Di Pringsewu, Kusen Sekolah dari Kayu Racuk

  • Whatsapp

PRINGSEWU – Buruknya hasil pekerjaan rehab sekolah SD dan SMP yang kini ramai jadi perbincangan publik di Pringsewu berawal dari buruknya perencanaan dan pengawasan yang lemah di Dinas Pendidikan kabupaten itu.

Berdasarkan penelusuran ulang yang dilakukan media ini, banyak sekali menemukan penyimpangan yang dilakukan oleh perusahaan pelaksana. Umumnya pelaksana proyek tidak menggunakan material sesuai spek.

Seperti pembagunan rehab ruang kelas di SMPN 1 Sukoharjo, SMPN 1 Pardasuka, SMPN 1 Pagelaran, dan SMPN 2 Pagelaran yang dilaksanakan oleh CV Rijani Alam Pratama dengan nilai kontrak Rp4,660 miliar.

Dari cek dan ricek tim media ini mendapati penggunaan kayu kusen dan daun jendela dari kayu berkualitas rendah, yakni kayu racuk.

Besi cor yang digunakan juga tidak sesuai spek. Tidak berstandar SNI dan besi cor pada tiang hanya menggunakan besi kecil, 8 inci.

Pengunaan material yang tidak sesuai spek berpotensi memperpendek umur bangunan karena mudah rusak.

Beberapa waktu lalu. media ini memperoleh info bahwa pemasangan rangka baja di SMPN 1 Sukoharjo pernah ambruk.

Kabar ambruknya kerangka baja di SMPN 1 Sukoharjo dibenarkan oleh salah satu awak media yang saat itu berada di lokasi.

“Iya bro, tapi sudah di benerin lagi. Saya duga pihak rekanan tidak mengunakan rangka baja yang tidak standar (SNI),” ucapnya kepada media ini, Minggu (9/1/22) yang minta indetitasnya dirahasiakan.

Ramainya pemberitaan terkait buruknya pelaksanaan pembangunan rehab di SD dan SMP yang bersumber Dana alokasi khusus (DAK) tahun 2021 di Kabupaten Pringsewu ditanggapi sinis oleh salah seorang pejabat setingkat kepala bidang di Diknas setempat.

Kabid itu berinisial HYN. Lewat sambungan telepon, HYN sempat bicara, namun terkesan enggan menjawab untuk menjelaskan sejumlah hal yang ditanyakan awak media ini.

HYN ditanyakan soal dugaan lemahnya pengawasan pada pelaksanaan pembangunan rehab sekolah yang beberapa kali headline di media ini.

Namun, HYN tidak berusaha menjelaskan. Kesempatan untuk memberikan keterangan malah digunakan HYN untuk berkata, “Datang aja lu ke kantor, saya tunggu!”

Perkataan itu ia sampaikan dengan nada keras. Dan itu terus diulang-ulang ketika media ini meminta keterangan lain masih terkait proyek itu.

“Saya tunggu lu di kantor,” kata saat diminta klarifikasinya terkait adanya tudingan pembangunan rehab sekolah di Pringsewu tahun 2021 asal jadi.

Baca Juga :  Kasus KONI Berlanjut, 5 Nama Dipanggil Penyidik Kejati Lampung

Perkataan yang sama juga diulanginya saat media ini meminta klarifikasinya terkait dugaan proyek diborongkan oleh pemenang lelang ke pihak lain.

“Pihak ketiga itu yang memborong, juga yang mengerjakan, Setahu kami tidak ada yang di borongkan. Saya tunggu kamu ya di kantor!” katanya lagi.(tim-her)

Sebelumnya media ini sudah memperoleh keterangan terkait pelaksanaan proyek rehab yang dituding pihak sekolah asal jadi itu ke Kadisdik Pringsewu, Hipni pada Rabu (22/12-2021).

Saat itu Kadisdik Hipni menerima menerima kedatangan Tim Haluan Lampung di ruang kerjanya dengan baik. Wawancara dengan Hipni berlangsung hangat, bahkan tanpa adanya nada tinggi, kontras sekali dengan cara Kabid HYN saat menanggapi pertanyaan wartawan.

