Unjuk Rasa Mahasiswa di Kantor DPRD Sorong Ricuh

  • Whatsapp

Sorong,- Aksi unjuk rasa ratusan mahasiswa didepan halaman kantor DPRD Kota Sorong pada Jumat siang berujung ricuh, Jumat (09/10/2020).

Unjuk rasa yang digelar di halaman kantor DPRD Kota Sorong tersebut menyikapi pengesahan RUU Omnibus Law Ciptaker menjadi UU.

Masa menuntut agar Pemerintah Pusat membatalkan penerapan UU Omnibus Law Ciptaker karena akan sangat berdampak fatal di daerah khususnya di tanah Papua.

Sebelumnya, aksi yang di awali pada pukul 9 pagi tersebut dengan melakukan pawai berjalan kaki atau longmarch dari titik kumpul jl. Kilang km. 10, kemudian bergerak menuju Kantor DPRD Kota Sorong berjalan lancar.

Terlihat saat sebelum masuk ke halaman kantor DPRD kota sorong, Kapolres Sorong Kota, AKBP Ary Nyoto Setiawan menghimbau bahwa aksi damai ini jangan sampai ada penyusup yang masuk, memanfaatkan situasi untuk kepentingan pribadi, jangan juga ikut-ikutan seperti yang sudah terjadi di daerah lain, dan kepada masa aksi harus mengikuti protokol kesehatan agar tidak terjadi cluster penyebaran baru.

Bahkan saat waktu mulai menjelang tengah hari, masa pun memutuskan untuk melakukan sholat Jum’at berjamaah di halaman kantor DPRD Kota Sorong, khususnya bagi kaum pria yang muslim.

Baca Juga :  Terkait PKH, Puluhan Emak Emak Sambangi Kantor AWPI Metro

Keharmonisan dan sikap toleransi tergambarkan saat sebagian masa (pria muslim) melaksanakan sholat jumat berjamaah tepat di bagian halaman kantor dan sebagian masa lainnya (Wanita dan non-Muslim lainnya) terlihat duduk melingkar melindungi shaf para jemaah sholat jum’at di halaman tersebut sambil menjaga ketentraman dalam melakukan peribadatan.

Setelah sholat Jumat yang digelar di halaman kantor tersebut usai, masa pun mulai kembali menyampaikan orasi ilmiah terkait pengkajian kritis menyikapi pengesahan Omnibus Law yang dinilai lebih condong mementingkan kebutuhan investor diatas kepentingan buruh.

Dalam orasinya, Musa Rumadedey selaku korlap menegaskan bahwa aksi yang di lakukan itu adalah aksi murnih, ia membantah tudingan-tudingan miring yang menyudutkan bahwa ada tunggangan dari oknum-oknum tertentu dalam aksi itu.

“hadirnya kami semua disini berdasarkan dari keterpanggilan hati kami, tanpa ada tunggangan dan paksaan dari pihak manapun, skali lagi ini murnih berdasarkan keterpanggilan dari hati kami untuk rakyat” Tukasnya.

Dalam orasi ilmiahnya, ia juga menjelaskan bahwa Omnibus Law ini akan sangat berdampak di daerah, khususnya di Papua karena sebagian besar lahan ini adalah tanah adat, UU ini tentu akan sangat mengancam eksistensi dari masyarakat adat yang ada di nusantara dikarenakan proyek-proyek penguasaan lahan yang liberal dan kapitalistik, dan sekaligus undang-undang ini melegitimasi masyarakat adat sebagai batu sandungan dalam pembangunan nasional.

Baca Juga :  Warnai Hari Sumpah Pemuda Ke-92 Taruna – Taruni Akpol Gelar Kegiatan Sosial

Kericuhan ini berawal dari saling bentrok antara masa dan kepolisian, akibat para demonstran mendesak untuk masuk ke dalam Gedung DPRD Kota Sorong, untuk melakukan sidang paripurna bersama Pimpinan dan anggota DPRD Kota Sorong, guna membahas persoalan Omnibus Law.

Namun setelah mendengarkan penyampaian atau respond dari salah satu anggota DPRD kota Sorong, yang hanya meminta beberapa orang perwakilan dari 5 kelompok organisasi yang terhimpun di dalam cipayung plus yang diizinkan masuk kedalam Gedung DPRD untuk bernegosiasi dengan para legislator di DPRD Kota Sorong.

Hal ini lah yang memicu kemarahan dari ratusan mahasiswa, sehingga mereka mencoba untuk menabrak dan menerobos barikade dari anggota Kepolisian dan Brimob Sorong yang berdiri dengan menggunakan tameng dan senjata gas air mata, di depan Kantor DPRD Kota Sorong.

Baca Juga :  PERMASA Tanjungpinang Bangun Balai Adat Aceh

Melihat gerakan dari para demonstran yang sudah tidak terkontrol lagi, ratusan aparat Kepolisian langsung mengambil sikap cepat membubarkan masa aksi yang sudah mulai lepas kontrol dengan menembakan gas air mata ke arah para demonstran.

Tidak terima ditembak gas air mata, masa demonstran pun dengan brutalnya melempar batu ke arah para aparat kepolisian.

Belum diketahui tolal kerugian dari rusaknya fasilitas umum pada aksi tersebut, namun dampak dari kericuhan itu menyebabkan rusaknya berbagai fasilitas umum dan salah satu anggota Polisi terluka akibat lemparan batu serta puluhan demonstran mengalami sesak nafas akibat gas air mata.

Saat di konfirmasi dan di tanyai oleh tim media Haluan Indonesia seusai peristiwa kericuhan itu terjadi, terkait keterlibatan anak sekolah dalam aksi tersebut, Musa menjelaskan bahwa keterlibatan anak sekolah yang rata-rata berasal dari STM Kota Sorong tersebut adalah reflek dari empati mereka terhadap kondisi sosial yang sedang terjadi, “itu murnih dari hati dan kesadaran mereka, bahkan tidak ada ajakan sama skali kepada mereka untuk terlibat dalam aksi tersebut. Itu murnih dari keinginan mereka sendiri, tutupnya.(26/IL)

Facebook Comments