya kondisi dosen di politeknik Sendawar merupakan tulang punggung pendidikan masih banyak yang memprihatinkan.
Diakibatkan kualitas pendidik dan pendidikan yang masih perlu ditingkatkan. Sebab tantangan yang harus dihadapi Penilaian Tengah Semester (PTS) adalah proses pendidikan terjamin dengan manajemen mutu yang baik
“Terlebih, saat ini PTS mendidik sebanyak 75 persen mahasiswa, sehingga perhatian pada kualitas perlu ditingkatkan. Untuk meningkatkan penilaian tengah semester (PTS) harus ditunjang sarana dan prasarana, mutu dosen dan mutu lulusan,” jelas Selvi.
Menurut Selvina pekerjaan dosen menjadi tidak optimal, sehingga perlu peningkatan kompetensi dan kesejahteraan yang harus serius di perhatikan.
“Sekitar 49 persen dosen masih berpendidikan Strata 1 (lulusan sarjana) dan hampir 50 pesen dosen berstatus tidak tetap atau berinduk lebih dari dua organisasi,” ucap Selvi.
“Dan yang memprihatinkan lagi ada dosen yang hanya dapat honor Rp.400 ribu perbulan karena pembayaran kami mampu perjam Rp.30 ribu,” tambah Selvi.
Selvi menerangkan Kompetensi perguruan tinggi, yang dimana hal yang paling utama adalah bagaimana mendorong agar PTS dapat mengembangkan diri menjadi universitas riset yang mampu menghasilkan jurnal paten dan hak kekayaan intelektual (HAKI).
Namun kondisi poltek sekarang justru kekurangan dosen dan mengakibatkan pendidikan yang diperoleh masih kurang.
“Benar ini menjadi tanggungjawab direktorat. Tapi disayangkan jika tidak dibantu pembiayaan maka itu semua tidak akan terwujud,” tegas selvi.
Kecintaannya terhadap poltek sendawar dan rela On the street menyuarakan supaya paham kondisi sesungguhnya poltek Sendawar.
“Masih ada kesempatan. Ayok kita sama memperbaiki,” ajak Selvina.
Tapi disayangkan, Sungguh miris nasib Politeknik Sendawar Pemkab saja tidak mendukung malah disuruh tutup.
Dilansir dari Media Kabarsahadi.id menanggapi itu Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kutai Barat, Sahadi, mengaku sependapat dengan Hetifah. “Posisi Pemkab Kubar saat ini sependapat jika memang kampus harus diaudit, diawasi dan jika perlu ditutup,” kata Sahadi. (Ricard)