Sayangnya, tak banyak informasi yang dapat digali terutama bersifat teknis dari kadisdik Hipni yang pada saat itu mengaku tidak banyak tahu.

Keterangan sedikit melegakan yang diperoleh dari Hipni adalah ia mengatakan akan mengecek dan mencari tahu kebenaran soal dugaan pengerjaan proyek rebab sekolah yang oleh media ini diberitakan sebagai sebagai proyek ugal-ugalan.

Hipni, saat memberikan klarifikasinya, menjelaskan bahwa pekerjaan proyek rehap di sekolah-sekolah SD-SMP yang sudah rampung mencapai 70 persen.
Sisanya, 30 persen belum selesai.

Saat memberikan keterangannya, Hipni menyebutkan bahwa seluruh proyek rehab sekolah di Pringsewu diawasi oleh BPK, Inspektorat provinsi dan kabupaten.

Ia berharap, nantinya para pihak yang terkait pengawasan ikut menelisi, meneliti semua tuduhan terkait pelaksanaan proyek rehab yang diduga dikerjakan ugal-ugalan tersebut.

Kepala Dinas Pendidikan Pringsewu itu mengaku tidak begitu memahami terkait dua hal, yang sebenarnya wajib dipahaminya sebagai seorang kepala dinas.

Pertama, Hipni mengaku tidak terlalu paham seluk-beluk teknis dan kualitas proyek.

“Saya tidak terlalu paham mengenai SOP proyek, mana bangunan yang bagus mana pula yang kurang berkualitas. Kan sudah ada konsultannya yang lebih paham. Nanti setelah selesai kan ada pengecekan di lapangan oleh dinas pendidikan,” tandasnya.

Kedua, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Pringsewu itu mengaku tidak banyak tahu soal sistem lelang di kantor yang dipimpinnya.

Di satu sisi, ia memposisikan dirinya tidak pernah melakukan pengondisian atau mengarahkan pemenang proyek untuk perusahaan tertentu.

Baca Juga :  Kejati Lampung Kembali Panggil 4 Saksi Dugaan Korupsi Dana Hibah KONI

Namun di sisi lain, ia ambigu.

“Saya tak pernah lakukan pengondisian, gak tau kalau orang lain, saya tidak tau?” kilahnya.

Sebagai kepala kantor, tegasnya, ia telah memberikan arahan agar lelang dilakukan sesuai dengan aturan yang ada.

“Siapapun bisa ikut lelang, sesuai aturan. Saya berani mengucap seperti ini karena saya pribadi tidak pernah melakukan pengondisian apapun tetapi untuk teman-teman yang lain saya tidak tahu,” ucapnya lagi.

Lebih lanjut Hipni meluruskan bahwa jumlah DAK 2021 untuk SD yang dikelola kantornya sebesar Rp21 miliar untuk rehab 30 sekolah dasar.

Sedangkan untuk SMP, Hipni mengaku tak ingat.

“Untuk SD hanya 30 sekolah dan SMP ada 4 sekolah, sementara untuk rincian pengalokasian ada 3 sekolah yang membuat ruang guru, sedangkan yang lainnya saya lupa,” papar Hipni.

Pada bagian akhir wawancara, Hipni kembali menegaskan akan melakukan pengecekan ke lapangan.

Ia menjanjikan, dengan adanya pemberitaan tak sedap itu, ia mempertimbangkan akan melalukukan evaluasi dan mengusulkan agar pengerjaan rehab sekolah dilakukan secara swakelola atai tidak menggunakan jasa pihak ke tiga.

Sebelumnya media ini memberitakan bahwa proyek rehab 71 sekolah SD dan SMP di Pringsewu diduga dilaksanakan ‘koboy-koboyan’ oleh sejumlah pemborong nakal.

