Sosialisasi Peningkatan Kapasitas Kader Stunting di Kapanewon Saptosari

Sosialisasi Peningkatan Kapasitas Kader Stunting di Kapanewon Saptosari

GUNUNGKIDUL – Sosialisasi peningkatan kapasitas kader stunting kapanewon Saptosari dilaksanakan,. di pendopo kapanewon Saptosari dengan narasumber dari TP PKK kabupaten Gunungkidul dengan peserta dari PKK kapanewon Saptosari di hadiri oleh pembina PKK tingkat kabupaten Gunungkidul Diah Purwanti Sunaryanta, Selasa (7/12/2021).

Dalam kegiatan tersebut beliau memberikan bantuan beberapa alat ukur bayi dengan harapan agar pemantau dan edukasi tentang stunting dapat dimengerti dan dipahami masyarakat sehingga permasalahan stunting dapat teratasi sehingga menjadi bayi yang sehat generasi yang kuat.

Kemudian dilanjutkan sosialisasi oleh pokja 4 PKK kabupaten Gunungkidul menjelaskan tentang Stunting yang disebabkan oleh:

1. Kurangnya pengetahuan masyarakat dalam mengartikan apa itu stunting, masih banyak yang menganggap stunting itu pendek saja.

2. Pola makan pada keluarga yang salah, tidak memenuhi B2SA (Bergizi, Beragam, Seimbang, dan Aman).

3. Asupan gizi Bumil (ibu hamil) dari mulai terbentuknya janin sampai bayi usia 24 bulan tidak memadahi (tidak terpenuhi dengan baik).

4. Masih ada keluarga dan Bumil ibu hamil) yang tidak peduli dengan kehamilannya.

5. Jarak kelahiran anak yang pertama dengan yang lain terlalu dekat.

Baca Juga :  Gerakan 10 Juta Bendera HUT RI ke 77, PJ Bupati dan Kapolres Bagikan Bendera Merah Putih

6. Melahirkan anak terlalu muda/terlalu tua.

7. Lahir prematur PB < 48cm, BB < 2,5 kg.

8. Ada penyakit penyerta/ bawaan.

9. Adanya KTD dan anak melahirkan bayi.

10. Faktor ekonomi.

11. Tekanan batin

12. Tumbuh kembang janin tidak sesuai dengan usia kandungan (lambat).

13. PHBS dan LBS yang tidak memadahi

14. STBM. 5 pilar.

Bagaimana cara mencegah stunting :

1. Sosialisasi, edukasi, dan motivasi untuk masyarakat agar dapat memahami dan melakukan hal-hal yang dapat mencegah terjadinya stunting, lewat pertemuan yang ada di kelompokkelompok kegiatan yang ada di lingkungan masyarakat.

2. Ciptakan inovasi-inovasi dalam mengedukasi masyarakat.

3. Libatkan kaum milenial/generasi muda agar dapat mengakses ilmu dari luar (IT), yang menyangkut kesehatan termasuk mengedukasi anak-anak untuk belajar perilaku hidup bersih dan sehat serta lingkungan bersih dan sehat.

4. Tumbuhkan kegiatan Bina Keluarga Balita (BKB), Bina Keluarga Remaja agar anak usia dini dapat dilatih oleh orang tuanya selalu disiplin dalam berbagai aspek kehidupan, juga untuk mencegah pernikahan usia dini.

Baca Juga :  Bahas KUA-PPAS 2023, Komisi lV DPRD Jambi RDP Dengan Empat Mitra Kerja

5. Mengedukasi remaja putri agar tidak diet sembarangan, perbanyak makan sayur, buah, protein, agar tidak menderita anemia. Bila WUS menderita anemia bisa menciptakan bayi prematur akibatnya berat bada lahir rendah (BBLR).

6. Periksa kehamilan secara rutin dan patuhi anjuran nakes.

7. Untuk KTD harus ada perhatian ekstra khusus, terutama yang diluar nikah karena mereka bisa berperilaku tidak peduli/masa bodoh.

8. Jaga emosi Bumil (ibu hamil) berikan kasih sayang yang cukup.

Karena kalau batinnya tertekan akan menimbulkan luka batin yang berakibat lahirnya bayi stunting.

Ad 3. Bagaimana penanganan bayi stunting :

1. Beri ASI eklusif selama 6 bulan penuh secara benar termasuk ASI yang pertama keluar yang disebut colustrum karena mengandung zat kekebalan tubuh bagi bayi.

2. Lakukan pemberian imunisasi dasar lengkap sesuai dengan petunjuk nakes.

3. Setelah 6 bulan keatas berikan MP ASI atau makanan padat sesuai usianya yang mengandung B2SA (Bergizi, Beragam, Seimbang, dan Aman). Bila harus diberi susu formula perhatikan takarannya sesuaikan dengan usia baduta.

Baca Juga :  Komisi III Terima Audiensi Perwakilan Ojol Jambi

4. Jangan membiasakan anak diberi makanan ringan yang mengandung bahan makanan tambahan yang berbahaya bagi bayi dan balita (penyedap rasa, pemanis, pengawet, dan pewarna)

5. Taati 1000 HPK (1000 Hari Pertama Kelahiran) dari mulai dinyatakan positif hamil sampai baduta.

Selanjutnya Pokja 4 berpesan kepada peserta agar tetap terapkan prokes 5M. Bayi stunting perkembangan otaknya hanya bisa diperbaiki sampai usia 24 bulan. Perkembangan fisik bisa diperbaiki sampai 60 bulan. Anak stunting harus sering konsultasi dengan nakes. Anak stunting harus sering diajak bersosialisasi dengan anak lain agar tidak minder. Jangan mencela fisik mereka berilah dukungan agar mereka merasa keberadaannya dapat diterima di lingkungannya.

Selanjutnya Panewu Saptosari Akirno, S.Sos, M.Si memberikan keterangan kepada awak media di ruangnya terkait dengan kegiatan tersebut akan mengembangkan sosialisasi tersebut sampai ketingkat bawah melalui kesempatan tertentu sehingga edukasi tentang stunting dapat di pahami oleh semua lapisan masyarakat dan beliau menargetkan angka stunting di kapanewon Saptosari turun sesuai dengan harap pemerintah untuk mewujudkan generasi yang sehat. (Mungkas)

Pos terkait