FAO Edukasi Mahasiswa Cegah Resistensi Antimikroba

  • Whatsapp

BANDARLAMPUNG- FAO (Food Agriculture Organzation) bekerja sama dengan Universitas Lampung dan Dirjen PKH (Peternakan dan Kesehatan Hewan) edukasi mahasiswa tentang pentingnya meminimalisasi penggunaan antibiotik.

“Resistensi antimikroba merupakan isu kompleks, bukan hanya isu kesehatan saja, melainkan jadi isu ekonomi, budaya, hingga kesejahteraan masyarakat,” kata Perwakilan Direktur Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan, Direktur Kesehatan masyarakat Veteriner, Syamsul Ma’ Arif, di Bandar Lampung, Sabtu (23/11).

Penggunaan antibiotik berhubungan secara langsung dengan kehidupan manusia hingga pemerintah mencoba mengedukasi masyarakat untuk menggunakan antibiotik secara cerdas dan bertanggungjawab.

Menurutnya, tanggung jawab menanggulangi AMR (Antimicrobial Resistance) tak hanya jadi tanggung jawab pemerintah namun juga perlu peran serta seluruh pihak termasuk mahasiswa.

Baca Juga :  Pengurus Pobsi Bandar Lampung Masa Bhakti 2021-2025 Segera dikukuhkan

Hal senada juga dikatakan Chief Technical Adviser FAO, Luuk Schoonman. “AMR (Antimicrobial Resistance) akan menjadi salah satu pembunuh manusia terbesar pada tahun 2025, sehingga perlu adanya penggunaan antibiotik yang bijak dan bertanggungjawab.”

Menurutnya, untuk meningkatkan kesadaran akan penggunaan antibiotik secara bijak, FAO yang bekerjasama dengan pemerintah mengadakan berbagai sosialisasi dan edukasi, salah satunya kepada mahasiswa.

Edukasi mengenai penggunaan antibiotik secara bertanggungjawab dan bijaksana juga merupakan salah satu bentuk implementasi kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat melalui badan USAID.

“Tahun ini menandai kerja sama Amerika Serikat dan Indonesia ke 70 tahun, USAID ikut berperan menuntaskan ancaman global AMR (Antimicrobial Resistance) secara tuntas terutama di Indonesia, melalui mengedukasi kepada mahasiswa,” ujar Direktur Kantor Keuangan USAID, Ravindral Suaris.

Baca Juga :  Ratusan Kilogram Narkotika Berhasil Diungkap Polda Lampung Dalam Kurun Waktu 9 Bulan

Menurutnya, universitas dipilih karena institusi pendidikan merupakan mitra penting dalam mengendalikan AMR dan mahasiswa bertanggungjawab moral dalam masyarakat untuk menanggulangi.

“Saat ini banyak orang mengalami penyakit yang tak dapat diobati karena adanya resistensi antibiotik hingga perlu peran serta semua aktor, terutama institusi pendidikan sebagai penyampai pesan,” katanya. (ant)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.