Proyek rehab tidak hanya mengabaikan spek dan bermutu buruk, lebih parah lagi, ternyata ada beberapa perusahaan (pemenang tender) yang menjual/mengalihkan tanggungjawabnya ke perusahaan lain.

Jelas ini adalah pelanggaran berat dan berpotensi merugikan negara dan ‘user’ dalam hal ini pihak sekolah.

Terbukti, sejumlah kepala sekolah yang dihubungi awak media ini kesal dan kecewa.

Dari kepala sekolah media ini memperoleh banyak keterangan betapa ‘kurang ajarnya’ pada pelaksana proyek rehab itu.

“Itu…lihat sendiri, mereka kerja asal jadi. Semua material yang digunakan tak sesuai spek. Kami juga dapat informasi, proyek rehab itu dikerjakan perusahaan lain, bukan dikerjakan oleh pemenang tender. Apa mereka kira kami bodoh, kami tahu kok kalau kerjaannya ngawur,” kata seorang kepala sekolah yang memohon namanya tidak ditulis,” Selasa (21/12).

Dari keterangan beberapa kepala sekolah, media ini mencoba melakukan pendalaman hingga memperoleh keterangan bahwa proyek yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus ( DAK) dari Kementerian Pendidikan ini tidak dikerjakan langsung oleh pihak sekolah (swakelola) tetapi di tender lelangkan melalui Unit Layanan Pengadaan Barang dan Jasa (ULPBJ) oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Pringsewu.

Baca Juga :  Kasus KONI Berlanjut, 5 Nama Dipanggil Penyidik Kejati Lampung

Dari pendalaman, media juga memperoleh data bahwa pemenang tender lelang DAK tahun 2021, baik SD maupun SMP dan SD adalah CV Dua Puluh Delapan, CV Opening Putra Mandiri, CV Empat Satu Engeniring, dan CV Sapo Neduh Contruction.

Lalu ada proyek rehab ruang kelas SMP dimenangkan oleh CVRinjani Alam Pratama, dan pembagunan ruang guru dimenangkan oleh CV Racaz Group.

Dari cek dan ricek, tim media ini di lapangan mendapati pelaksanaan proyek memang ibarat jauh panggang dari pada api alias tidak sesuai harapan pihak sekolah.

Cek dan ricek dilakukan di dua tempat, yakni di SDN 1 Wayngison, Kecamatan Pagelaran. Rehab di sekolah ini sesuai pengumuman pemenang tender dikerjakan oleh CV Dua Puluh Lapan dengan nilai kontrak sebesar Rp459 juta, konsultan pengawas CV Denmas.

Di lokasi, media ini menemukan hal yang tak beres terkait kualitas bagunan yang diduga menggunakan material tidak sesuai juklak-juknis, seperti pengunaan besi hingga dan penggunaan material bangunan lainya yang tidak berkualitas.

Seorang kepala sekolah lain menambahkan ketidakberesan proyek rebab tersebut. Ia blak-blakan menjelaskan bahwa tiang cor yang dibangun di sekolahnya dibuat asal jadi. Selain itu, kayu yang digunakan juga berkualitas buruk.

Dari penelusuran di lokasi kedua, yakni di SDN 1 Bulu Rejo, juga ditemukan ketidakberesan yang sama.

Ada proyek rehab tiga ruang kelas di sekolah itu senilai Rp617 juta. Pem0emenang tender CV Dua Puluh Delapan. Proyek rehab di sekolah ini diduga dikerjakan oleh pihak ketiga lagi (diborongkan)

Diketahui, Pemkab Pringsewu pada 2021 memperoleh Dana Alokasi Khusus (DAK) dari Kementerian Pendidikan (APBN) sebesar Rp185 miliar untuk rehab 71 sekolah SD dan SMP.

Belum ada keterangan, apakah Disdik setempat sudah memperoleh infomasi tentang ketidakberesan ini yang berpotensi berkembang masuk ke ranah hukum

Hingga berita ini diterbitkan Kabid Dikdas Dinas Pendidikan Pringsewu belum memberikan keterangan karena masih berada di luar. (tim)

Pos terkait