Meningkatnya Pasien Covid-19 di Tanimbar, Jonias Solmeda: Penanganan yang Buruk adalah Penyebabnya

  • Whatsapp

Masyarakat Kabupaten Kepulauan Tanimbar tiba-tiba di kejutkan dengan melonjaknya jumlah kasus terkonfirmasi Positif COVID-19 Pasca di lakukan kebijakan SWAB MASAL dengan menggunakan metode Polymerase Chain Reaction ( PCR ). Kebijakan yang di ambil oleh Ketua Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Kabupaten Kepulauan Tanimbar tanggal 25-11-2020 ini di prioritaskan khusus kepada ASN, TNI dan POLRI. Pada tanggal 07-12-2020 tercatat jumlah pasien Positif Covid-19 tembus di angka 294 orang, setelah di keluarkannya hasil Swab Tes oleh Balai Theknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit ( BTKL-PP ) Kelas II Ambon. Jumlah ini di prediksikan akan terus meningkat.

Dikabarkan sebelumnya bahwa dari total 294 pasien yang telah terkonfirmasi positif Covid-19 tersebut, hanya ada 2 orang saja yang di Isolasi untuk mendapatkan perawatan intensif di RSUD PP Magretty – Saumlaki, sementara separuh dari jumlah pasien tersebut di Karantina terpusat pada beberapa lokasi karantina, namun sebagian besar menjalani karantina mandiri di rumah masing-masing.

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Propinsi Maluku Kasrul Selang dalam komentarnya yang di muat oleh Harian Rakyat Maluku edisi Kamis 10/12, menyatakan bahwa terdapat 98 pasien Positif Covid-19 di KKT di nyatakan Sembuh setelah di ambil Tes Swab yang ke dua kalinya.

Menanggapi pernyataan Ketua Satgas Propinsi Maluku tersebut, Jonias Solmeda Ketua Lembaga Pengawasan Kebijakan Pemerintah dan Keadilan ( LP – KPK ) Komisi Cabang Kabupaten Kepulauan Tanimbar kepada media ini Sabtu, 12/12 menyampaikan bahwa, “pernyataan pak Kasrul itu terlalu berlebihan dan mengada-ada. Pantauan kami, pasien positif Covid-19 tidak pernah di ambil Swab Tes yang ke dua kalinya untuk memastikan kalau pasien telah sembuh total dari sakitnya. Mereka hanya di Rapid Tes pada hari terakhir masa karantina. Saya ikuti dengan baik skali penyampaian Ketua Satgas Propinsi Maluku dalam setiap edisi pemberitaan media, ” Ujar Jonias.

Baca Juga :  Telur Busuk Ditemukan Dalam Penyaluran BPNT di Desa Sambeng

Lanjut Solmeda, sesungguhnya penanganan pasien Positif Covid-19 di Tanimbar ini sangatlah Amburadul dan memprihatinkan. Keluhan-keluhan yang kami temui di lapangan antara lain :

1. Pasien tidak pernah di berikan surat keterangan resmi dari SATGAS Penanganan COVID-19 KKT terkait hasil Swas tesnya, namun di sampaikan secara lisan serta ada yang mengakses informasi lewat postingan-postingan di media Sosial.

2. Setelah di vonis positif, pasien di biarkan bebas berkeliaran tanpa di Isolasi, tanpa di berikan layanan kesehatan, dan tanpa di awasi oleh petugas medis ataupun tim Satgas penanganan Covid-19 KKT.

3. Pasien Positif COVID-19 di biarkan bergumul sendiri dengan penyakitnya hingga melewati masa inkubasi.

Beberapa orang pasien yang kami konfirmasi mengaku hanya mendapatkan 2 jenis tablet Vitamin C dan Tokovin masing-masing 2 strip sepanjang melakukan karantina.

