Banyak Merenggut Nyawa, Pemkot Bandarlampung Diminta Evaluasi Sistem Drainase dan Sungai

  • Whatsapp
Irvan Tri Mustari Direktur Eksekutif Walhi Lampung saat di temu Haluan Lampung di Kantor Walhi KAMIS (20/05/2021). Foto: Sella Nur Hidayah

Bandarlampung – Sepanjang Tahun 2020 hingga saat ini, tercatat setidaknya ada 6 (enam) kasus kematian anak, akibat terperosok ke dalam gorong-gorong dan Sungai di kota Bandar Lampung.
Pada Periode Pemerintahan Walikota Eva Dwiana yang baru berjalan 4 bulan, yang diketahui mempunyai progam unggulan sungai dan drainase, sudah menyumbangkan 2 (dua) kasus kematian anak yang hanyut terbawa derasnya arus gorong-gorong.

Hal tersebut menjadi sorotan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Eksekutif Daerah Lampung.

Walhi menilai Drainase atau ‘Gorong-gorong’ di Kota Bandar Lampung tidak aman bagi anak-anak.
Direktur Eksekutif Walhi, Irfan Tri Mustari mengatakan kejadian tersebut harus menjadi catatan serius oleh pemerintah kota Bandar Lampung Karena Tingkat Kuantitas bertambahnya jumlah kasus dengan permasalahan tersebut cukup masif.
“Pertama Mengapa sangat banyak terjadi kasus yang sama, apakah kota Bandar Lampung masih pantas disebut kota Layak Anak. Jika Drainase banyak menghilangkan nyawa anak-anak pada saat musim penghujan” Tandasnya saat ditemui haluanlampung di Kantor Walhi pada Kamis (20/05/2021).

Pasalnya Walhi juga menyebut Drainase yang tertutup banyak di jalan protokol, sedangkan di jalan protokol minim pemukiman.

Baca Juga :  "Tepus Manteb Sembodo" Suharyana siap Majukan Tepus

Pemerintah Kota Harus segera melakukan evaluasi terhadap sistem drainase dan sungai. ” evaluasi perlu dilakukan pada sistem drainase, selain memperhatikan kriteria dan daya tampung, pemkot juga harus memperhatikan aspek keselamatan masyarakatnya, semuanya sudah terpenuhi atau belum, agar tidak terjadi kejadian serupa” Kata Irfan.

Walhi juga menilai Kegiatan Bersih-bersih Sungai yang dilakukan Walikota Bandar Lampung Belum efektif mengatasi pokok-pokok persoalan yang ada di Kota Bandar Lampung.

“Justru Keselamatan warga itu juga wajib diperhatikan, Bersih-bersih sungai itu hanya persoalan hilir sedangkan permasalahan sampah dan banjir di kota itu dari hulu sampai ke hilir. Jika tidak dibentuk tim-tim seperti tim orange yang ada di kota lain itu tidak akan efektif, karena sampah datangnya setiap hari sedangkan bersih bersih hanya beberapa bulan sekali tidak pasti” Tutupnya.

Dalam pantauan Haluan Lampung juga masih banyak drainase dekat sungai yang masih terbuka, seperti di Jalan Pangeran Antasari , Jalan Nusa Jaya Bahkan Gorong-gorong banyak yang ambrol dan terdapat Jembatan tanpa pembatas.

Pinggiran-pinggiran Sungai padat pemukiman masyarakat kota Bandar Lampung juga tidak mempunyai pembatas, hal tersebut yang membuat tingkat keamanan rendah dan dikhawatirkan akan kembali merenggut korban.

Baca Juga :  Lewat Audensi DPC AWPI Dan DPRD Kota Bekasi Siap Jalin Sinergitas

Untuk diketahui data kasus kematian tersebut Pertama, seorang anak bernama Akbar (10) terseret arus sungai, di talud yang terletak di Gang Anyelir, Kampung Baru, Kelurahan Kupang Teba, Kecamatan telukbetung Utara, pada Selasa sore, (7/01/2020), sekitar pukul 16.00. Akbar pun ditemukan tak bernyawa keesokan harinya, di Peraiaran Panjang, dekat PT Daya Radar Utama.

Kedua, seorang bocah bernama M Rohim (8),  warga yang hilang terseret derasnya saluran air, pada Selasa (14/04/2020) sore saat bermain hujan, di Jalan Soekarno Hatta, (bypass) dekat Supermarket Indo Grosir. Almarhum ditemukan keesokan harinya sekitar 3 km dari tempatnya pertama kali terjatuh.

Ketiga, bocah Bernama Fachrija (6), warga Jalan Seokarno Hatta, Kampung Bayar Atas, Campang Raya, Sukabumi, terjatuh di irigasi di Jalan Alimudin Umar Gang Rawan, Campang Raya, Sukabumi. Ia ditemukan meninggal di hari yang sama, Kamis (30/04/2020), saat bermain hujan sekitar 50 meter dari tempat dia terjatuh.

Keempat, bocah bernama Rei Arijo Pramata, (10), warga Jalan Metru, Kelurahan Tanjung Raya, Kecamatan Kedamaian, Bandar Lampung, diduga hanyut terbawa arus sungai yang tak jauh dari kediamannya, Senin 1 Juni 2020, sekitar 14.30 WIB. Bocah tersebut akhirnya ditemukan dalam keadaan meninggal, pada Selasa, 2 Juni 2020 di aliran sungai curup Sawer, Kecamatan Kedamaian.

Baca Juga :  Lewat Audensi DPC AWPI Dan DPRD Kota Bekasi Siap Jalin Sinergitas

Kelima, Seorang bocah berusia 5 tahun, Khairunisa Lubna Srayiya, terseret arus parit di Jalan Bukit Cendana, Perum Bunga Panorama, Langkapura Baru, Kecamatan Langkapura, sekitar pukul 15.30 WIB, Senin, 22 Maret 2021. Peristiwa itu terjadi saat hujan deras dan korban baru pulang dari tempat mengaji dengan mengenakan mantel hujan warna hijau. Korban ditemukan meninggal pada Selasa, 23 Maret 2021 sekitar pukul 15.00 WIB.

Terbaru adalah Muhammad Arvansa Shakel (4) akhirnya membuahkan hasil. Jasad Shakel ditemukan warga sekitar Pantai Kunyit, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Bumi Waras, Bandar Lampung. Jasad ditemukan sekitar lima meter dari bibir pantai, Selasa (18/5/2021) pukul 05.30 WIB.

Shakel dinyatakan hilang pada Minggu (15/5/2021) pukul 13.30 WIB setelah terseret air di siring Gang Bukit 1 Pasar Tugu, Tanjungkarang Timur. (Sela)

Facebook Comments