Yogyakarta – Dalam rangka menyambut hari tani, SPOER menyelenggarakan pentas masik dilaksanakan di halaman gedung kuliah terpadu Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta pada hari Minggu, 24 September 2023 pukul 19.00 Wib.Kegiatan tersebut juga memperingati 25 Tahun SPOER.
“Mari bersama kita gaungkan solidaritas untuk Wadas dan rakyat tertindas lainnya”.
SPOER adalah Grup musik asal Yogyakarta ini dihadapkan pada dua pertanyaan: musik yang
diproduksi SPOER diciptakan untuk melayani kekuasaan atau justru digunakan sebagai alat menyatakan sikap dan keberpihakan bagi perlawanan rakyat.
Tentu, SPOER menjawab dengan tegas posisi keberpihakannya, yakni sebagai seni perlawanan untuk rakyat, artinya, seperempat abad SPOER telah berproses secara kreatif memusikan suara rakyat tertindas dengan keyakinan yang tak pernah pudar.
Dalam bermusik, SPOER fokus mengangkat isu-isu yang tumbuh dalam realitas kehidupan buruh, petani, mahasiswa, dan rakyat miskin kota. SPOER tak hanya sekadar menciptakan lagu dan bermusik saja. Lebih dari itu, SPOER turut melakukan kerja – kerja pengorganisasian rakyat dan melakukan advokasi.
Pada periode awal berdiri, SPOER mengorganisir anak jalanan di Yogyakarta. Mereka mengupayakan anak-anak yang hidup di jalanan mendapatkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) agar bisa mengakses fasilitas publik dan tidak diperlakukan secara sewenang-wenang oleh aparat keamanan.
Secara aktif SPOER melibatkan diri di dalam Tim Advokasi Arus Bawah alias
TABAH. Tak hanya itu, dalam konteks perlawanan warga Wadas, SPOER juga terlibat dalam solidaritas perlawanan menolak rencana pertambangan batu andesit.
Begitulah seni untuk rakyat yang digagas oleh SPOER; sebuah proses kreatif
bermusik yang dijadikan sebagai “Seni Perlawanan Oleh Rakyat”. Berdasarkan laku hidup berkesenian yang telah dilakoni oleh SPOER selama 25 tahun alias seperempat abad itu, bisa dilihat bahwa SPOER bukanlah bagian terpisah dari rakyat.Mereka telah menjadi satu dalam denyut nadi buruh, petani, mahasiswa, dan rakyat miskin kota.Dengan demikian, bertepatan dengan momentum Hari Tani Nasional ini, kami jadikan sebagai memori kolektif untuk terus mengingat bahwa 25 Reformasi masih menghasilkan seabrek persoalan yang menindas kelas buruh, petani, mahasiswa, dan rakyat miskin kota. Oleh karena itu, SPOER berencana mempersembahkan sebuah
pertunjukan sekaligus peringatan 25 Tahun lahirnya SPOER, dengan tajuk
“Memperingati 25 Tahun Seni Perlawanan Oleh Rakyat dan Hari Tani Nasional:
1/4 Abad SPOER untuk Wadas”. Kenapa tema ini diambil, karena peringatan ini
Jalan terhormat bernama “Seni untuk Rakyat” telah digunakan SPOER menjadi
sebuah wacana “Seni Perlawanan Oleh Rakyat”. Bermula pada medio 1993-an,
individu-individu yang mendirikan SPOER telah mengorganisir diri. Tepat pada Desember 1998, SPOER dideklarasikan dan dikumandangkan di STIE YKPN. Satu momentum yang menandakan SPOER turut terlibat dalam solidaritas perlawanan. Pada awal berdiri, SPOER adalah bagian dari Komunitas Pengamen Progresif alias KKP.
SPOER mengambil peran sebagai media agitasi dan propaganda melalui jalur musik sebagai kampanye bahwa ada masalah Wadas yang sampai hari ini belum selesai.
Petani Wadas telah mengolah hasil bumi Wadas untuk kelangsungan hidup dan
keberlanjutan generasi petani. Namun mereka terancam proyek penambangan untuk material bendungan. SPOER sebagai bagian dari solidaritas Wadas menganggap kasus tersebut adalah salah satu cerminan persoalan petani hari ini.
Dalam memperingati 25 Tahun SPOER dan Reformasi, maka SPOER mengadakan acara talk show dan panggung musik yang dilangsungkan pada hari Minggu 24 September 2023 di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Talk show bertajuk “Perampasan Ruang Hidup dengan Dalih Pembangunan
Berkelanjutan” menghadirkan pembicara kunci Dr. Abdur Rozaki, S.Ag., M.Si selaku
Wakil Rektor 3 Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga dengan narasumber adalah Dandhy Dwi Laksono dari tim ekspedisi Indonesia Baru, Gempadewa, Ahmad Ashov Birry dari Trend Asia, dan Sana Ullaili dari Solidaritas Perempuan Kinasih. Talk show dilaksanakan di gedung Convention Hall Universitas Islam Negeri Yogyakarta pada
pukul 12.45 Wib. Talk show tersebut sangat cocok dibicarakan di lingkungan kampus, karena universitas adalah representasi dari pabrik ide, tempat terjadinya dialektika gagasan, sehingga memicu pikiran-pikiran baru.
Perampasan ruang hidup menjadi tema talk show karena perampasan ruang hidup dilakukan oleh penguasa dengan dalih pembangunan berkelanjutan. Pembangunan bersekala besar kerap kali mengorbankan warga. Mereka digusur dari tanahnya, misalnya Wadas untuk pembangunan Bendungan Bener di Purworejo, Jawa Tengah. Bendungan Bener dibangun salah satu fungsinya untuk menyuplai kebutuhan air di
kawasan Yogyakarta International Airport (YIA). Sedangkan Bandara YIA sendiri
dibangun dengan rentetan proses perampasan ruang hidup petani Temon, Kulon Progo. Bandara tersebut dibangun di atas tanah permukiman dan lahan pertanian warga.
Pasca talk show, akan dilaksanakan kampanye solidaritas untuk Wadas yang
dilakukan oleh Pit Dhuwur Yogyakarta. Mereka bersepeda mengelilingi Yogyakarta pukul 16.00 Wib untuk menyuarakan solidaritas bagi rakyat tertindas. Acara selanjutnya adalah panggung musik peringatan 25 Tahun SPOER dan Reformasi. Terdapat beberapa pengisi panggung musik, seperti Shoppinglist, Buktu, Dendang
Kampungan, dan acara puncak di isi oleh grup SPOER. (Mungkas M)


