Sempat Bersitegang, Keluarga Korban Tenggelam Sesalkan Penanganan RS Islam

  • Whatsapp

METRO — Persoalan yang timbul terkait dengan meninggalnya anak salah seorang wartawan di Kota Metro, Abid Bisara yang kemarin hendak dibawa ke Rumah Sakit Islam yang membutuhkan pertolongan pertama setelah korban tenggelam di saluran irigasi pada Minggu, 04 Oktober 2020.

Persoalan itu timbul karena informasi dari rekaman yang dihimpun awak media sempat terjadi penolakan ketika korban masih dalam keadaan bernyawa pada saat dibawa ke IGD RS Islam, penolakan itu dengan alasan pada hari Minggu (libur) tidak ada dokter jaga.

Awak media juga sudah melakukan konfirmasi sebelum pemberitaan itu terbit, awak media konfirmasi dari pihak IGD untuk melakukan konfirmasi kepada petugas yang jaga pada saat itu.

Direktur RS Islam, dr. Amelius Ramli, mengatakan, menurutnya kemarin ruang IGD RS Islam sedang dalam proses sterilisasi akan adanya virus covid-19 yang menimpa salah satu karyawan di RS Islam Kota Metro.

“Kemarin itu kondisi ruang IGD kami sedang disterilkan karena ada salah satu dari karyawan kita itu dicurigai terinfeksi virus Corona. Jadi kami bersihkan ruang IGD itu kami semprot supaya steril jadi ruang IGD itu tidak bisa dibuka dan dilalui. Kejadian itu dari hari Jumat sehingga harus dibersihkan dulu dan disemprot olehkarena itu ruangan tidak bisa dipakai,” kata dia, Senin, 05 Oktober 2020.

Baca Juga :  Paguyuban Dukuh Janaloka Gelar Musda ke-3 Pemilihan Pengurus Baru

Dia menambahkan, jika ada pasien yang keadaan nya sedang terdesak, pasien dapat melalui pintu depan. Sehingga tidak harus melewati ruang IGD yang sedang di sterilkan.

“Kalau keadaan pasien mendesak sebenarnya bisa masuk, tapi bukan lewat ruangan IGD tapi lewat pintu depan,” tambahnya.

Dia menjelaskan, pihaknya meminta kejelasan karena dari informasi yang beredar pihak RS Islam tengah melakukan penolakan penerimaan pasien, sehingga menyebabkan anak dari salah seorang wartawan meninggal dunia saat di dalam perjalanan ke rumah sakit lain.

“Cuma saya minta untuk meluruskan saja dari yang bersangkutan supaya ceritanya tidak melebar lebar, kami ingin tahu bener dari yang mengantar waktu itu siapa dan itu ceritanya bagaimana. Itu yang kami minta siapa yang ngomong dokter jaga tidak ada itu yang akan saya luruskan,” ujar dia.

Baca Juga :  Gubernur Arinal Dorong Pengembangan Koperasi dan UMKM Lampung

Dia mengatakan, kemarin sekuriti kami telah menjelaskan. Namun ketika doker yang di panggil datang pasien sudah pergi.

“Karena kemarin di media sosial itu sekuriti RS Islam (Tirta) ngomong juga. ceritanya begini, jadi waktu masuknya korban saat itu dokter tidak stand by di ruangan namun ada di ruang belakang. Saya tanyakan pada saat dokter keluar pasien itu sudah pergi jadi tidak sempat untuk dilayani,” kata dia.

Saat ditanya kenapa kemarin sempat terjadi bersitegang antara sekuriti dengan yang membewa pasien, dia menjawab tetap ingin meminta jawaban dari yang mengantar.

“Makanya itu saya tetap ingin cari tahu dari mereka, saya ingin tahu dari yang mengantar kenapa mereka marah,” tambahnya.

Dia menjelaskan, kapasitas dari Haidir yang mengaku sebagai wartawan dan juga karyawan di RS Islam.

“Untuk Haidir itu sebenarnya bertugas di UGD, tugasnya sebagai pengantar orang sakit dia pegawai di rumah sakit Islam. Kalau sebagai wartawan saya tidak tahu,” ujar dia.

Diketahui, keluarga korban tenggelam di saluran irigasi rawasari menyesalkan penolakan penanganan CPR (cardiopulmonary resuscitation) oleh Rumah Sakit (RS) Islam Metro.

Baca Juga :  Gubernur Arinal Lepas Kontingen Lampung untuk Mengikuti Lomba Byarr Indonesia

Abid Bisara, orangtua korban tenggelam ZHD (10) menceritakan, putrinya meninggal dunia dalam perjalanan setelah pihak RS Islam Metro menolak penanganan CPR. Korban diketahui tenggelam saat bermain bersama temannya N di saluran irigasi rawasari sekitar pukul 15.00 WIB.

“Anak saya masih bernafas dan mengalami kejang saat berhasil ditolong warga membawanya ke IGD RS Islam. Itu mas Iqbal, warga Yosorejo, yang mengangkat anak saya dari saluran irigasi,” bebernya yang merupakan wartawan jejamo, Minggu, 04 Oktober 2020.

Setelah sempat bersitegang, akhirnya warga membawa korban ke RSUD Ahmad Yani. Namun naas, korban meninggal dunia dalam perjalanan. “Sudah enggak ada. Saya minta memastikan dokter RSUD Ahmad Yani. Mereka bilang sudah dicek berkali-kali, sudah enggak ada,” ujar dia.

Pihaknya menyayangkan sikap RS Islam yang seolah menyampingkan rasa kemanusiaan. “Saya minta penjelasan dari RS Islam, kenapa mereka menolak pertolongan kepada putri saya, dimana hati nurani mereka,” kata dia. (Rls/Dh)

Facebook Comments