Kronologi Penembakan Yang di Lakukan Handi Saputra Alias Ko Ahan Terhadap Perahu Nelayan

  • Whatsapp
foto ilustrasi

Bandarlampung–Kronologi kejadian Penembakan kapal nelayan yang dilakukan oleh Handy Saputra alias Ko Ahan di seputaran Pulau Condong Laut, Way Ratai terungkap jelas setelah mewawancarai berbagai sumber, sabtu (12-09-2020).

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Narasumber, kronologi awal terjadinya penembakan perahu nelayan pancing bernama DI (26) yang diduga di lakukan oleh Handi Saputra alias Ko Ahan (55) yang terjadi pada tanggal 23 Juli 2020, di sekitar Pulau Condong, Way Ratai Provinsi Lampung, karena korban (pelapor) merasa ketakutan akibat kejadian penembakan oleh Ko Ahan (terlapor) maka korban baru berani melaporkan kepada pihak kepolisian pada tanggal 28 Agustus 2020 dengan nomor laporan STTLP/B-/1269/VIII/2020/LPG/SPKT Polda Lampung.

“DI (Pelapor) ini memancing bersama temannya di sekitar Pulau Condong Laut, lalu selang beberapa saat, mereka didatangi oleh orang yang menggunakan speed boat yang diduga itu adalah Ko Ahan dengan membawa senjata api dan mengusir mereka, karena kebetulan Ahan juga memiliki Keramba Jaring Apung di perairan Pulau Condong Laut itu, mungkin karena panik dan gugup mesin kapal motor mereka saat itu sulit untuk di hidupkan.

Baca Juga : 

Awalnya penembak tadi menembaki menggunakan pistol ke arah udara dan ke laut. Selanjutnya karena peluru pistol tadi habis, dia menembaki lagi menggunakan senjata Laras panjang dari jarak sekitar 3 meter ke arah perahu, dan akhirnya setelah mesin perahu mereka bisa dihidupkan, DI dan teman nya pun pergi meninggalkan lokasi penembakan itu. ” ungkap narasumber. kamis (10-09-2020).

Berbagai desakan menyikapi aksi koboi penembakan kapal nelayan diduga dilakukan Handy Saputra alias Ko Ahan pemilik salah satu pulau Condong Laut di peraian pantai Way Ratai kabupaten Pesawaran beberapa waktu lalu.

Akademisi fakultas hukum Ginda Ansori WK meminta penegak hukum segera menangkap dan memproses hukum pelaku penembakan kapal nelaya, serta memperketan izin penggunaan senjata api.

Baca Juga :  Tinjau Sejumlah Jalan Provinsi, Pemprov Lampung Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berjalan Baik

Ginda mengatakan, sangat mendukung proses hukum yang ditangani direktorat Polairud Polda Lampung, terkait dugan kasus penembakan kapal nelayan diduga dilakukan Handy Saputra alias Ko Ahan pemilik salah satu pulau di peraian pantai Way Ratai kabupaten Pesawaran. Mengingat perbuatan pelaku telah menyalahgunakan senjata api di tengah masyarakat telah melanggar hukum, dan pelakunya dapat dijerat dengan UU Darurat no 12 tahun 1951 tentang penggunaan senjata api. Untuk itu kepolisian bersikap tegas terhadap kasus penyalahgunaan senjata api tersebut agar tidak terus berulang.

”Semestinya penegak hukum secepatnya memproses hukum dan menangkap palaku penembakan kapal nelayan, karena perbuatan pelaku menyalahgunakan senjata api ditengah masyarakat sudah melanggar UU Darurat no 12 tahun 1951 tentang senjata api,” kata Ginda Ansori kepada wartawan, Kamis (10/9/2020) kemarin.
Ginda menjelaskan, meski pelaku bernaung di pengurus Karakatau Shooting Club binaan Perbakin Lampung, namun dalam pengunaan senjata api ada ketentuan yang harus dipatuhi. Mengingat untuk mendapati dan menggunakan senjata api tentutnya melalui tahapan seleksi tes kesehatan jasmani dan rohani.

Baca Juga :  Pengacara Juanda Basri Akui inisiatif Perdamaian Dari Dirinya

”Tidak semudah itu memiliki, menyimpan dan menggunakan senjata api, tentunya ada persyaratan melalui tes kesehatan, tes psikologi, sehingga tidak serta merta menggunakan senjata api, tentunya ada tempatnya,” ungkapnya.

Ginda mengharapkan, aparat kepolisian untuk memperketat perizinan kepemilikan dan diminta untuk melakukan tes psikologi kepada setiap orang yang diberi izin memiliki senjata api, serta melakukan pengawasan terhadap masyarakat yang memiliki senjata api. Apalagi dengan banyaknya penyalahgunaan yang terjadi.

“Pemilik senjata api harus dipastikan kondisi psikologisnya stabil. Untuk kasus ini, kepolisian harus menyelidiki sampai tuntas, harus menerapkan hukum progesif, dan pelakunya harus dihukum sesuai aturan perundang-undangan yang berlaku. Kasus seperti ini jangan sampai terulang kembali, jangan sampai masyarakat Lampung mengambil langkah di luar kendali mengingat pelakunya merupakan warga keturunan,” ungkapnya. (red).

Facebook Comments