PSBB Setengah Hati, Rakyat Indonesia jadi Galau

  • Whatsapp

PSBB atau karena om Lockdown kurang lebih memiliki esensi yang sama meskipun, Pembatasan Sosial Berskala besar (PSBB) lebih bersifat karantina lokal namun penerapannya tidak jauh berbeda dengan Lockdown suatu wilayah atau negara

PSBB atau Lockdown sekalipun belum dapat menjamin Covid 19 akan menjauh dari bumi Pertiwi ini bila kondisi mentalitas masyarakat Indonesia yang belum sepenuhnya menyadari bahwa betapa pentingnya mematuhi dan mentaati Protokol Kesehatan.

Bukan hanya untuk diri sendiri tapi demi Anak, Isteri dan keluarga se-isi rumah, orang lain, lingkungan sekitar dan, bukan menjadi bagian orang yang menularkan atau yang rentan tertular karena sering mengabaikan anjuran Pemerintah dalam melaksanakan protokol kesehatan.

Protokol kesehatan bukan untuk ditentang atau diperdebatkan tapi untuk dituruti, protokol kesehatan bukan juga hanya untuk diri sendiri, anak, isteri dan keluarga, kedisiplinan menjalankannya akan ada banyak jiwa manusia yang terselamatkan.

Beragama dan atau “agama ditengah wabah Covid 19 bukan solusi untuk memutus mata-rantai Covid 19 sebab, beragama tapi cenderung menentang/melawan pemerintah, berperilaku buruk, hidup tak berpadanan dengan ajaran agama, iri hati, dengkih, sirik dan sering melakukan perbuatan menyimpang, apakah layak disebut beragama ?

Agama hanyalah sarana bukan menyelamatkan, melainkan hanya terletak pada ketaatan menjalankan ajaran agama dan selalu berperilaku baik, itu, yang disebut beragama bukan sebaliknya menjadi alat pembenaran dengan melakukan tindakan atau perbuatan yang bertentangan dengan norma agama, sektarianisme sempit hanya akan menjadikan bangsa ini jatuh terpuruk apalagi ditengah-tengah Wabah Pandemi Covid 19.

Sejatinya agama menjadi sumber motivasi dan inspirasi untuk berbuat kebaikan dan menularkannya kepada orang lain tanpa melihat asal-usul, perbuatan baik adalah tindakan benar, sehingga tidak ada kebaikan yang di palsukan dan tidak ada kebenaran yang dimanipulir untuk kepentingan tertentu.

Agama sejatinya menjadi sarana ampuh dalam memutus mata-rantai penularan Covid 19 asalkan para penganutnya benar-benar menjadi orang baik dalam segenap perbuatannya dan menjadi orang benar dalam segenap ucapan dengan kata lain, orang benar selalu berbuat baik dan orang baik selalu berkata benar.

Tidak ada definisi lain terhadap dua penggal kata sarat makna tanpa diplintir menjadi sebuah kepalsuan sebab kebaikan adalah cerminan ketulusan, berbuat baik tapi tidak tulus disebut kepentingan sehingga jika semua pihak mau berbuat baik tanpa kepalsuan maka wabah pandemi akan menjauh dengan sendirinya.

Mulut pemerintah sepertinya mulai berbusa, menyampaikan sejuta asa untuk sebuah bangsa yang yang katanya bijaksana tapi cenderung tak beradab dan tak beretika, sejuta himbauan dilayangkan pemerintah tapi tak bergeming sebaliknya, sejuta protes ditebar sementara PSSB berulang-ulang kali diterapkan diakui banyak yang sembuh tapi, tak sedikit pula yang tertular Covid 19.

Ada apa dengan PSBB, benarkah kata orang “PSBB, setengah-setengah hati, inkonsistensi, ambivalen, cenderung karet dan berstandart ganda, yang lain diabaikan dan cenderung diberi pengecualian sementara golongan agama tertentu sangat taat melakukan anjuran pemerintah dalam melaksanakan protokol kesehatan tanpa menentang pemerintah.

“PSBB setengah-setengah hati hanya akan menjadikan bangsa ini “, “Ekuador kedua, dan itu sangat mungkin terjadi jika “histeria agama, yang didengungkan sejumlah kelompok dengan segenap argumentasinya yang menganggap keyakinannya yang paling benar dari yang lainnya sehingga mengabaikan protokol kesehatan.

Jika pemahaman tersebut tidak segera diluruskan dengan memberi pengertian tentang bagaimana menjalankan ajaran agama yang benar dipastikan, bakal menjadi wadah atau sarana penularan masal sebagaimana yang terjadi disejumlah daerah karena “Sholat berjamaah,

Anjuran pemerintah ditepis, dan bukan sebuah keharusan untuk dipatuhi, pemahaman agama yang “keliru, dikedepankan hanya untuk alasan pembenaran dalam memahami sebuah ajaran yang terkadang “dangkal dan sempit, termasuk “fanatisme agama, yang kadung berlebihan maka, “Ekuador kedua, akan benar-benar terjadi di bangsa ini.

“Kalau pun ada Pengecualian dari pemerintah, itu hanya sebatas pada kelompok “bisnis yang bergerak dan menyiapkan kebutuhan pokok sehari-hari, termasuk semua pabrikan yang memproduksi bahan pangan, dan sektor perhubungan yang mengangkut peralatan medis, pebisnis, pejabat dan tamu negara ada dalam pengecualian tersebut.

“Mudik pun dilonggarkan, terlihat pemerintah mendua hati dalam menegakan aturan, disatu pihak tegas, sementara disisi lain segan bertindak seperti “menjilat air liur sendiri, dan mengenyampingkan aturan yang dikeluarkanya sendiri. Bila pemerintah masih saja terus bersikap seperti ini, bukan tidak mungkin tragedi kemanusiaan yang maha dasyat terjadi di bangsa ini.

Dan Indonesia mungkin saja saat ini tengah menuju ambang kehancuran akibat wabah pandemi Covid 19 yang terus mewabah dan pada akhirnya Indonesia Colaps, bangkrut…..krut…..krut, “Indonesia, tinggal kenangan dari sejarah kelam masa lalu.

Penulis: Johny Lalonsang, Ketua DPC AWPI Manado Sulut

Facebook Comments