Investigasi BALAK: Dente ‘Texas’ Teladas

  • Whatsapp
Barisan Anak Lampung Analitik Keadilan (BALAK) melalui Yuridis Mahendra alias Idris Abung. Ist

Sebuah Laporan Investigasi dari Barisan Anak Lampung Analitik Keadilan (BALAK)

PENGUNGKAPAN kasus perzinahan dan protistusi anak di bawah umur yang melibatkan terduga tunggal Kakam Mahabang Denteteladas, EM, makin menarik untuk diikuti. Kabar terbaru, Barisan Anak Lampung Analitik Keadilan (BALAK) baru saja menyelesaikan investigasinya di Dente Teladas, Tulangbawang. Begini temuannya:

BALAK menemukan keberadaan usaha prostistusi berkedok rumah karaoke di sana. Ada kamar asmara di dalamnya. Pengunjung bisa memesan PSK, bahkan tersedia pemuas di bawah umur. Tinggal telepon saja.

Ada miras dan narkoba juga yang dipasok dari daerah Pasiran (Bratasena) dan Kampung Sungai Nibung.

“Parah pokoknya, sudah kayak Texas. Dente Teladas sudah darurat moral. Perlu keseriusan dari semua pihak untuk menjadikan kampung itu sebagai “kampung tobat,” kata Idris Abung, koordinator BALAK.

Dari investigasi itu, BALAK juga memperoleh keterangan bahwa, eks kepala kampung Mahabang, EM, adalah orang kaya di kampung itu. BALAK memperoleh informasi EM adalah ‘orang kuat’ dan berprilaku buruk.

EM, sejak tersangkut kasus cabul, kini tidak lagi jadi kepala kampung Mahabang, posisinya di Pj-kan kepada salah seorang carik desa.

Celakanya, BALAK menerima pula informasi seputar lika-liku EM hingga berhasil mendapatkan penangguhan penahanan dari polisi dengan dengan menggunakan kekayaanya.

“EM itu kaya. Saking kayanya dia sering berkata, “Banyak uang tapi bingung gak ada kebutuhan,” kata Idris.

Sayangnya, lanjut Idris Abung, pihaknya tak cukup banyak mendapatkan informasi dari kepolisian, termasuk dari EM sendiri.

“Sulit ditemui. Apalagi keberadaan EM tak ada lagi di kampung itu. Dia sudah ngacir. Ada yang bilang dia di Jakarta, di Serang, di Medan, di Kerawang, dan di Tanggamus,” jelas Idris.

Sesuai aturan, jelas Idris, ‘menghilangnya’ EM jelas melanggar aturan dan syarat penangguhan penahanan. Sebab, bisa saja EM melarikan diri atau menghilangkan alat bukti. “Yang paling mengerikan, dia bisa saja mengulagi perbuatannya,” jelas Abung.

Investigasi yang dilakukan BALAK, menurut Idris, bertujuan untuk membuat kasus ini menjadi terang benderang. Sekaligus menyelamatkan muka kepolisian dari tuduhan negatif dari masyarakat yang mengatakan bahwa pihak kepolisian telah menerima suap dari EM.

“Tuduhan itu, tentu belum tentu benar. Itu sebabnya kami mendesak kepolisian setempat segera menangkap kembali EM,” tutup Idris Abung.

Terkait sinyalemen itu, Polsek Dente Teladas melalui Kanitreskrim memberikan keterangan bahwa benar telah menerima laporan kasus tersebut, namun kantor Polsek tidak ada unit PPA maka dilimpahkan ke Polres Tulangbawang.

“Mengenai informasi adanya uang suap dari EM itu tidak benar. Kami tidak menerima uang apa pun dari EM. Lalu mengenai alat bukti, bila Polres Tulangbawang membutuhkan kami siap,” ujarnya.

Untuk diketahui Polsek Denteteladas saat ini membawahi dua kecamatan yakni Dente Teladas dan Gedung Meneng.

Polsek ini miliki 21 personel. Jadi bisa dibayangkan betapa kesulitannya Polsek ini untuk menekan angka tindak kriminalitas di daerah hukum yang menjadi tanggungjawabnya. (HAJ)

Facebook Comments