Terungkap, Ternyata SAR Meninggal Sudah 2,5 Bulan

Terungkap, Ternyata SAR Meninggal Sudah 2,5 Bulan

PEMALANG – Bocah perempuan bernama Saskia Anggina Ramadani, 14, warga Dukuh Sokatapa RT.20 RW.03 Desa Plakaran Kecamatan Moga ternyata sudah cukup lama tidak dimakamkan oleh pihak keluarganya. Jasad anak tersebut dibaringkan layaknya orag yang sedang tidur di atas kasur.

Kepala Desa Plakaran Kecamatan Moga Nur Laela mengungkapkan, SAR (seperti diberitakan sebelumnya dengan inisial SA) merupakan anak satu-satunya Prihati. Meski dalam KK tidak tercantum, Prihati mengaku bahwa anaknya merupakan buah perkawinannya dengan Rohmat, warga asli Jawa Timur yang bekerja merantau di Jakarta. Sementara Prihati sendiri bekerja mengurus rumah tangga, yang penghasilannya sangat mengharapkan kiriman dari suaminya yang berada di Jakarta. “Tidak bekerja, hanya sebagai ibu rumah tangga,” jelasnya kepada Rabu (12/1/2022).

Nur Laela menjelaskan, karena suatu penyakit, anaknya SAR meninggal dunia. Namun layaknya seseorang yang telah meninggal, SAR tidak buru-buru dimakamkan, namun justru diselimuti dan dibaringkan seperti orang tidur. Meski sudah tidak bernafas dan tenang orang tuanya menganggap bahwa anaknya belum meninggal dunia. Sehingga orang tuanya terus merawat hingga diselimuti kain. “Bapaknya, waktu ditanya anaknya tidak makan dan minum (anteng) sudah 2,5 bulan,” papar dia.

Saat disinggung banyaknya suara-suara miring diluar, bahwa orang tuanya mengikuti suatu aliran yang meyakini anaknya masih hidup, Nur Laela mengatakan, tidak tahu soal seperti itu. Menurutnya Prihati merupakan warganya yang sama seperti warga-warga lainnya. hanya saja, ada kejanggalan dalam KKnya tertulis sebagai kepala keluarga adalah dirinya, sementara Rohmat yang katanya suaminya tidak tercantum dalam KK tersebut.

“Saya tidak tahu betul, tidak dimakamkan mungkin karena saking sayangnya terhadap anak,” terangnya.

Yang agak beda lagi, lanjut Nur Laela, di dalam komplek rumah, yakni di belakang rumah, namun masih berada di dalam rumah, karena rumah dipagar tembok, ada gundukan makam yang menurut pengakuan Prihati adalah makam adiknya yang sudah meninggal lebih dulu dari anaknya. Anggota keluarga yang meninggal dimakamkan didalam kompleks rumahnya, padahal warga lain dimakamkan di tempat pemakaman umum.

“Ini yang juga cukup aneh dan beda dari warga lainnya,” tandas dia.

Seperti diwartakan sebelumnya, berkat upaya persuasif dari Forkopimca Moga dan tokoh masyarakat, jasad SAR yang dibiarkan terbaring cukup lama, akhirnya dapat dimakamkan. Jasad SAR dimakamkan berdampingan dengan jasad adik dari ibunya (adik Prihati). Oleh tim medis yag melakukan pemeriksaan, SAR meninggal karena penyakit TB Paru yang dideritanya cukup lama. (Tris, rd)

Pos terkait