Perkebunan Melati di 5 Desa Pesisir Semakin Berkurang

  • Whatsapp
Lahan perkebunan melati di 5 desa pesisir pantai wilayah Kecamatan Ulujami semakin sedikit akibat tanaman melati banyak yang mati. Foto: Trisnanto

Pemalang – Lahan perkebunan melati di 5 desa pesisir pantai wilayah Kecamatan Ulujami semakin sedikit akibat tanaman melati banyak yang mati. Hal itu berakibat semakin berkurangnya suplai bunga melati di wilayah tersebut.

Salah satu pengepul bunga melati asal Desa Bumirejo Kecamatan Ulujami Warsiyan mengatakan, 5 desa penghasil bunga melati yaitu Desa Tasikrejo, Kaliprau, Ketapang, Kertosari dan Desa Mojo, sebagian lahannya kering akibat air laut yang naik ke lahan perkebunan warga. Akibatnya tanaman melati banyak yang mati sehingga petani tidak bisa lagi menghasilkan bunga melati. “Mati semua, kalaupun ada yang agak jauh dari pantai, utupun saat ini belum berbunga,” ujarnya, Selasa (27/4/2021)

Baca Juga :  NgabuburIT di Desa Kandang

Dia menyampaikan, di Desa Mojo, sebagian ada lahan perkebunan melati yang letaknya agak jauh dari pantai. Perkebunan itu sampai sekarang masih rutin memanen bunga melati dan dikirim atau dijual ke pengepul. “Satu-satunya yang masih produktif di Desa Mojo dekat tebing Kali Comal,” kata Warsiyan.

Untuk harga, lanjutnya, meski sedang sulit mendapatkan bunga melati, saat ini masih standar yakni antara Rp. 20 ribu – Rp.25 ribu per kilogram. Melati hasil membeli di petani Mojo itu disortir, selanjutnya dikirim ke Pekalongan untuk pembautan teh. “Saat ini hanya bisa kirim beberapa kilo saja, kalau sedang banyak bisa kwintalan,” terangnya.

Menurutnya, harga bunga melati relatif stabil, namun kalau sedang melimpah harganya bisa turunbdrastis simbah Rp. 10 ribu per kilogram, kalau tinggi paling antara Rp. 30 ribu – Rp.35 ribu perkilogram. “Bisa lebih tinggi lagi, tali itu untuk konsumsi ronce pengantin atau keperluan nyekar saat Idul Fitri,” pungkas Warsiyan. (Tris/Rd)

Facebook Comments