Peristiwa Bahasa “Belum Lurus Kencing”

  • Whatsapp

“Bahasa Tidak Pernah Netral”

BAHASA tidak pernah netral. Ia tidak lahir dari ruang hampa, kosong dan apa adanya. Semua diciptakan manusia dalam rangka untuk menyampaikan sesuatu. Ia memuat emosi, ideologi, kepercayaan, keyakinan dll. Karena itu, kata tidak pernah netral, ia selalu bersifat politis dan ideologis.

Bahasa merupakan alat komunikasi yang di gunakan manusia untuk mengekspresikan atau menyampaikan apa yang dirasakan, di pikirkan dan di alaminya. Bahasa menjadi tanda untuk menunjukan sesuatu (baca : ada makna).

Dalam masyarakat sosial, penggunaan bahasa tidak dapat di reduksi hanya menggunakan analisis murni. Tetapi harus di lihat konteks dan interaksi sosialnya. Dalam konteks ini, bahasa (baca teks) tidak hanya dimaknai sebagai sebuah kalimat yang tersusun dari unsur S-P-O-K semata. Tetapi, dibalik teks senantiasa ada subteks dan konteks yang mengikutinya. Konteks seperti latar, situasi dan kondisi senantiasa menjadi perhatian tersendiri dalam analisis wacana kritis. Sebab hal-hal tersebut senantiasa memengaruhi teks yang muncul kepermukaan.

Baca Juga :  Lapor Oknum Anggota DPRD, PB PMII Beri Apresiasi ke PKC Lampung

Bahasa, dalam analisis wacana kritis merupakan sebuah tempat bertemunya berbagai kepentingan kelompok sehingga terjadi pertarungan wacana di dalamnya. Sehingga bahasa dapat dipandang arena politik, arena pertarungan yang tujuan akhirnya untuk saling memengaruhi, mendominasi, dan menghegemoni. Dalam konteks pertarungan politik atau kekuasaan, bahasa menjadi penting terutama karena bahasa dapat digunakan sebagai instrumen pertarungan politik, baik untuk menaklukkan, menguasai, melawan ataupun mempertahankan kekuasaan.

Sementara itu, dalam ilmu linguistik fungsional, memandang bahwa struktur formal bahasa ditentukan oleh Fungsi-fungsi sosialnya. Kelompok lingustik fungsional melihat hubungan yang saling memengaruhi antara bahasa dan masyarakat sosial. Karena itu, Bahasa yang digunakan manusia atau masyarakat dalam sehari-hari selalu bersifat politis. Karena berkaitan dengan mental, budaya, kultur sosial, politik, keyakinan dan kepercayaan yang menyelimutinya.

Baca Juga :  Lapor Oknum Anggota DPRD, PB PMII Beri Apresiasi ke PKC Lampung

Misalnya ketika seorang berkata “Seorang istri seharusnya merawat rumah dan mendidik anak, serta tidak boleh kerja berlebihan, biarlah itu menjadi tanggung jawab suami.”, ucapan tersebut secara tidak langsung meligitimasi status quo budaya patriarki dalam masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa, teks ataupun wacana tidak pernah berdiri sendiri.

Tak terkecuali apa yang terjadi dalam forum audiensi masa aksi #tolakomnibuslaw di gedung DPRD Provinsi Lampung. Pada kesempatan tersebut, salah seorang anggota DPRD Provinsi Lampung, Yozi Rizal berkata “Jadi Gini… Mungkin Anda Belum Lurus kencing… Saya sudah melakoni apa yang kalian lokoni… Eeee anda masih kecil-kecil”.

Tentunya akan banyak spekulasi yang muncul terkait ucapan tersebut. Salah satunya ialah, apabila Yozi Rizal dengan sadar mengucap kalimat tersebut dalam rangka menunjukan ke-SIAPA-annya (Aktivis 98, pernah demo, melawan orde baru). Maka hal tersebut tentunya tidak elok di sampaikan dalam forum seperti itu.

Baca Juga :  Lapor Oknum Anggota DPRD, PB PMII Beri Apresiasi ke PKC Lampung

Sebab kesan merendahkan dan meremehkan lawan bicara menjadi lebih kental aromanya, tinimbang niat untuk sekadar berbagi pengalaman. Mengatakan bahwa dirinya lebih dulu berjuang dan berbuat untuk bangsa jelas adalah upaya untuk mendominasi, menyerang psikologi massa sekaligus berupaya untuk mengendalikan massa.

Lalu, adakah makna lain dari ucapan tersebut? Tidak menuntup kemungkinan. (Bersambung)

Direktur KLASIKA Lampung (Ahmad Mufid)

Facebook Comments