Puluhan Hektar Sawah di Dusun Pangkah Terendam Banjir

  • Whatsapp

Pemalang – Sebanyak 30 – 50 hektar sawah di Dusun Pangkah Desa Kendaldoyong Kecamatan Petarukan terendam banjir. Sawah yang ditanami padi itu sebagian terlepas karena arus air yang deras, sebagian lagi busuk, karena terendam air cukup lama.

Kepala Desa Kendaldoyong Kecamatan Petarukan Badrun menyatakan, selama Januari, banjir sudah terjadi tiga kali. Banjir diakibatkan karena meluapnya Sungai Jamuran, dimana sungai tersebut melintasi Desa Kendaldoyong termasuk di areal persawahan. “Banjir terjadi di sebelah barat jembatan MTs hingga ke perbatasan Desa Klareyan, depan balaidesa ke selatan hingga melewati kandang ayam,” Selasa (19/1/2021).

Badrun mengatakan, akibat banjir tersebut, antara 30 -50 hektar sawah yang saat ini ditanami padi berumur antara 30 – 40 hari terendam sehingga mengakibatkan tanaman padi rusak dan busuk dan petani terpaksa melakukan tanam ulang. “Pascabanjir pertama dilakukan tanam ulang, kedau dibiarkan saja,” kata dia.

Baca Juga :  Bupati Pemalang Ambil Sumpah Direktur Keuangan dan Teknik Perumda Tirta Mulia

Saat banjir ketiga, lanjutnya, merupakan terkecil dibanding banjir pertama dan kedua. Meskipun banyak tanaman padi yang terendam, namun karena sudah agak berumur sehingga akarnya lebih kuat dan petani tidak melakukan tanam ulang. “Sudah cukup kuat, disamping itu banjirnya kecil,” terangnya.

Menurutnya, masalah banjir sudah rutin terjadi utamanya di sepanjang aliran Sungai Jamuran akibat sungai tidak bisa menampung air cukup banyak. Selain Kendaldoyong, desa yang dilalui Sungai Jamuran seperti Kalirandu, Temuireng, Kendaldoyong dan Desa Kandang Kecamatan Comal juga ikut terdampak banjir. “Masalahnya karena sungai semakin menyempit dan dangkal,” tandas Badrun.

Upaya yang dilakukan, masih kata Badrun, desa-desa yang terlintasi Sungai Jamuran sudah melakukan rembug untuk mengajukan proposal baik ke provinsi maupun Tegal agar bisa mengupayakan melakukan normalisasi sungai tersebut sehingga manakala terjadi hujan dan debit air tinggi tidak sampai meluap ke persawahan milik para petani. “Tapi musyawarah itu mentah dan sampai sekarang belum ada kelanjutannya,” pungkasnya (Tris/Rid)

Facebook Comments