Opini  

Bayangkara JAGRAK DAMAR: Pagelaran Wayang Kulit Ki Sudarto Lakon WAHYU KETENTREMAN

Purwosari Pasuruan, 1 Juli 2025. Pas HARI BAYANGKARA.

Hari Bayangkara Ke 79 Tahun, Selasa Wage, Pasaran Hari Selasa berangka 3 dan Pasaran Wage berangka 4; jadi 3+4=7. 7 Tujuh Tujuan dari Membaca 79 Tahun Hari Bayangkara adalah membaca 7 Tujuan 9 Sembilan; Sanga; Songo; mengarah Ke Songo; 9 Lubang Kosong Kosongo; Menutup 9 Lubang Utama Tubuh Manusia; untuk memperoleh Keheningan Badan dan Batin; untuk memasuki Awal Jaman Kalasubo dan Awal Bulan SURO Jawa; Bulan Petunjuk bagi Orang Jowo; WONG JOWO percaya dan yakin pada Sang Pencipta di awal Tahun Baru Suro Jawa, ada Petunjuk untuk diri dan hidup kehidupannya; pada setiap Tahun dan perubahan Jamannya; dari Jaman Kalabendu ke Jaman BARU Kolosubo; Kala Kamuliyan/Kesejahteraan; Jaman Baru Kemuliyan/ Kesejahteraan.

Untuk bisa lebih memahami dan mengerti Bangsa Nusantara Indonesia memiliki Warisan Budaya Leluhurnya yaitu Pagelaran Wayang Kulit Ringgit Purwo Jawa Klasik; yang menjadi lambang perlambang; simbol dan kunci rahasia ilmu Pengetahuan_Pengetahuan Ilmu; Sains dan Kaweruh Nyata Ghoib_Ghoib Nyata; perihal kearifan dan kebijaksanaan dalam membaca dan mengerti maksud tujuan hidup kehidupan; dalam Lakon Laku Lampah Skenario Hidup Rancangan Agung Tuhan di setiap Tahun dan Jamannya; terutama di dalam upaya secara sinergis, holistik, komprehensip; wadah landasan jagrak; badan, pikiran, perasaan, emosi, akal, jiwa, sukma, nyawa, arwah dan ruh Kita Bangsa Manusia masing masing, secara pribadi serentak global universal semesta raya.

Kita membutuhkan waktu dan massa kesadaran yang bertumbuh dan berkembang seiring berjalannya; pertemuan demi pertemuan, dalam Saresehan Terbuka dari Hati Ke Hati; TIDAK ADA GURU dan MURID, semua saling berbagi wawasan dan pengalaman unik otentik masing masing, bergantian bertanya dan bercerita, tertawa dan terharu, dimana dan kemana; semakin lama semakin PADANG; TERANG; JELAS; CLEAR; tidak ada yang NO CLEAR; satu demi satu semua semakin memahami dan mengerti; bahwa “WAHYU KETENTREMAN” sudah turun temurun di Dusun Damar Desa Sekar MOJO bagi diri, keluarga, dusun desa, kecamatan, kota hingga Indonesia Nusantara Dunia Global Universal adaNya.

Tidak ada yang kebetulan, menurut Ruh Anda Gondo Kuswanto 29/6/2025; di Tahun 2025 ini; Nusantara Indonesia ada diposisi penyeimbang dunia, kehidupan cara hidup dengan keanekaragamannya menjadi rujukan bagi manusia sedunia.

Pagelaran Wayang Kulit Ringgit Purwo Jawa Klasik, Intisari Pancasila, Pancasilakrama dan Bhinneka Tunggal Ika yang sudah Kita miliki; dapat menjadi Landasan Jagrak Jaman PERADABAN BARU DUNIA BARU; untuk Nusantara Indonesia Rujukan Bagi Manusia Sedunia.

Landasan Jagrak Pertama : (Buah Sarasehan Pertama)

Pagelaran Wayang Kulit Ringgit Purwo Jawa Klasik Ki Sudarto Dalang Jawa Timuran besutan Almarhum Ki Dalang Sulaiman; dengan Lakon “WAHYU KETENTREMAN” di dekat Punden Dusun Damar; Petilasan JAGRAK DAMAR Mbok Dewi Pertima; Kelurahan Sekar Mojo Kecamatan Purwosari Kabupaten Pasuruan Jawa Timur; Malam Sabtu Minggu; 1 SURO 1959 Jawa; 27-28 Juni 2025.

Landasan Jagrak Kedua:
(Buah Sarasehan Kedua)

Sejarah Napak Tilas Petilasan Leluhur JAGRAK DAMAR; Mbok Dewi Pertima memperoleh DAMAR ( Baca : Damar berarti Lampu; Cahaya; Terang; Pepadang; Petunjuk; Hidayah; Arah Tujuan Perjalanan; bersama Alam dari Kehendak Restu Sang Sumber Hidup Kehidupan Semua Makhluk di Alam Semesta Raya ini. red.); Perjalanan Beliau mendapat DAMAR tersebut dari Sumber Mata Air Jempinang/Jampinang Lereng Lembah Gunung Arjuno Jawa Timur; di bawa sampai ke Lokasi Dusun Damar di taruh di sana untuk mendapat petunjuk selanjutnya dan DAMAR diletakkan berikutnya di dusun DAMAR JATI Desa Karangrejo Kecamatan Purwosari Pasuruan.