” Sebagai Sosial Control masyarakat, saya kira membludaknya jumlah pasien Positif COVID-19 di Tanimbar ini mesti menjadi perhatian dan evaluasi serius semua pihak. Kuat Dugaan saya bahwa ada Konspirasi yang terbangun dengan sangat Terstruktur dan Sistematis di sini untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Selain itu, karna melemahnya penanganan dan pengawasan terhadap pasien positif COVID-19, maka menimbulkan kepanikan besar di masyarakat secara luas. Apalagi belakangan ini hasil SWAB TES tidak di publikasikan lagi seperti awalnya, melaikan pasien Positif mendapat informasi secara lisan atau via pesan elektronik pribadi dari pihak Satgas KKT. Hal ini justru sangat berpotensi menimbulkan cluster baru, karna masyarakat tidak di berikan akses informasi agar bisa memproteksi diri ketika berinteraksi langsung dengan pasien,” Sesal Solmeda.

Baca Juga :  Telur Busuk Ditemukan Dalam Penyaluran BPNT di Desa Sambeng

Ada juga kejanggalan sebagaimana yang di beritakan Koran Ambon Ekspres edisi Senin 07-12-2020 bahwa hampir 90% pasien positif Covid-19 di KKT terdiri dari para Tenaga Medis dan Medis lainnya. Kondisi ini kemudian di jadikan alasan untuk menutup sementara operasional RSUD PP Magrety dan Puskesmas Saumlaki sejak tanggal 27-11-2020 hingga tanggal 06-12-2020. Bahkan belakangan ini muncul polemik di kalangan Tenaga Medis bahwa di duga COVID-19 di Tanimbar ini ada hubungannya dengan penyaluran INSENTIF COVID-19. Kabarnya banyak Tenaga Kesehatan yang kecewa karna tidak menerima Insentif tersebut, padahal mereka turut berjuang sebagai garda terdepan memerangi Virus yang mematikan ini.

Menurut Solmeda angka pasien Nakes yang terpapar Covid – 19 sebagaimana penyampaian Ketua Harian Satgas KKT Dr. Edwin Tomasoa tersebut pun di duga sengaja di besar-besarkan. “Kami punya data bahwa dari total 294 pasien positif COVID-19 di Tanimbar, di antaranya sebanyak 22 Orang Tenaga Kesehatan di RSUD PP Magretty, di Puskesmas Saumlaki 26 orang, dan di Puskesmas Lorulun ada 12 orang. Jadi hemat saya sangatlah berlebihan jika Ketua Harian Satgas KKT mempresentasikan dengan jumlah 90%, Apalagi jika karna alasan tersebut mengakibatkan Pelayanan di RSUD PP Magrety dan Puskesmas Saumlaki terpaksa di tutup sementara beberapa waktu lalu, ” Katanya.

Baca Juga :  Telur Busuk Ditemukan Dalam Penyaluran BPNT di Desa Sambeng

Kejanggalan lain sangat nampak pada penyajian Update data jumlah pasien terkonfirmasi yang di sajikan setiap hari oleh SATGAS Propinsi Maluku. Jumlah pasien Positif COVID-19 di Tanimbar sebelum di lakukan Swab Masal. Tercatat pada tanggal 25-11-2020 kasus Positif COVID-19 berjumlah 5 orang. Jumlah ini melaju dengan sangat cepat setiap harinya, hingga pada tanggal 07-12-2020 jumlah pasien positif COVID-19 di Tanimbar ada di angka 294 Pasien. Yang anehnya setelah tanggal 07-12-2020 tidak ada lagi penambahan atau pengurangan angka kasus di Tanimbar. Tiba-tiba saja Update data per tanggal 12-12-2020, jumlah pasien Positif COVID-19 di Tanimbar menurun drastis hingga tersisa 3 ( Tiga ) Orang.

“Saya berharap ke depan SATGAS Penanganan COVID-19 di Tanimbar tidak main-main dengan Wabah yang telah menjadi musuh dunia ini. Jika kemarin hanya ASN, TNI dan POLRI saja yang baru di ambil Tes Swab namun jumlahnya sudah segitu, bisa di bayangkan jika masyarakat secara luas turut di ambil tes swabnya, ” Harapnya.

“Yang berikut, Daerah ini punya Rumah Karantina yang baru di bangun pada Awal bulan September 2020 kemarin dengan menghabiskan anggaran sebesar Rp.2,1 Milyar. Kenapa bangunan tersebut tidak di fungsikan sebagaimana mestinya. Ingat pesan Pak JOKOWI Bahwa Keselamatan Rakyat di tengah COVID-19 ini adalah HUKUM TERTINGGI,” Tutup Solmeda. (RS)

Facebook Comments