Kupatan Kendeng 2020: Asrine Kendeng Nyukupi Kebutuhan Pangan Nusantara

  • Whatsapp

Pangkur :
Kupat tanda ngaku lepat
Mring sesama lan marang Ibu Bumi
Awit saka tindak laku
Ingkang nora utama
Dhatan becik kepara ta sasar susur
Gawe gela marang liyan
Ugo ngklarani Pertiwi

(Ketupat pertanda mengakui kesalahan, kepada sesama sedulur dan kepada Ibu Bumi. Semua karena tingkah laku yang tidak benar dan malah sering melanggar aturan. Membuat kecewa kepada sesama,bahkan menyakiti Ibu Pertiwi)

Corona sampun ngelikna
Larang pangan uga wis amping-amping
Mula enggal cancut
Bebarengan mertobat
Ngawekani sedayanya kanthi nandur
Kendeng bebarengan dirawat
Awit iku kang nyukupi

(Corona telah mengingatkan kepada kita semua. Bahkan langka bahan pangan telah mengancam. Untuk itu mari bersama-sama segera bertobat. Menyikapi dengan cara menanam. Kendeng bersama kita rawat,karena selama ini kendenglah yang mencukupi kebutuhan kita).

Setiap tahunnya, Kami JM-PPK konsisten menyelenggarakan tradisi Kupatan Kendeng. Tradisi ini dilaksanakan sekitar seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri. Kupatan adalah suatu ritual budaya yang berakar dari masyarakat Jawa Tengah khususnya di bagian utara. Kupatan yang berasal dari kata ngaku lepat atau mengaku bersalah menjadi wujud ungkapan permintaan maaf atas ragam bentuk kesalahan.

Bagi masyarakat yang tinggal di Pegunungan Kendeng Utara yang meliputi kabupaten Rembang, Kabupaten Pati, Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Blora. Kupatan Kendeng memberikan pemaknaan khusus pada tradisi kupatan ini. Kupatan Kendeng tidak hanya sebuah pernyataan ngaku lepat kepada sesama manusia, tetapi merupakan wujud permintaan maaf atas kelalaian manusia dalam menjaga alam. Kupatan Kendeng juga menjadi momentum untuk penguatan soliditas warga untuk selalu menjaga kelestarian alam, khususnya wilayah Pegunungan Kendeng.

Baca Juga :  Belum Berhenti PMII Kembali Gruduk DPRD Lampung

Kupatan Kendeng tahun ini yang mengambil tema besar tentang Pegunungan Kendeng dan Ketahanan Pangan Nasional dilakukan dalam kondisi yang cukup berbeda. Tradisi Kupatan Kendeng kali ini digelar di tengah wabah Covid-19. Tradisi Kupatan Kendeng kali ini digelar di tengah wabah Covid-19. Kupatan Kendeng dilakukan dengan mematuhi protokol kesehatan serta didukung dengan ruang partisipasi virtual agar tetap dapat mengakomodir publik yang tidak dapat hadir secara langsung.

Kupatan Kendeng diisi dengan sejumlah rangkaian kegiatan. “Temon Banyu Beras” menjadi kegiatan pembuka (27/05). Temon Banyu Beras adalah sebuah prosesi mempertemukan banyu atau air yang berasal dari mata air di Pegunungan Kendeng dengan beras yang dipanen di pegunungan yang sama. Prosesi ini merupakan wujud syukur atas karunia alam berupa sumber air dan tanah yang subur yang memberikan panen yang menghidupi warga. Prosesi ini dilakukan di masing-masing daerah (Pati, Grobogan, Blora dan Rembang) dengan diiringi lantunan tembang.

Baca Juga :  Pasca Laporkan Yozi Rizal, PMII Lampung Akan Gelar Konsolidasi Akbar

Ritual “Dono Weweh Kupat dan Lepet” menjadi kegiatan selanjutnya (28/05). Ritual ini dilakukan dengan menyusun ketupat dan lepet dalam bentuk gunungan sebagai simbol Pegunungan Kendeng. Ketupat dan lepet yang telah disusun selanjutnya dibagikan ke warga sekitar sebagai perwujudan bahwa kelestarian Pegunungan Kendeng mampu untuk mencukupi kebutuhan pangan.

Rangkaian kegiatan Kupatan Kendeng dilanjutkan dengan sesi “Jagongan Online/ Webinar” (28/05). Sejumlah pembicara dari beragam kalangan baik akademisi, pegiat lingkungan, tokoh agama dan tokoh budaya, jurnalis, menyoroti tema besar tentang peran penting Pegunungan Kendeng dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional.

Di masa pandemic Covid-19 ini, memberikan kita pelajaraan bahwa ketidakpastian atas situasi ini jika terjadi dalam jangka yang panjang akan berdampak krisis pangan masyarakat. Pada kondisi ini, petani lantas menjadi ujung tombak penting bagi negara dalam membangun ketahanan pangan di masa krisis.

Pegunungan Kendeng merupakan kawasan karst dengan banyak ditemukan sumber mata air parenial dengan debit bervariasi dan gua aktif yang tersebar memiliki potensi cadangan air di masa yang akan datang. Lebih dari 300.000 hektar lahan pertanian yang ada di Peg.Kendeng yang meliputi Rembang, Blora, Grobogan dan Pati menggantungkan produksinya dari sumber mata air yang berada di Pegunungan Kendeng. Dimana Kawasan ini sedang menghadapi ancaman dari perubahan lahan yang terjadi akibat pertambangan. Menjaga Kawasan karst Kendeng berarti mendukung pertanian adaptif dalam menuju ketangguhan dalam memperkuat negara untuk menjaga ketahanan pangan di masa krisis di masa yang akan datang.

Baca Juga :  Dilaporkan Ke Polda, Yozi Rizal Siap Tunggu Panggilan

Di momentum Kupatan Kendeng dan adanya Covid 19 ini, Kami JM-PPK mengajak dulur-dulur menghentikan pengrusakkan Pegunungan Kendeng dalam bentuk apapun termasuk penggundulan hutan, pengolahan tanah yang salah dengan menggunakan Herbisida, pertisida berlebihan, dan juga tambang yang dilakukan oleh industri semen maupun lainnya.

Dengan dasar hasil KLHS dan produksi semen yang sudah over produksi lebih 30 juta ton/tahun dan ditambah lagi jasa lingkungan diluasan 293 Ha, manfaat ekonomi yang diberikan kawasan CAT WATUPUTIH setiap tahun mencapai Rp 3.273.710.000.000. Maka hitungan ini tidak sebanding dengan hasil pertambangan yang hanya terus banyak menimbulkan bencana dan kerugian negara. Faktanya para pemilik tambang adalah orang yang tidak kekurangan pangan. Disaat pandemi Covid-19, kebutuhan panganlah yang paling serius harus diutamakan.

Salam Kendeng
Lestari !!!

Facebook Comments