Berangkat dari Laku Lampah Skenario Perjalanan tersebut Kita membutuhkan bukti yang Ketiga.

Landasan Jagrak Ketiga : (Buah Sarasehan Ketiga)

Kita semakin paham memahami dan mengerti maksud tujuan dan kehendakNya dari Seloka dan Simbol dari Bayang; Bayangkara; Bayangan; Gerak “OBAHE” Wayang; Pewayangan dengan digerakkan & digelar dalam Pagelaran Wayang oleh Ki Dalang ( 2 orang) bersama Sang Dalang Hidup Kehidupan Kita semua makhluk ini.

Semua jenjang dan tahapan itu hanya bisa disadari dan menguat menjadi massa kesadaran sendiri, sesudah dialami dan ditemui serta didapatkan lewat LAKU LAMPAH Jalan yang dijalani dan diperjalankanNya; sesudah Kita ketemu dengan Para Tua di sana; seperti Mbah Jani; Mbah Laspan; Mbah Dumiati; Mbah Sulton saat bincang guyub rukun di Bangunan yang penuh rasa KETENTREMAN di Lokasi Punden Petilasan Jagrak Damar Mbok Dewi Pertima; bersama para warga dan pemuda Dusun Damar Desa Sekar MOJO beserta warga seputaran Lereng Lembah Gunung Arjuno Jawa Timur.

Landasan Jagrak Keempat :
(Buah Saresehan Keempat)

Dalam Pagelaran Wayang Kulit tersebut; wadah dan tempat turun temurunnya WAHYU DAMAR ; “WAHYU KETENTREMAN” pada Sosok Bayangan Para Putro Pendowo; yaitu Puntodewo; Bima Seno; Arjuno dan Nakulo Sadewa; yang sejatinya merupakan Gambaran Sosok Bayangan Manusia Itu sendiri; Bima Bumi BAMA; BAdan MAnusia, Wadah Tubuh Manusia (Baca : Huruf Hidup a,i,u,o dan e sejatinya bisa berganti karena hidup menghidupi bisa berubah sesuai konteks dan situasi kondisi yang nyata ghoib_ghoib nyata; berbasis Kaidah Aksara Hidup; Aksoro Gesang JAWA; Hanacaraka; HONOCOROKO, red.); sedangkan Punto Dewo adalah Totalitas Komando Massa Kesadaran Pikiran, Akal dan Rasa Batin Suci Kita Manusia; Arjuno lambang Pelanangan; Alat Kelamin Laki Laki; karena ini Sosok Bayangan Laki Laki; sedangkan di Perempuan yang Wadonan; Alat Kelamin Perempuan; selanjutnya; Nakula Sadewa adalah bagian tubuh manusia yang berada di sebelah Kanan dan Kiri.

Demikian lah proses memahami dan mengerti Pagelaran Wayang Kulit Ringgit Purwo Jawa Klasik yang digelar dengan 2 Dalang; yang muda dalam proses tukul bersemilah dalang muda baru; Ki Dalang Argo Setya (25 Tahun); bersama Senior Gurunya Ki Sudarto ( 62 Tahun) Dalang Jawa Timuran, Purwosari Pasuruan Jawa Timur.

Hal tersebut baru bisa terurai dan terkuak saat Kita bersama sama duduk musyawarah ber SARESEHAN TIDAK ADA GURU dan MURID; semua bersedia ikhlas menerima saling asah asuh asih untuk mendapat maksud tujuan kehendak Nya; Sang Sumber GESANG Hidup Berkehidupan atas Petunjuk Damar; Sinar demi Sinar; TERANG Demi Terang; Cahaya demi Cahaya; Khusus nya PetunjukNya dalam Cakrawala Ilmu Pengetahuan_Pengetahuan Pengetahuan Ilmu; Sains dan Kaweruh “WAHYU KATENTREMAN” yang sudah digelar 27-28/6/2025; Malam 1 Suro 1959 Jawa tersebut.

Itulah Kajian BAYANGKARA; Bayangnya Ukoro; Perkara dari Bayangan Maksud, Tujuan dan KehendakNya; yang di Hari BAYANGKARA 79 Tahun ini; Kita temukan, pahami dan mengerti sejauh ini.

Bumi satu untuk semua makhluknya yang hidup dan bertumbuh berkembang; DUNIA BARU, DAMAI & TENTREM sejak Malam; 1 Suro 1959 Jawa dan seterusnya sampai wujud nyata ghoib_ghoib nyata.

Penulis : Guntur Bisowarno ( Ketua BSN Bamboo Spirit Nusantara)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *